Rabu, Juli 09, 2008

Ulasan Pasar 8 Juli 2008

Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Bursa saham kembali tertekan oleh koreksi saham pertambangan dan emiten perkebunan kelapa sawit setelah harga minyak bergerak turun ke level $141 per barel dari level $145 per barel dua hari yang lalu. Koreksi harga minyak memberikan sentimen negatif bagi pasar komoditas CPO di bursa komoditas Malaysia yang kembali ditutup turun -3,3% ke level 3,512 Ringgit setelah sehari sebelumnya juga ditutup turun sebesar -2,4%. Krisis listrik juga menjadi sentimen negatif ke bursa hingga perdagangan kemarin. Indeks harga saham gabungan ditutup melemah 24,85 poin (-1,08%) ke level 2.278,97

Sentimen penurunan harga CPO di pasaran internasional tersebut digunakan investor jangka pendek untuk melepas saham emiten kelapa sawit di bursa efek Indonesia kemarin. Harga saham Astra Agro Lestari ditutup turun Rp950 (-3,45%) ke level Rp26.600 dan harga saham London Sumatera ditutup turun Rp400 (-4,1%) ke level Rp9.350.

Koreksi harga minyak juga memicu aksi jual saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) yang ditutup turun Rp400 (-2,49%) ke level Rp15.650 dan saham Perusahaan Gas Negara yang ditutup turun Rp450 (-3,64%) ke level Rp11.900. Harga saham batu bara terkoreksi setelah kalangan industri dalam negeri khususnya dari sektor manufaktur meminta kepastian pasokan batu bara dalam negeri untuk tahun 2009 yang sebesar 60 juta ton melalui kebijakan DMO (domestic market oblgation/DMO) dari Departemen Perindustrian. Kebijakan DMO akan membuat produsen batu bara dalam negeri kurang menikmati kenaikan harga batu bara di pasaran internasional.

Saham otomotif Astra Internasional ditutup naik Rp150 (0,78%) ke level Rp19.500 setelah Astra Internasional melalui anak usahanya PT Astra Honda Motor membukukan penjualan sepeda motor honda sebanyak 1.405.669 unit pada semester I/2008 atau naik 52,2% dari periode yang sama tahun lalu. pergerakan harga saham Astra selasa kemarin melanjutkan rebound sejak awal pekan ini yang ditopang oleh data penjualan PT Toyota Astra Motor yang mencatat kenaikan 42% di semester I/2008 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sentimen negatif ke IHSG juga datang dari bursa regional Asia Pasifik yang terkoreksi akibat kekhawatiran pelaku pasar regional terhadap perusahaan mortgage AS yaitu Fannie Mae dan Freddie Mac yang membutuhkan tambahan modal sebesar US$75 miliar dan mengingatkan kembali para pelaku pasar terhadap rentannya pasar suprime mortgage. Indeks Hangseng turun –3,16%, KOSPI turun –2,93%, Nikkei-225 turun –2,45%, dan STI turun –1,62%.

Selasa, Juli 08, 2008

Ulasan Pasar 7 Juli 2008

Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Bursa saham kembali terkoreksi pada penutupan kemarin tertekan oleh aksi cut-loss investor yang panik merespon koreksi menjalang akhir pekan kemarin. IHSG ditutup turun 10,93 poin (-0,5%) ke level 2.303,82.

Pelaku pasar segera memangkas portofolio mereka dan merealisasikan gain menghadapi kondisi bursa yang tidak pasti oleh krisis listrik dalam negeri yang memaksa pelaku usaha untuk melakukan penghematan termasuk didalamnya pengurangan jam kerja industri yang akan difinalisasi dengan dikeluarkan SKB Menteri yang mengatur jam kerja industri. Selain itu, kekisruhan di PLTU Cilacap karena terhambatnya pasokan batu bara ke PLN karena masalah finansial memberikan sentimen negatif bagi kesanggupan domestik untuk membeli batu bara, sedangkan di sisi lain, pemerintah memberikan batasan ekspor kepada pengusaha batu bara. Kondisi ini sangat tidak sejalan dengan harga batu bara di pasaran internasional yang terus bergerak naik karena kenaikan harga minyak dunia. Harga batu bara di Newcastle Port telah mencapai $194,79 per ton atau naik 22,9% dalam sebulan terakhir.

Tekanan terhadap pasar batu bara dalam negeri tersebut mendorong pelaku pasar merealisasikan gain atas saham Bumi Resource (BUMI) yang sempat naik Rp350 pada akhir pekan lalu setelah terkoreksi cukup dalam pada penutupan sehari sebelumnya sebesar Rp1.150 ke level Rp7.150 pada penutupan kamis. Harga saham BUMI kembali terkoreksi Rp100 ke level Rp7.400 pada penutupan senin kemarin.

Di tengah kondisi bursa yang tidak menentu, harga CPO di bursa Malaysia yang bergerak turun 2,4% ke level 3,542 Ringgit memberikan sentimen negatif jangka pendek ke saham-saham emiten CPO Bursa Efek Indonesia seperti Astra Agro Lestari (AALI) dan London Sumatera (LSIP). Saham AALI ditutup turun Rp500 (-1,8%) ke level Rp27.500 dan LSIP turun Rp100 (-1%) ke level Rp9.750.

Namun, bursa juga diwarnai oleh perkembangan positif saham otomotif Astra Internasional (ASII) yang bergerak naik tipis Rp50 (0,26%) ke level Rp19.350 setelah melemah sejak awal pekan ini dari posisi Rp19.500 pada 2 Juli. Naiknya saham ASII ditopang oleh data penjualan PT Toyota Astra Motor untuk semester I/2008 ini yang mencatat kenaikan 42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, data Gaikindo juga mencatat penjualan mobil pada bulan Juni naik menjadi 53.700 unit dari posisi bulan sebelumnya di level 50.698 yang disebabkan tingginya permintaan sebagai antisipasi konsumen atas kenaikan harga karena kenaikan BBM.

Senin, Juli 07, 2008

Indeks terombang-ambing oleh harga minyak dan batu bara

Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Selama sepekan, bursa bergerak fluktuatif dengan koreksi tajam pada penutupan hari kamis sebesar 91,86 poin karena pelaku pasar mencermati perkembangan harga minyak dunia, batu bara, dan laju inflasi hingga dua bulan mendatang. Bursa melemah 17,36 poin (-0,74%) ke level 2.314,75 pada akhir pekan kemarin bila dibandingkan dengan penutupan akhir pekan sebelumnya yang berada di level 2.332,11.

Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see sejak awal pekan karena mencermati laju inflasi Juni dan level BI rate. Laju inflasi Juni yang diumumkan sebesar 11,03% (yoy) awalnya cukup memberikan sentimen positif bagi investor untuk membeli saham-saham perbankan karena level tersebut jauh dibawah prediksi hasil survey ekonom oleh Bloomberg yang sebesar 12,6%. Saham Bank BCA ditutup naik Rp100 (4,04%), saham Bank BRI naik Rp200 (3,92%), saham Bank Danamon naik Rp150 (3,19%), dan saham Bank BNI naik Rp30 (2,48%). Pada penutupan selasa setelah pengumuman inflasi oleh BPS tersebut, bursa saham ditutup menguat sebesar 29,7 poin (1,3%) pada level 2.378,81.

Pelaku pasar juga merespon positif keputusan BAPEPAM-LK mengenai aturan tender offer bagi pengendali baru yang membeli lebih dari 50% saham emiten, wajib melakukan tender offer atas saham sisanya, namun dalam dua tahun kemudian wajib melepas kembali sejumlah sahamnya agar tetap 20% di publik.

Namun, Bursa terkoreksi pada penutupan rabu karena turunnya harga saham Bumi Resources (BUMI) dan PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) yang tertekan oleh rencana IPO (initial public offering) PT Bayan Resources yang memberikan altenatif baru bagi pelaku pasar untuk mengkoleksi saham emiten batu bara. PT Bayan Resources ditargetkan meraih dana IPO sebesar Rp6,4 triliun dengan melepas saham ke publik sebesar 25%.

Harga saham BUMI dan PTBA melanjutkan tekanan ke bursa pada perdagangan kamis, setelah harga batu bara internasional untuk pengiriman ke Amsterdam, Rotterdam, atau Antwerp tiba-tiba anjlok sebesar 12,6% ke posisi $190 per metrik ton untuk pengiriman tahun 2009 dan memberikan sentimen negatif bagi prospek harga batu bara di tahun mendatang. Pelaku pasar cenderung pesimis untuk pergerakan harga batu bara di tahun 2009 karena harga saat ini dinilai telah bergerak sangat cepat dan berpotensi turun karena semakin banyaknya emiten yang beralih menjadi produsen batu bara tetapi permintaan cenderung melemah karena harga yang semakin naik. Saham BUMI turun Rp1.150 (-14%) dan saham PTBA turun Rp1.200 (-7,3%). IHSG ditutup turun 91,86 poin (-3,9%) ke level 2.286,61

Koreksi bursa juga diperparah oleh kenaikan BI rate sebesar 25bps ke level 8,75% yang diikuti oleh ekspektasi kenaikan laju inflasi dalam dua bulan mendatang menjelang datangnya bulan puasa (bulan September) dan lebaran serta sentimen negatif kenaikan harga minyak untuk pengiriman Agustus 2008 yang menyentuh level $145 per barel. Laju kenaikan harga minyak tersebut berpotensi semakin memberatkan pemerintah karena akan melemahkan rupiah terhadap dolar AS mengingat Indonesia masih mengimpor sepertiga kebutuhan minyak dalam negeri. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan meningkatkan laju inflasi yang disebabkan naiknya biaya impor. Harga saham otomotif seperti Astra Internasional ditutup terkoreksi Rp200 (-1,03%). Saham perbankan seperti Bank Mandiri turun Rp100 (-3,67%), dan saham Bank BBRI turun Rp100 (-1,82%).

Selain koreksi harga saham perbankan dan otomotif, saham emiten semen juga ikut tertekan karena ekspektasi naiknya biaya produksi seiring kenaikan harga minyak dan biaya kredit perbankan yang semakin berat untuk keperluan ekspansi bila suku bunga acuan kredit terus dinaikkan. Selain itu, kenaikan BI rate juga akan memperlemah permintaan kredit masyarakat untuk kepemilikan properti. Saham Indocement Tunggal Perkasa (INTP) ditutup turun Rp200 (-3,7%) dan saham Semen Gresik ditutup turun Rp100 (-2,45%)..

Keputusan Bank Sentral Eropa yang menaikkan suku bunganya sebesar 25bps ke level 4,25% meningkatkan ekspektasi kenaikan harga minyak dalam jangka pendek menembus level $150 per barel seiring potensi dolar AS yang makin melemah terhadap euro.

Di akhir pekan, bursa bergerak rebound ditopang oleh aksi beli pelaku pasar terhadap saham BUMI, PTBA, dan emiten semen INTP yang sehari sebelumnya terkoreksi signifikan. Saham INTP naik Rp400 (7,69%), PTBA naik Rp750 (4,92%), saham BUMI naik Rp350 (4,9%). Saham Indosat (ISAT) ditutup naik Rp200 (3,17%) ke level Rp6.300 setelah Qatar Telecom mendapat kepastian proses tender offer hingga kepemilikannya atas saham ISAT mencapai 49%.

Jumat, Juli 04, 2008

Ulasan Pasar 3 Juli 2008

Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Bursa saham turun 91,86 poin (-3,9%) ke level 2.286,61 terkoreksi oleh saham pertambangan batu bara dan CPO setelah harga batu bara untuk pengiriman ke Amsterdam, Rotterdam, atau Antwerp anjlok sebesar 12,6% ke posisi $190 per metrik ton untuk pengiriman tahun 2009. Selain itu, IHSG juga tertekan oleh saham perbankan dan manufaktur karena kenaikan BI rate sebesar 25bps kemarin.

Koreksi saham batu bara disebabkan kekhawatiran pelaku pasar komoditas atas pecahnya bubble kenaikan harga minyak dunia di tahun 2009 yang mulai terindikasi dari banyaknya demonstrasi menentang kenaikan harga minyak dunia di Eropa dan konversi penggunaan minyak dengan bioetanol yang menggunakan jagung, harga jagung di Chicago Board of Trade naik 0,9% ke level US$7,585 per bushel. Emiten CPO dalam negeri juga terkena imbas dari ekspektasi turunnya harga minyak dunia tahun depan yang akan mengurangi permintaan terhadap bahan bakar alternatif minyak lainnya seperti CPO. Saham Astra Agro Lestari (AALI) turun sebesar Rp1.050 (-3,56%) dan saham London Sumatera (LSIP) turun Rp300 (-2,94%). Harga saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp1.150 (14%) ke level Rp7.150 dan saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam turun Rp1.200 (7,3%).

Harga saham perbankan dan otomotif ikut menekan IHSG pada perdagangan kemarin setelah bank Indonesia mengumumkan kenaikan BI rate sebesar 25bps ke level 8,75% diiringi oleh ekspektasi kenaikan laju inflasi dalam dua bulan mendatang menjelang datangnya bulan puasa (bulan September) dan lebaran serta sentimen negatif kenaikan harga minyak untuk pengiriman Agustus 2008 yang menyentuh level $145 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut akan memberatkan pemerintah dengan melemahnya rupiah terhadap dolar AS mengingat Indonesia masih mengimpor sepertiga kebutuhan minyak dalam negeri. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS tentu akan meningkatkan laju inflasi yang disebabkan naiknya biaya impor. Saham-saham perbankan seperti Bank Mandiri turun Rp100 (3,67%), dan saham Bank BBRI turun Rp100 (1,82%). Harga saham otomotif seperti Astra Internasional juga terkoreksi Rp200 (1,03%).

Selain oleh koreksi harga saham perbankan dan otomotif, saham emiten semen juga ikut menekan IHSG karena ekspektasi meningkatnya biaya produksi seiring kenaikan harga minyak dan kenaikan BI rate yang memberatkan biaya kredit perbankan untuk keperluan ekspansi emiten. Selain itu, kenaikan BI rate juga akan memperlemah permintaan kredit masyarakat untuk kepemilikan properti. Saham Indocement Tunggal Perkasa (INTP) turun Rp200 (-3,7%) dan saham Semen Gresik turun Rp100 (2,45%).

Harga minyak dunia yang menyentuh level $145 per barel juga memberikan sentimen negatif pada bursa regional yang pada akhirnya menambah kepanikan pelaku pasar dalam negeri. Indeks Hangseng turun -2,13%, indeks KLSE turun –1,8%, indeks STI turun –0,89%, dan indeks Nikkei-225 turun –0,16%.

Kamis, Juli 03, 2008

Ulasan Pasar 2 Juli 2008

Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Indeks harga saham gabungan kemarin ditutup terkoreksi tipis oleh tekanan aksi jual pelaku pasar atas saham batu bara Bumi Resources (BUMI) dan PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA). Di sisi lain, IHSG mendapat sentimen positif dari kenaikan harga saham perbankan yang bergerak agresif oleh level inflasi Juni.

Bursa menyambut baik posisi laju inflasi Juni yang sebesar 11,03% (yoy) atau lebih rendah dari hasil survey bloomberg yang memberikan posisi 12,6% (yoy). Dengan posisi laju inflasi sebesar itu, pelaku pasar berekspektasi level BI rate akan dapat ditahan oleh Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur pekan ini. Namun, jika dinaikkan akan berada dalam kisaran 25bps dan tidak akan bergerak naik secara tajam. Ekspektasi tersebut memberikan sinyal positif bagi kinerja perbankan di kahir tahun 2008 ini, di samping kondisi oversold saham perbankan sejak akhir Mei lalu. Saham Bank BRI bergerak naik Rp200 (3,77%), saham Bank Mandiri naik Rp75 (2,83%), dan saham Bank Danamon naik Rp100 (2,06%).

Di tengah aksi beli saham perbankan, bursa tertekan oleh koreksi harga saham Bumi Resources (BUMI) dan PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) oleh rencana IPO (initial public offering) PT Bayan Resources yang memberikan altenatif baru bagi bursa untuk saham emiten batu bara. PT Bayan Resources berencana akan menggelar IPO dalam bulan ini dengan target meraih dana sebesar Rp6,4 triliun. Di sisi lain, harga saham BUMI bergerak steady rata-rata di level Rp8.300 dalam 12 hari perdagangan terakhir dengan capital gain sebesar 2,44%, sulit untuk menembus level Rp8.550, level tertinggi yang telah dibentuk sejak 12 Juni. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi investor jangka pendek karena gain BUMI yang cenderung melemah di tengah tren naiknya harga batu bara di pasaran internasional. Bila dibandingkan pada periode pekan pertama dan kedua Juni, saham BUMI mencetak capital gain sebesar 14%. Kemarin, saham BUMI ditutup pada level Rp8.300. Investor juga merealisasikan gain harga saham PTBA yang sebesar 7,3% dalam dua hari perdagangan sejak awal pekan ini yang bergerak naik karena keputusan perusahaan untuk menaikkan harga jual batu bara sebesar 13% ke pembangkit listrik di Propinsi Banten. Saham PTBA kemarin ditutup pada level Rp16.450.

Tekanan atas IHSG juga datang dari saham Energi Mega Persada (ENRG) oleh rumor yang menghinggapi bursa terkait rencana perusahaan untuk membayar hutang dengan mengeluarkan saham baru di harga Rp850 atau lebih rendah Rp140 dari harga penutupan senin yang berada di level Rp990 per lembar saham.

Di sisi lain, IHSG terdongkrak oleh sentimen positif tarif baru per detik Telkomsel, anak usaha seluler PT Telekomunikasi Indonesia, yang baru diterbitkan awal Juli ini. Harga saham TLKM ditutup naik Rp100 (1,3%) ke level Rp7.650.

Rabu, Juli 02, 2008

Ulasan Pasar 1 Juli 2008

Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Bursa saham bergerak bullish pada perdagangan kemarin dan ditutup naik 29,7 poin (1,3%) yang merupakan kenaikan tertinggi sejak 12 Juni lalu. IHSG ditutup pada level 2.378,81. Bursa bergerak tajam setelah pelaku pasar mendapat sentimen positif dari laju inflasi Juni yang berada pada level 11,03% (yoy) jauh di bawah prediksi 22 ekonom hasil survey Bloomberg yang sebesar 12,6%. Pelaku pasar berharap laju inflasi Juni yang juga merupakan cerminan dampak penuh kenaikan harga BBM pertengahan Mei lalu adalah puncak dari tren kenaikan laju inflasi dalam tahun ini dan akan bergerak turun di bulan-bulan berikutnya hingga akhir tahun. Rencana pemerintah yang akan menerapkan kenaikan BBM sebesar 2% tidak terlalu dikhawatirkan pelaku pasar karena dengan begitu bursa dapat segera menyesuaikan harga saham sebelumnya (price in).

Di perdagangan kemarin, bursa tertopang oleh pergerakan harga saham perbankan dengan harapan Bank Indonesia akan menahan level BI rate di posisi saat ini 8,5% memperhatikan posisi inflasi Juni. Harga saham Bank BCA naik Rp100 (4,04%) ke level Rp2.575, saham Bank BRI naik Rp200 (3,92%) ke level Rp5.300, saham Bank Danamon naik Rp150 (3,19%) ke level Rp4.850, dan saham Bank BNI naik Rp30 (2,48%) ke level Rp1.240. Saham Bank Mandiri ikut naik Rp50 (1,92%) ke level Rp2.650 oleh aksi perseroan yang membeli 51% saham PT Tunas Financindo Sarana, unit usaha pembiayaan kepemilikan mobil milik PT Tunas Ridean.

Bursa juga tertopang oleh gain saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) yang naik Rp600 (3,7%) ke level Rp17.000. Harga saham PTBA sejak penutupan senin telah naik 7,3% atau Rp1.150 setelah perusahaan batu bara milik pemerintah tersebut menaikkan harga jual batu bara ke Pembangkit Listrik di Propinsi Banten sebesar 13%. Harga saham BUMI ikut bergerak naik sebesar Rp200 (2,44%) ke level Rp8.400. Harga batu bara di pasaran Internasional (Newcastle Port) pada akhir pekan Juni naik ke level $172,10 atau naik 8,6% dari posisi akhir pekan pertama Juni.

Keputusan BAPEPAM-LK mengenai aturan tender offer bagi pengendali baru yang membeli lebih dari 50% saham emiten wajib melakukan tender offer atas saham sisanya, tetapi dalam dua tahun kemudian wajib melepas kembali sejumlah sahamnya agar tetap 20% di publik.

Selasa, Juli 01, 2008

Ulasan Pasar 30 Juni 2008

Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Pada perdagangan kemarin, sentimen dari aksi beli saham-saham perbankan yang telah oversold pada akhir pekan kemarin berhasil mendongkrak IHSG sebesar 16,99 poin (0,7%) ke level 2.349,11. Di tengah ancaman tingginya laju inflasi bulan Juni, investor masih menaruh harapan terhadap saham-saham bank untuk jangka panjang dengan ekspektasi kenaikan pertumbuhan penyaluran kredit di akhir tahun ini mencapai 24% lebih tinggi dari tahun lalu yang sebesar 20%, seperti yang ditargetkan Bank BRI pekan lalu. Optimisme perbankan tersebut, disambut baik oleh pelaku pasar dengan memburu saham Bank BRI (BBRI) pada perdagangan kemarin. Saham BBRI ditutup naik Rp50 (0,94%) ke level Rp5.100. Kenaikan harga BBRI diikuti oleh beberapa saham unggulan lainnya dari sektor perbankan seperti saham Bank BCA (BBCA) yang ditutup naik Rp125 (5,32%), saham Bank Danamon (BDMN) naik Rp25 (0,53%), dan Bank Internasional Indonesia (BNII) naik Rp5 (1,09%).

Selain terdongkrak oleh saham perbankan, IHSG juga bergerak naik ditopang oleh saham Astra Agro Lestari yang mengikuti pergerakan harga CPO di bursa komoditas Malaysia. Harga minyak sawit di bursa tersebut bergerak naik 2,5% ke level 3,623 Ringgit merespon pergerakan harga minyak dunia yang telah mencapai level $142 per barel. Harga saham Astra Agro Lestari (AALI) ditutup naik Rp750 (2,6%) ke level Rp29.550. Kebijakan pemerintah yang menaikkan pajak ekspor CPO menjadi 20% dan Harga Patokan Eskpor (HPE) naik 5,7% menjadi US$1.144 per ton dari level US$1.105 per ton memberikan sentimen positif bagi harga saham emiten CPO seperti Astra Agro Lestari. Sentimen positif sementara bagi saham CPO tersebut disebabkan karena sebelum pajak ekspor dinaikkan, para eksportir CPO telah mengikat kontrak dengan pembeli di luar negeri.

Harga minyak dunia yang bergerak naik menembus level $142 per barel dan rencana pemerintah yang akan mengatur harga batu bara untuk kebutuhan domestik dengan level harga tertinggi pasaran domestik adalah sama dengan harga terendah untuk ekspor memaksa pelaku pasar untuk menahan saham unggulan batu bara, BUMI. Mereka menunggu realisasi dari rencana pemerintah tersebut di tengah pergerakan harga batu bara di pasaran internasional yang pada akhir pekan kemarin tercatat naik 5,8% ke level US$172,10 per metrik ton. Harga saham BUMI ditutup tidak berubah pada level Rp8.200. Bila harga saham BUMI ditutup tidak berubah, saham emiten batu bara lainnya yaitu PTBA ditutup naik Rp550 (3,5%) ke level Rp16.400 setelah bursa mendapat berita positif dari rencana PT Tambang Batu bara Bukit Asam untuk menaikkan harga jual batu bara ke Pembangkit Listrik di Propinsi Banten sebesar 13%.

IHSG juga mendapat topangan dari harga saham PT Timah (TINS) yang naik Rp1.800 (5,1%) ke posisi Rp37.450 setelah perseroan mendapatkan komitmen pinjaman dari Bank Mandiri sebesar Rp1,8 triliun untuk keperluan ekspansi.