Selasa, November 10, 2009

Ulasan Pasar edisi 10 November 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Pergerakan indeks BISNIS-27 di awal pekan ini cukup fluktuatif dan berhasil ditutup positif di level 222,16. Indeks BISNIS-27 menguat 0,62% dari posisi penutupan akhir pekan kemarin. Aksi beli selektif terlihat sepanjang perdagangan Senin kemarin.

Volume transaksi indeks BISNIS-27 sebesar 212,186,900 lembar saham atau berada dalam tren melemah sejak pekan lalu, yang sekaligus menunjukkan investor bersikap hati-hati dalam bertransaksi. Namun, kapitalisasi pasar semakin tinggi menjadi sebesar Rp1.359 triliun. Kenaikan nilai kapitalisasi ini ditopang oleh naiknya saham Astra Internasional Tbk (ASII) dan United Tractors Tbk (UNTR) yang sekaligus sebagai saham-saham leading movers indeks BISNIS-27 Senin kemarin.

Beberapa saham lainnya penopang indeks adalah Bank Mandiri Tbk (BMRI), Unilever Tbk (UNVR), Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP), Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Selain itu, indeks juga mendapatkan tekanan profit taking atas saham-saham yang menjadi penopang indeks sepekan kemarin seperti Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan Gudang Garam Tbk (GGRM).

Penguatan indeks didominasi oleh saham grup Astra, saham ASII naik 4,12% ke level Rp31.600 dan saham UNTR yang naik 4,67% ke level Rp15.700. Proyeksi naiknya permintaan alat berat untuk kebutuhan pertambangan di tahun 2010 menjadi pemicu naiknya harga saham UNTR.

Secara teknikal, saham UNTR memiliki peluang bullish dalam jangka pendek hingga akhir pekan ini disebabkan indeks RSI (Relative Strenght Inde x) UNTR masih berkisar di level 55 atau berposisi beli. Kondisi yang sama juga dialami oleh saham ASII.

Penguatan indeks juga masih dipengaruhi oleh nilai Rupiah yang stabil di level Rp9.500/US$ memperkuat proyeksi kestabilan daya beli masyarakat untuk produk otomotif di tahun 2010.

Pada pekan ini, indeks berpeluang kembali menguat ditopang oleh harga emas yang melonjak menembus level US$1.100 per ounce sebagai dampak dari kebijakan The Fed yang mempertahankan kebijakan suku bunga rendah, menekan dolar AS terhadap sejumlah mata uang kuat dunia. Investor memilih emas, selain minyak dunia, sebagai komoditas lindung nilai atau hedging.

Senin, November 09, 2009

Ulasan Pasar Sepekan
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Published on 9th November 2009

Selama sepekan kemarin, indeks BISNIS-27 bergerak dengan tren menguat ditutup naik ke posisi 220,79 pada Jumat kemarin atau menguat 1,55% dibandingkan dengan posisi penutupan sepekan sebelumnya di level 217,42, Jumat (30/10). Selain itu, kenaikan indeks selama sepekan terakhir merupakan pembalikan arah (reversal) dari koreksi indeks BISNIS-27 selama dua pekan berturut-turut sebelumnya.

Di awal pekan indeks ditutup menguat tipis sebesar 0,24%, dan sejak Rabu hingga akhir pekan, indeks menguat 2,84% ke level 220,79. Pergerakan indeks yang cenderung menguat terlihat dari posisi penutupan Rabu, Kamis, dan Jumat yang selalu mendekati level resistance 218 dan pada penutupan akhir pekan, indeks berhasil menembus level tersebut dan mencapai posisi 220. Selama tiga hari tersebut, level support indeks berada di level 215.

Indeks BISNIS-27 hanya sekali ditutup terkoreksi yaitu pada perdagangan Selasa di posisi 214,69 atau satu level dengan posisi terendah perdagangan di hari yang sama yaitu 214,2. Koreksi Indeks BISNIS-27 pada Selasa dipengaruhi pergerakan negatif indeks bursa regional Asia Pasifik seperti Hang Seng, Nikkei-225, dan STI Singapura yang memicu kekhawatiran investor dalam negeri, meskipun di dalam negeri beredar sentimen positif laju inflasi Oktober (yoy) yang masih sangat terkendali atau di bawah perkiraan pemerintah.

Volume perdagangan bergerak melemah sejak awal pekan, tetapi kapitalisasi pasar indeks BISNIS-27 cenderung menguat dan bahkan mencapai nilai tertinggi sejak diluncurkan yaitu Rp1.351 triliun di akhir pekan kemarin. Hal itu menunjukkan ekspektasi investor yang meningkat terhadap harga saham-saham konstituen BISNIS-27 dan di Bursa Efek Indonesia terjadi aksi beli selektif dengan orientasi investasi jangka panjang.

Beberapa saham penopang indeks BISNIS-27 dalam sepekan kemarin di antaranya, saham Gudang Garam Tbk (GGRM) yang naik sebesar 20,63%, Semen Gresik Tbk (SMGR) naik sebesar 8,03%, Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) naik 6,79%, Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 4,93%, Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 3,74%, Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik 3,57%, Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 3,28%, Jasa Marga Tbk (JSMR) naik 2,23%, Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 2,2%, dan Bank Negara Indonesia bk (BBNI) naik 2,16%.

Saham GGRM menjadi pencetak gain tertinggi dalam sepekan kemarin, ditopang kenaikan laba bersih sebesar 64,6% selama sembilan bulan pertama tahun ini. Per 30 September 2009, laba bersih GGRM sebesar Rp2,48 triliun, sedangkan di periode yang sama 2008 sebesar Rp1,5 triliun. Lonjakan laba bersih tersebut ditopang oleh naiknya laba usaha sebesar 54% sebagai imbas keberhasilan GGRM menekan beban pokok penjualannya.

Kenaikan saham-saham perbankan tidak terlepas dari ekspektasi pertumbuhan laba bersih perbankan yang positif pada 2009, ditopang oleh inflasi yang semakin rendah dari level 11,06% pada Desember 2008 ke level 2,57% pada Oktober 2009, BI rate yang bergerak turun sebesar 275 bps ke level 6,5%, posisi rupiah yang menguat 13,2% ke level Rp9.500/US$ serta kenaikan porsi kredit konsumsi masyarakat seiring apresiasi rupiah terhadap dolar AS yang memicu naiknya permintaan kredit masyarakat untuk barang konsumsi.



Ulasan Pasar @Wed, 4th November 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Pada perdagangan hari ketiga pekan ini, indeks BISNIS-27 berhasil rebound ke level 217,41 atau naik 1,26% dari posisi penutupan Selasa sebelumnya yaitu level 214,69.

Saham-saham penopang indeks BISNIS-27 di antaranya adalah saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan saham-saham sektor pertambangan seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM), Adaro Energy Tbk (ADRO), dan Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Sedangkan saham-saham penekan indeks didominasi oleh saham barang konsumsi seperti Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan Gudang Garam Tbk (GGRM) dan saham Astra Internasional Tbk (ASII).

Saham ANTM menjadi saham yang membukukan gain tertinggi dalam portofolio BISNIS-27 yaitu sebesar 8,05% diikuti oleh saham ITMG sebesar 6,31%, saham SMGR sebesar 3,62%, saham ADRO sebesar 3,31%, dan saham TLKM sebesar 2,99%.

Kenaikan harga saham ANTM tidak lepas dari keputusan Pemerintah yang memberikan kewenangan kepada Aneka Tambang Tbk untuk menjadi wakil pemerintah pusat dalam mengakuisisi 14% saham PT Newmont Nusa Tenggara, dan dapat ditambah hingga 31%. Akuisisi tersebut akan menambah cadangan produksi emas dan perak ANTM dan meningkatkan pendapatan usaha.

Secara teknikal, saham ANTM pada penutupan Selasa pekan ini berada di wilayah jenuh jual (oversold) dengan indikator RSI (Relative Strenght Index) berada level 26,19, sehingga perkembangan positif dari program divestasi Newmont Nusa Tenggara tersebut menjadi momentum yang sangat baik bagi kenaikan harga ANTM.

Faktor jenuh jual atau harga murah juga menopang minat beli investor pada saham tambang batu bara seperti ADRO dan ITMG.

Pada hari ini, Bank Indonesia juga memutuskan untuk menahan BI rate di level 6,5% untuk mengantisipasi menguatnya laju inflasi tahu depan meskipun inflasi Oktober (yoy) berada di level 2,83%, atau di bawah target pemerintah yaitu 4%. Rupiah berada dalam kondisi stabil di level Rp9.512/US$. Tren rupiah yang stabil dan ekspektasi menguatnya inflasi dalam negeri menjadikan saham komoditas lebih diminati dibandingkan saham-saham sektor konsumsi.




Ulasan Pasar @Tue, 3rd November 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Penguatan indeks di awal pekan sebesar 0,24% tidak berlanjut pada perdagangan Selasa, indeks BISNIS-27 tertekan cukup dalam sebesar 1,48% ditutup di level 214,69. Aksi jual saham terjadi di tengah penguatan rupiah terhadap dolar AS dan sehari setelah muncul laporan laju inflasi Oktober yang cukup terkendali.

Dari luar negeri, aksi jual dipengaruhi oleh pergerakan indeks bursa regional Asia Pasifik seperti Hang Seng, Nikkei-225, dan STI Singapura. Beberapa indeks regional tersebut melemah karena investor memilih posisi wait and see mengantisipasi laporan data pengangguran di AS untuk Oktober, pada Jumat pekan ini. Pengangguran di AS pada September sebesar 9,8% atau tertinggi dalam 26 tahun terakhir.

Data pengangguran akan menjadi koreksi nilai wajar harga minyak dunia yang saat ini berada di level US$78 hingga US$80 per barel. Kenaikan harga minyak saat ini ditopang oleh rencana penghentian stimulus oleh Pemerintahan Obama secara bertahap yang diasumsikan sebagai mulai pulihnya perekonomian di negara tersebut. Namun, data pengangguran akan menjadi indikator terakhir yang cukup kuat dalam jangka pendek untuk kontinuitas tren penguatan harga minyak tersebut.

Maraknya penerbitan surat hutang oleh sebagian negara maju untuk memulihkan perekonomiannya dapat berdampak negatif bagi kompetisi penentuan imbal hasil psar surat hutang. Imbal hasil cenderung akan meningkat dan menambah beban jangka panjang negara penerbitnya. Di sisi lain akan terjadi tarik-menarik dana antara bursa saham dan pasar surat hutang.

Sentimen positif dari dalam negeri sangat minim saat ini, selain keyakinan investor terhadap pergerakan BI rate yang akan dipertahanakan di level 6,5% seperti saat ini. Tetapi, pergerakan indeks BISNIS-27 berpotensi bergerak positif memasuki akhir tahun apabila laju inflasi dapat tetap terkendali di bawah 4% dan suku bunga kredit perbankan dapat diturunkan lagi, sehingga daya beli domestik meningkat. Selain itu, rupiah yang stabil di kisaran Rp9.400/US$-Rp9.500/US$ akan menjadi stimulus penguatan indeks BISNIS-27 yang ditopang oleh saham-saham infrastruktur, perbankan dan otomotif.

Senin, November 02, 2009

Ulasan Pasar Sepekan edisi 2 November 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Pekan terakhir Oktober menjadi pekan koreksi terbesar bagi indeks BISNIS-27 sejak 22 Juni lalu atau dalam empat bulan terakhir. Indeks BISNIS-27 terkoreksi 3,53% ditutup di level 217,42 setelah pada Kamis sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir yaitu 214,61.

Di awal pekan, indeks mulai terkoreksi tipis sebesar 0,03% yang dipicu oleh koreksi teknis karena harga saham yang overvalued dan dipicu rupiah yang melanjutkan tren pelemahan dari penutupan akhir pekan sebelumnya ke level Rp9.500/US$.

Koreksi indeks secara masiv terjadi pada perdagangan Selasa dan Rabu sebesar 4,11% ke level 214,61 atau merupakan level terendah dalam satu bulan terakhir. Penyebabnya adalah tekanan jual dari saham Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merosot harganya akibat sentimen negatif kewajiban repo induk BUMI yaitu Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang menjaminkan sebagian saham dari seluruh anak perusahaannya termasuk
BUMI. Sentimen negatif tersebut diperparah dengan tingginya biaya modal dari hutang BUMI kepada CIC sebesar US$1,9 miliar yang berbunga 19% berpotensi menekan laba usaha BUMI. Saham BUMI tertekan hingga 12,7% dan membuat investor terpaksa menjual saham-saham lainnya untuk menutup kewajiban dari transaksi marjin saham BUMI.

Akibat aksi jual tersebut, rupiah tertekan 3,54% ke level Rp9.660/US$ dari posisi terkuatnya dua pekan lalu di level Rp9.300/US$ dan menambah kekhawatiran investor asing, sehingga meningkatkan tekanan jual.

Dibandingkan perdagangan awal pekan ketika investor asing membukukan penjualan Rp393 miliar, tekanan jual investor asing terlihat meningkat tajam pada Selasa sebesar Rp769 miliar, Rp1,1triliun pada Rabu dan Rp1,6triliun pada Kamis, atau membukukan penjualan sebesar Rp3,47 triliun dalam tiga hari tersebut, sedangkan pembelian hanya sebesar Rp2,7 triliun di periode yang sama.

Di akhir pekan terjadi pembalikan arah bagi pergerakan indeks BISNIS-27. Investor asing kembali masuk ke bursa dan membukukan pembelian sebesar Rp2,88 triliun serta merealisasi keuntungan jangka pendek dengan menjual sebesar Rp2,38 triliun.

Faktor penopang indeks di antaranya laporan keuangan emiten per September 2009 seperti PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), Telekomunikasi Indonesia Tbk (TBK), Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan anak usaha Astra Internasional Tbk yaitu United Tractors Tbk (UNTR) yang membukukan pertumbuhan laba bersih positif.

Dari luar negeri, minat beli investor asing di akhir pekan didukung laporan GDP Amerika Serikat (AS) untuk kuartal III/2009 yang tumbuh 3,5% (yoy) atau pertumbuhan pertama dalam setahun terakhir sejak krisis likuiditas akhir tahun lalu. Sentimen positif di AS memicu investor pemegang dolar AS untuk melepas dolar mereka sebagai “safe heaven” dan memasuki kawasan emerging market yang memiliki imbal hasil jauh lebih tinggi. Rupiah pun kembali terapresiasi sebesar 1,53% ke posisi Rp9.537/US$.
Ulasan Pasar 29 Oktober 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Perdagangan Kamis ini memberikan indikasi rebound indeks BISNIS-27 memasuki awal November. Di awal sesi I, indeks BISNIS-27 sempat terkoreksi 5% dan tertekan ke level 204,47 yang merupakan level terendah indeks sejak 3 September. Namun, di sesi II perdagangan hingga penutupan indeks berbalik arah dan hanya terkoreksi 0,67% dari posisi penutupan Rabu kemarin.

Indeks BISNIS-27 ditutup di level 214,61 dengan penopang utama di antaranya yaitu saham Astra Internasional Tbk (ASII). Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Aksi beli selektif dengan orientasi investasi jangka panjang mendominasi pergerakan indeks BISNIS-27. Posisi beli asing meningkat 16% menjadi Rp1,07 triliun dari perdagangan Rabu sebelumnya yang sebesar Rp928 miliar.

Saham-saham yang berbalik arah (rebound), merupakan saham-saham yang secara fundamental sangat bagus dan cukup sensitif dengan perkembangan suku bunga serta inflasi dalam negeri. Rupiah yang melemah sebesar 3% pada Oktober ini ke level Rp9.660/US$ menyurutkan minat beli produk impor oleh masyarakat, di sisi lain harga BBM nonsubsidi kembali diturunkan sebesar 1,69%, cukup menjaga daya beli masyarakat dan minat beli terhadap produk otomotif kelas 1.500 cc ke atas.

Koreksi indeks yang terlalu cepat, sebesar 9,25% dalam tiga hari perdagangan hingga sesi I hari ini, menekan harga saham hingga ke posisi beli atau berada dalam posisi oversold. Di sisi lain, koreksi indeks tersebut tidak disebabkan oleh faktor fundamental ekonomi misalnya ketika menjelang krisis likuiditas 2008, namun dipengaruhi oleh faktor cut loss investor dalam dua hari terakhir karena transaksi marjin saham BUMI yang tertekan 12,7% sejak awal pekan ini.

Investor mengkhawatirkan kesanggupan membayar transaksi repo Bakrie & Brothers yang menjamin seluruh saham anak perusahaannya termasuk saham Bumi Resources. Selain itu, faktor hutang dengan CIC sebesar US$1,9 miliar dengan bunga 19% memberikan sentimen negatif bagi saham BUMI karena meningkatkan biaya modal yang akan menekan laba usaha BUMI. Saham BUMI pada penutupan kemarin rebound sebesar 3,12% atau sebesar Rp75 level Rp2.475


Ulasan Pasar 28 Oktober 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Indeks BISNIS-27 kembali terkoreksi semakin turun ke posisi terendahnya dalam sebulan terakhir ke level 216,05 atau turun 2,66% dari level penutupan Selasa sebelumnya. Tekanan indeks disebabkan oleh cut loss investor terhadap transaksi marjin yang memaksa investor untuk menjual paksa saham-sahamnya.

Aksi jual lebih didominasi oleh faktor di dalam Bursa Efek Indonesia, terutama kekhawatiran investor terhadap transaksi repo Bakrie & Brothers yang menjamin seluruh saham anak perusahaannya termasuk saham Bumi Resources yang sekaligus salah satu saham terlikuid dan terfavorit di bursa. Saham BUMI merupakan salah satu saham yang sangat likuid, namun tidak termasuk ke dalam anggota indeks BISNIS-27. Faktor lonjakan biaya modal dari hutang dengan CIC sebesar US$1,9 miliar dengan bunga 19% membuat saham BUMI sangat berisiko.

Harga saham BUMI yang saat ini diperdagangkan overvalued, menyebabkan ketika harganya merosot 13,5% dalam dua hari terakhir, investor harus jual paksa untuk menutup kerugian dari transaksi marjin pada saham BUMI.

Investor pada akhirnya terdorong untuk menjual saham-saham lainnya terutama saham di dalam indeks BISNIS-27 yang sebenarnya memiliki fundamental yang sangat bagus untuk jangka panjang.

Nilai rupiah yang kembali terdepresiasi ke level Rp9.665/US$ menambah tekanan jual oleh investor asing. Rupiah pada penutupan perdagangan hari ini berada di level Rp9.665/US$ atau melemah 3,92% dalam lima hari terakhir perdagangan.

Selasa, Oktober 27, 2009

Ulasan Pasar Selasa 27 Oktober 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Aksi jual berlanjut pada perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (27/10), indeks BISNIS-27 terkoreksi ke level 221,96 atau melemah 1,49%. Koreksi indeks didominasi oleh pelemahan harga saham-saham pertambangan dan energi.

Saham Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melemah 4,1%, saham Timah Tbk (TINS) melemah 3,45%, saham Internasional Nickel Indonesia Tbk (INCO) turun 2,96%, saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 2,94%, dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun 2,74%.

Faktor harga minyak dunia yang bergerak melemah ke bawah level US$80 per barel yaitu US$79 per barel terendah dalam dua pekan terakhir dan diikuti oleh turunnya indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan indeks regional Asia Pasifik, menekan pergerakan indeks BISNIS-27 hingga penutupan perdagangan hari ini.

Koreksi harga minyak dipicu oleh profit taking investor di bursa komoditas minyak yang kekurangan sentiment positif dari perkembangan ekonomi global. Investor saham pun akhirnya mengikuti asumsi tersebut, melepas saham mereka karena sentimen positif perkembangan ekonomi global sangat minim.

Di dalam negeri, aksi jual saham oleh investor asing semakin menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga ke posisi Rp9.530/US$, dan sempat menyentuh level Rp9.560/US$.

Laju inflasi yang terjaga untuk Oktober akan menjadi sentimen positif bagi kenaikan indeks, selain laporan keuangan emiten.


Sehari sebelumnya, aksi jual mewarnai pergerakan indeks BISNIS-27 pada awal pekan ini, dengan diimbangi oleh selective buying pada beberapa saham pertambangan dan emiten pendukung kegiatan pertambangan. Investor asing pun membukukan beli bersih di Bursa Efek Indonesia (BEI), meskipun tergolong kecil hanya sebesar Rp51 miliar.

Indeks BISNIS-27 bergerak ke level 225,31 atau hanya melemah tipis 0,03% dari posisi penutupan akhir pekan kemarin. Saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) bergerak naik cukup signifikan sebesar 3,68% ditopang oleh sentimen positif rencana pemerintah yang akan menurunkan porsi royalti atau Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) batubara berkalori rendah, dari yang selama ini 13,5% per ton menjadi hanya 9% dan 7,5% per ton atau sesuai dengan penjualan PTBA yang sebagian besar merupakan batu bara berkalori rendah yaitu di bawah 5.000 kkal/kg.

Penurunan DHPB penjualan domestik tersebut, akan memberikan stimulus kenaikan volume penjualan PTBA di pasar domestic yang merupakan pangsa pasar utamanya. Sejalan dengan sentimen positif PTBA, saham United Tractors Tbk (UNTR) bergerak naik sebesar 2,2% yang ditopang oleh prospek kinerja PT Pamapersada Nusantara, anak usahanya, untuk menopang penjualan PTBA. Saham Astra Internasional Tbk (ASII) yang merupakan induk usaha dari United Tractors Tbk, bergerak naik 1,38%.

Investor cenderung melakukan aksi beli selektif terhadap saham-saham yang berorientasi penjualan domestik, seperti emiten batu bara PTBA dengan dukungan kebijakan pemerintah baru yang memiliki misi utama pembangunan infrastruktur dan energi untuk mengurangi biaya transaksi ekonomi dalam negeri dan meningkatkan minat investasi asing.

Di sisi lain, tingkat imbal hasil investor berpeluang meningkat karena level BI rate yang akan tertahan di 6,5% hingga akhir tahun dan harga minyak dunia yang belum menampakkan tanda pelemahan dan tetap di kisaran US$80 per barel. Rupiah yang melemah seperti saat ini di level Rp9.450/US$ hingga Rp9.500/US$ menurunkan keuntungan yang diharapkan dari keuntungan selisih kurs, dan penurunan tersebut dibebankan pada kenaikan imbal hasil. Pada akhirnya akan mempersempit ruang kenaikan harga saham, dengan kata lain harga saham saat ini menjadi lebih mahal dibandingkan ketika rupiah masih di level Rp9.300/US$ dua pekan lalu.
Analisis kinerja PTBA semester I-2009

Pergerakan saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) sepanjang semester I tahun ini menunjukkan kinerja yang stabil kembali ke kondisi sebelum krisis likuiditas 2008.

Perkembangan tersebut ditunjukkan dari kinerja sepanjang semester I/2009 di mana harga saham PTBA tercatat naik 68,12%, berbalik arah dari semester II/2008 yang mencatat koreksi sebesar 57,93%. Pertumbuhan harga saham di semester I/2009 jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan semester I/2008 yang sebesar 36,67%.

Kinerja saham PTBA selama semester I/2009 berbanding lurus dengan perkembangan faktor fundamental PTBA. Penjualan PTBA meningkat signifikan sebesar 55,83% yang ditopang oleh penjualan di dalam negeri. Penjualan ekspor pada semester I/2009 turun 20,19% menjadi sebesar Rp1,28 triliun dari sebesar Rp1,6 triliun pada periode yang sama 2008. Di sisi lain, penjualan domestik naik 151,32% menjadi sebesar Rp3,2 triliun dari sebesar Rp1,28 triliun pada periode yang sama 2008.

Penjualan pada pihak hubungan istimewa seperti PT Indonesia Power tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat yaitu sebesar 151,49%, penjualan pada pihak ketiga hanya naik 3,97% termasuk penjualan ekspor.

Pertumbuhan nilai penjualan yang signifikan kepada Indonesia Power disebabkan adanya perubahan harga jual dalam perjanjian berjangka waktu 10 tahun antara PTBA dengan Indonesia Power yang habis masanya pada 31 Desember 2012. Perubahan harga jual ke PT Indonesia Power pada semester I/2009 adalah sebesar Rp884.000,00 per ton atau naik 78,9% dari rata-rata harga jual semester I/2008 yang sebesar Rp494.125,00 per ton. Berdasarkan perjanjian yang ada, harga jual batubara kepada Indonesia Power tetap sebesar Rp884.000,00 per ton hingga 31 Desember 2009.

Harga Pokok Penjualan (COGS) PTBA di semester I/2009 meningkat sebesar 26,06% menjadi Rp1,97 triliun, namun kemampuan menutup biaya overhead dan mencetak laba semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari Gross Profit Marjin pada semester I/2009 yang sebesar 56,25% atau lebih tinggi dari semester I/2008 yang sebesar 45,93%.

Kenaikan COGS tersebut dipengaruhi meningkatnya iuran produksi (royalti) ke pemerintah sebesar 75,36% menjadi sebesar Rp194,3 miliar.

Rasio DER (Debt to Equity Ratio) PTBA di semester I/2009 naik menjadi 47,97% dari 40,93% pada semester I/2008. Keefektifan PTBA dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan profit tercermin dari rasio ROA (return on asset) di semester I/2009 yang naik menjadi 22,55% dari sebesar 16,1% pada semester I/2008. Laba bersih PTBA naik 124,16% menjadi sebesar Rp1,59 triliun. Laba bersih per saham meningkat tajam sebesar 124,35% menjadi sebesar Rp691 per saham.

Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, PTBA menghadapi risiko utama yaitu proses pengangkutan batu bara yang bekerja sama dengan PT Kereta Api (PTKA) dan strategi pemasaran PTBA yang menyangkut masalah pengapalan ke konsumen. Kerjasama dengan PTKA menjadi hal yang sangat penting bagi keberlangsungan kegiatan operasional dan pemasaran hasil produksi yang tepat waktu.

Ketidakpastian yang terkait penerapan Undang-undang Otonomi Daerah dan adanya perubahan UU Pertambangan, menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Di samping itu, masalah potensi perselisihan dengan masyarakat setempat yang mengajukan tambahan kompensasi dan masalah keamanan yang berkaitan dengan kegiatan penambangan liar, menambah deretan tantangan bagi kegiatan operasional PTBA.

Senin, Oktober 26, 2009

Ulasan Pasar Sepekan edisi 26 Oktober 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit


Indeks BISNIS-27 mengalami koreksi mingguannya yang pertama pada pekan kemarin sejak sebulan terakhir dan ditutup di level 225,37 pada perdagangan akhir pekan atau melemah tipis 1,63% dari posisi penutupan Jumat sepekan sebelumnya (16/10) di level 229,11. Pada Oktober ini, indeks juga tercatat mencapai level tertingginya yaitu 230,63 pada 6 Oktober.

Indeks nampaknya akan bergerak kembali menyentuh level 230 dalam sepekan mendatang. Koreksi indeks pekan kemarin lebih disebabkan sentimen sesaat koreksi penguatan rupiah terhadap dolar AS yang telah mencapai level Rp9.300/US$ pada pekan sebelumnya yang sekaligus tertinggi di tahun ini, memicu aksi beli investor asing dan mendongkrak indeks ke level 230,63.

Rupiah terdepresiasi ke level Rp9.500/US$ memicu aksi lepas saham investor asing dalam tiga hari berturut-turut sejak Selasa hingga Kamis dan mengakumulasi koreksi indeks sebesar 3,54% ke level 221,86 pada penutupan Kamis, atau level terendah sejak awal Oktober. Rupiah yang melemah akan menurunkan nilai investasi investor asing para pemegang dolar AS.

Selain faktor depresiasi rupiah, perkembangan harga minyak menjadi perhatian utama investor. Harga minyak melanjutkan tren bullish ke level US$81 per barel meningkatkan ancaman inflasi dalam negeri, terutama untuk harga BBM nonsubsidi. Selain itu, level BI rate yang sulit diturunkan lebih rendah dari posisi sekarang 6,5% membuat imbal hasil yang diharapkan investor semakin besar dan mempersempit ruang kenaikan harga saham. Akibatnya, saham akan semakin sulit memiliki posisi beli yang lebih panjang. Kondisi tersebut yang menyebabkan orientasi investasi di Bursa Efek Indonesia menjadi sangat pendek dan fluktuatif dalam hitungan bulanan.

Indeks berbalik arah di akhir pekan dengan rebound signifikan sebesar 1,58% yang ditopang oleh saham Astra Internasional Tbk (ASII), saham emiten pertambangan dan energi seperti Adaro Energy Tbk (ADRO), dan saham-saham perbankan seperti Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Saham ASII naik 4,15% ditutup di level Rp32.650 per saham dan masih berpotensi naik mencapai level resistance yaitu Rp34.000 per saham, kemudian saham ADRO naik sebesar 6,58%, saham BBNI naik 3,32%, saham BMRI naik 2,73%, saham BBRI naik 2,7%.

Saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam Tbk (PTBA) bergerak naik 2,04% dalam sepekan oleh rencana penurunan Dana Bagi Hasil Produksi untuk batu bara berkalori rendah dan penjualan dalam negeri yang merupakan pangsa pasar utama produksi PTBA. Selain itu, prospek positif penjualan PTBA akan berdampak naiknya pasokan dari PT Pamapersada Nusantara yang merupakan anak usaha dari United Tractors Tbk (UNTR). United Tractors Tbk sendiri merupakan anak usaha dari Astra Internasional Tbk (ASII). Pergerakan harga saham ASII lebih dipengaruhi oleh prospek kinerja anak usahanya di tengah ancaman inflasi yang menekan penjualan kendaraan bermotor terutama roda empat.