Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Selama sepekan, bursa saham terkoreksi 2,4% dipicu oleh merosotnya harga minyak dunia ke level $119 per barel dan harga komoditas batu bara di pasaran internasional. Harga saham batu bara di Newcastle Port Australia pada akhir pekan (1/8) melanjutkan koreksi selama tiga pekan terakhir ke level $160,4 per ton atau anjlok sebesar 17,65% sejak 11 Juli. IHSG ditutup pada level 2.195,93 di akhir pekan kemarin.
Merespon harga batu bara yang melemah di pasaran internasional, pada penutupan rabu (6/8) saham Bumi Resources (BUMI) terkoreksi hingga ke level Rp5.250 atau turun Rp900 (-14,63%) dari penutupan akhir pekan sebelumnya. Saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp1.100 (–8,3%), saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp3.300 (–11,6%). Secara teknikal, indikator MACD untuk pergerakan harga saham BUMI terlihat melemah di penutupan senin (4/8), memberikan sinyal bearish bagi pergerakan BUMI hingga pada perdagangan kamis setelah pelaku bursa kembali memburu saham tersebut karena kondisi harga yang telah oversold sampai penutupan rabu. Secara teknis, harga saham BUMI telah menyentuh level 31 mendekati level terendah indeks RSI (relative strenght index) untuk kembali rebound. Kebijakan pemerintah yang menetapkan Indonesian Coal Index menambah sentimen positif karena diharapkan akan mengurangi fluktuasi harga jual dan memberikan kestabilan penjualan produsen dalam memenuhi kebutuhan domestik. Hingga akhir pekan, saham BUMI kembali bergerak naik ke posisi Rp5.650, saham PTBA ke posisi Rp13.250 dan saham ITMG bergerak naik ke posisi Rp27.200.
Data inflasi Juli yang sebesar 11,9% atau lebih tinggi dari inflasi Juni yang sebesar 11,03% serta kenaikan BI rate sebesar 25bps menjadi 9% tidak mempengaruhi pelaku bursa dalam mengkoleksi saham-saham unggulan sektor perbankan. Hal ini disebabkan, kinerja fundamental perbankan selama semester I/2008 mencatat hasil yang cukup positif di tengah kenaikan BBM pada bulan Mei sebesar 28,7% dan laju inflasi yang menguat sejak awal tahun ini seiring tren kenaikan harga minyak dunia dan komoditas pangan. Harga saham Bank Mandiri, Bank BCA, Bank Danamon, dan Bank BRI sejak awal pekan hingga perdagangan kamis rata-rata naik 3%.
Kinerja Bank Mandiri selama semester I/2008 mencatat kenaikan laba bersih sebesar 22% atau Rp470 miliar dari level Rp2,1 triliun semester I/2007 menjadi Rp2,6 triliun ditopang oleh kenaikan LDR (Loan to Deposit Ratio) yang menjadi 59,53% dibandingkan semester I/2007 sebesar 53,64%. ROA di semester I/2008 tercatat sebesar 2,62% naik dari posisi semester I/2007 yang sebesar 2,42% dan ROE sebesar 21,63% naik dari posisi tahun lalu yang sebesar 18,83%.
Pada perdagangan akhir pekan, saham perbankan terkoreksi oleh faktor teknis. Saham BMRI ditutup di level Rp2.925, BBCA di level Rp2.950, BDMN di level Rp5.400, dan BBRI di level Rp6.050. Indeks RSI saham BMRI bahkan telah mendekati level puncak overbought yaitu 70, tepatnya mencapai level 67 di perdagangan rabu.
Aksi korporasi PT Timah untuk meningkatkan likuiditas sahamnya di bursa berupa stock split 1:10 mewarnai perdagangan akhir pekan kemarin dan mendongkrak saham TINS naik Rp35 (1,2%) ke posisi Rp2.975.
Senin, Agustus 11, 2008
Jumat, Agustus 08, 2008
Ulasan Pasar 7 Agustus 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham bergerak rebound pada perdagangan kemarin, ditutup naik tipis 11,81 poin (0,54%) ke level 2.199,01. Kenaikan tersebut ditopang oleh faktor teknis kondisi harga saham batu bara Bumi Resources (BUMI) yang telah oversold. Saham perbankan juga bergerak naik menopang IHSG seiring harga minyak dunia yang bertahan di bawah level $120 per barel dan kemarin sempat menyentuh level $118 per barel.
Saham BUMI bergerak naik Rp100 (1,9%) ke posisi Rp5.350 setelah pelaku bursa kembali memburu saham tersebut dalam kondisi harga yang oversold hingga penutupan rabu sebelumnya. Secara teknis, harga saham BUMI telah menyentuh level 31 di penutupan rabu mendekati level terendah indeks RSI (relative strenght index) untuk kembali rebound. Kebijakan pemerintah yang menetapkan Indonesian Coal Index sebagai acuan harga jual domestik dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja untuk proyeksi Penerimaan APBN ikut memberikan sentimen positif bagi harga saham emiten batu bara kemarin. Indeks harga jual batu bara tersebut akan mengurangi fluktuasi harga jual domestik dan memberikan kestabilan penjualan produsen untuk memenuhi kebutuhan domestik karena selama ini harga jual batu bara domestik cenderung diputuskan sendiri oleh masing-masing produsen mengacu pada harga yang sedang berlaku di pasaran internasional.
Harga saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) sebagai BUMN yang bergerak di bidang pertambangan batu bara ikut naik sebesar Rp500 (4,12%) ke posisi Rp12.650 dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) bergerak naik Rp450 (1,79%) ke posisi Rp25.600.
Harga minyak dunia yang bergerak stabill di kisaran $119 per barel dan bahkan sempat menyentuh level $118 per barel kemarin memberikan sentimen positif berkurangnya tekanan inflasi akibat biaya impor dalam semester kedua tahun ini. Hal tersebut akan berdampak naiknya daya beli masyarakat dan permintaan kredit konsumsi perbankan. Saham Bank BRI (BBRI) naik Rp200 (3,31%) dan saham Bank Danamon (BDMN) naik Rp150 (2,8%). Dari sektor industri dasar, saham emiten semen Indocement Tunggal Perkasa (INTP) naik Rp100 (1,64%), saham Holcim Indonesia (SMCB) naik Rp30 (2,75%), dan saham Semen Gresik (SMGR) naik Rp25 (0,63%). Turunnya harga minyak diharapkan akan berdampak positif bagi biaya produksi emiten semen, selain pada penjualan seiring membaiknya daya beli masyarakat.
Bursa saham bergerak rebound pada perdagangan kemarin, ditutup naik tipis 11,81 poin (0,54%) ke level 2.199,01. Kenaikan tersebut ditopang oleh faktor teknis kondisi harga saham batu bara Bumi Resources (BUMI) yang telah oversold. Saham perbankan juga bergerak naik menopang IHSG seiring harga minyak dunia yang bertahan di bawah level $120 per barel dan kemarin sempat menyentuh level $118 per barel.
Saham BUMI bergerak naik Rp100 (1,9%) ke posisi Rp5.350 setelah pelaku bursa kembali memburu saham tersebut dalam kondisi harga yang oversold hingga penutupan rabu sebelumnya. Secara teknis, harga saham BUMI telah menyentuh level 31 di penutupan rabu mendekati level terendah indeks RSI (relative strenght index) untuk kembali rebound. Kebijakan pemerintah yang menetapkan Indonesian Coal Index sebagai acuan harga jual domestik dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja untuk proyeksi Penerimaan APBN ikut memberikan sentimen positif bagi harga saham emiten batu bara kemarin. Indeks harga jual batu bara tersebut akan mengurangi fluktuasi harga jual domestik dan memberikan kestabilan penjualan produsen untuk memenuhi kebutuhan domestik karena selama ini harga jual batu bara domestik cenderung diputuskan sendiri oleh masing-masing produsen mengacu pada harga yang sedang berlaku di pasaran internasional.
Harga saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) sebagai BUMN yang bergerak di bidang pertambangan batu bara ikut naik sebesar Rp500 (4,12%) ke posisi Rp12.650 dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) bergerak naik Rp450 (1,79%) ke posisi Rp25.600.
Harga minyak dunia yang bergerak stabill di kisaran $119 per barel dan bahkan sempat menyentuh level $118 per barel kemarin memberikan sentimen positif berkurangnya tekanan inflasi akibat biaya impor dalam semester kedua tahun ini. Hal tersebut akan berdampak naiknya daya beli masyarakat dan permintaan kredit konsumsi perbankan. Saham Bank BRI (BBRI) naik Rp200 (3,31%) dan saham Bank Danamon (BDMN) naik Rp150 (2,8%). Dari sektor industri dasar, saham emiten semen Indocement Tunggal Perkasa (INTP) naik Rp100 (1,64%), saham Holcim Indonesia (SMCB) naik Rp30 (2,75%), dan saham Semen Gresik (SMGR) naik Rp25 (0,63%). Turunnya harga minyak diharapkan akan berdampak positif bagi biaya produksi emiten semen, selain pada penjualan seiring membaiknya daya beli masyarakat.
Kamis, Agustus 07, 2008
Ulasan Pasar 6 Agustus 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham ditutup naik tipis sebesar 1,59 poin (0,07%) ke level 2.187,20 kemarin meskipun masih diwarnai oleh koreksi tipis atas harga saham batu bara Bumi Resources (BUMI), PT Tambang batu bara bukit asam (PTBA), dan Indo Tambangraya Megah (ITMG). Saham sektor konsumsi seperti Unilever Indonesia (UNVR) dan Gudang Garam (GGRM) bergerak naik oleh ekspektasi membaiknya daya beli masyarakat seiring harga minyak dunia yang melemah berada di level $119 per barel tertekan oleh berkurangnya permintaan terhadap komoditas tersebut karena melemahnya daya beli masyarakat AS. Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, tingkat belanja masyarakat melemah sebesar 0,2% pada bulan Juni.
Harga saham BUMI masih melanjutkan koreksi sebesar Rp50 (-0,94%) dan tidak sebesar sehari sebelumnya yaitu Rp550. Koreksi harga BUMI yang semakin melemah kemarin dipengaruhi oleh kondisi BUMI yang telah oversold secara teknis dalam sebulan terakhir. Indeks RSI (relative strengt index) telah berada di posisi 31 pada penutupan selasa sebelumnya.
Investor asing memburu saham GGRM dan UNVR seiring ekspektasi membaiknya penjualan di semester kedua tahun ini dengan harga minyak yang cenderung melemah. Harga saham GGRM naik Rp250 (4%) dan UNVR naik Rp100 (1,45%).
Saham perbankan seperti Bank Mandiri (BMRI) memasuki masa koreksi teknis seteah bergerak naik dalam sebulan terakhir sejak harga minyak dunia bergerak melemah. Saham BMRI terkoreksi tipis Rp50 (-1,63%) ke level Rp3.025 per saham. Indeks RSI saham BMRI berada di level 67 atau dalam kondisi overbought.
Tekanan terhadap IHSG masih disumbang oleh saham-saham perkebunan kelapa sawit seperi Astra Agro Lestari (AALI) dan London Sumatera (LSIP) mengikuti tren penurunan harga CPO di bursa Malaysia. Kemarin harga CPO di bursa Malaysia kembali turun 4,8% ke level $840. Saham AALI turun Rp1.000 (-5%) dan LSIP turun Rp350 (-4,9%).
Saham Jasa Marga (JSMR) bergerak naik Rp30 (2,4%) seiring rencana perusahaan untuk membelanjakan Rp5 triliun untuk memulai pembangunan tiga ruas jalan tol di Pulau Jawa.
Bursa saham ditutup naik tipis sebesar 1,59 poin (0,07%) ke level 2.187,20 kemarin meskipun masih diwarnai oleh koreksi tipis atas harga saham batu bara Bumi Resources (BUMI), PT Tambang batu bara bukit asam (PTBA), dan Indo Tambangraya Megah (ITMG). Saham sektor konsumsi seperti Unilever Indonesia (UNVR) dan Gudang Garam (GGRM) bergerak naik oleh ekspektasi membaiknya daya beli masyarakat seiring harga minyak dunia yang melemah berada di level $119 per barel tertekan oleh berkurangnya permintaan terhadap komoditas tersebut karena melemahnya daya beli masyarakat AS. Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, tingkat belanja masyarakat melemah sebesar 0,2% pada bulan Juni.
Harga saham BUMI masih melanjutkan koreksi sebesar Rp50 (-0,94%) dan tidak sebesar sehari sebelumnya yaitu Rp550. Koreksi harga BUMI yang semakin melemah kemarin dipengaruhi oleh kondisi BUMI yang telah oversold secara teknis dalam sebulan terakhir. Indeks RSI (relative strengt index) telah berada di posisi 31 pada penutupan selasa sebelumnya.
Investor asing memburu saham GGRM dan UNVR seiring ekspektasi membaiknya penjualan di semester kedua tahun ini dengan harga minyak yang cenderung melemah. Harga saham GGRM naik Rp250 (4%) dan UNVR naik Rp100 (1,45%).
Saham perbankan seperti Bank Mandiri (BMRI) memasuki masa koreksi teknis seteah bergerak naik dalam sebulan terakhir sejak harga minyak dunia bergerak melemah. Saham BMRI terkoreksi tipis Rp50 (-1,63%) ke level Rp3.025 per saham. Indeks RSI saham BMRI berada di level 67 atau dalam kondisi overbought.
Tekanan terhadap IHSG masih disumbang oleh saham-saham perkebunan kelapa sawit seperi Astra Agro Lestari (AALI) dan London Sumatera (LSIP) mengikuti tren penurunan harga CPO di bursa Malaysia. Kemarin harga CPO di bursa Malaysia kembali turun 4,8% ke level $840. Saham AALI turun Rp1.000 (-5%) dan LSIP turun Rp350 (-4,9%).
Saham Jasa Marga (JSMR) bergerak naik Rp30 (2,4%) seiring rencana perusahaan untuk membelanjakan Rp5 triliun untuk memulai pembangunan tiga ruas jalan tol di Pulau Jawa.
Rabu, Agustus 06, 2008
Ulasan Pasar 5 Agustus 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham kembali anjlok dengan koreksi sebesar 42,06 poin (-1,89%) ke level 2.185,62. Koreksi sebesar itu dipicu oleh aksi jual investor asing terhadap saham pertambangan. Investor asing mencatat net sell atas saham Bumi Resources (BUMI) sebanyak 124 juta lembar tertinggi kedua setelah saham Bakrie & Brothers yang mencatat net sell sebanyak 173 juta lembar. Secara keseluruhan, investor asing mencatat nilai jual bersih sebesar Rp758 miliar di penutupan kemarin.
Harga minyak yang terus turun dan menyentuh level di bawah $120 per barel tepatnya $119,24 per barel semakin menekan harga saham pertambangan dan prospek penjualan komoditas bahan bakar alternatif untuk minyak seperti batu bara tersebut dalam semester kedua tahun ini.
Harga batu bara di Newcastle Port Australia pada akhir pekan (1/8) telah melanjutkan koreksi selama tiga pekan terakhir ke level $160,4 per ton. Harga batu bara tersebut telah terkoreksi sebesar 17,65% sejak 11 Juli lalu. Secara teknikal, indikator MACD untuk pergerakan harga saham BUMI sudah melemah dari areal positif dan memberikan sinyal bearish bagi pergerakan BUMI sejak akhir pekan yang lalu.
Harga saham BUMI kemarin terkoreksi Rp550 (-9,4%), saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp850 (-6,51%), saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp2.600 (-9,14%).
Saham emiten kelapa sawit kembali melanjutkan koreksi mengikuti penurunan harga CPO di bursa Malaysia yang kembali anjlok sebesar 5% ke level $840 per metrik ton. Sehari sebelumnya, harga CPO di bursa tersebut juga telah anjlok sebesar 3%. Harga saham Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp850 (-4,04%), saham London Sumatera turun Rp300 (-4,03%), dan saham Bakrie Sumatera (UNSP) turun Rp50 (-3,82%).
Harga minyak yang melemah ikut menekan harga komoditas nikel di bursa London kemarin sebesar 1,5% ke level $18,025 per metrik ton. Harga saham International Nickel (INCO) turun Rp225 (-5,2%) dan saham Aneka Tambang (ANTM) turun Rp150 (-6,5%).
Kenaikan BI rate sebesar 25bps menjadi 9% tidak mempengaruhi laju kenaikan saham Astra Internasional (ASII) dan saham unggulan perbankan seperti Bank BRI (BBRI) dan Bank Danamon (BDMN). Harga saham ASII ditutup naik Rp250 (1,16%), harga saham BBRI ditutup naik Rp150 (2,54%) dan saham BDMN ditutup naik Rp50 (0,94%). Harga saham Bank Mandiri (BMRI) dan Bank BCA (BBCA) ditutup tidak berubah dari penutupan sehari sebelumnya. Harga minyak yang bergerak melemah diharapkan akan menekan laju inflasi hingga akhir tahun dan memperbaiki daya beli masyarakat serta meningkatkan permintaan masyarakat terhadap kredit perbankan terutama kredit konsumsi.
Bursa saham kembali anjlok dengan koreksi sebesar 42,06 poin (-1,89%) ke level 2.185,62. Koreksi sebesar itu dipicu oleh aksi jual investor asing terhadap saham pertambangan. Investor asing mencatat net sell atas saham Bumi Resources (BUMI) sebanyak 124 juta lembar tertinggi kedua setelah saham Bakrie & Brothers yang mencatat net sell sebanyak 173 juta lembar. Secara keseluruhan, investor asing mencatat nilai jual bersih sebesar Rp758 miliar di penutupan kemarin.
Harga minyak yang terus turun dan menyentuh level di bawah $120 per barel tepatnya $119,24 per barel semakin menekan harga saham pertambangan dan prospek penjualan komoditas bahan bakar alternatif untuk minyak seperti batu bara tersebut dalam semester kedua tahun ini.
Harga batu bara di Newcastle Port Australia pada akhir pekan (1/8) telah melanjutkan koreksi selama tiga pekan terakhir ke level $160,4 per ton. Harga batu bara tersebut telah terkoreksi sebesar 17,65% sejak 11 Juli lalu. Secara teknikal, indikator MACD untuk pergerakan harga saham BUMI sudah melemah dari areal positif dan memberikan sinyal bearish bagi pergerakan BUMI sejak akhir pekan yang lalu.
Harga saham BUMI kemarin terkoreksi Rp550 (-9,4%), saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp850 (-6,51%), saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp2.600 (-9,14%).
Saham emiten kelapa sawit kembali melanjutkan koreksi mengikuti penurunan harga CPO di bursa Malaysia yang kembali anjlok sebesar 5% ke level $840 per metrik ton. Sehari sebelumnya, harga CPO di bursa tersebut juga telah anjlok sebesar 3%. Harga saham Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp850 (-4,04%), saham London Sumatera turun Rp300 (-4,03%), dan saham Bakrie Sumatera (UNSP) turun Rp50 (-3,82%).
Harga minyak yang melemah ikut menekan harga komoditas nikel di bursa London kemarin sebesar 1,5% ke level $18,025 per metrik ton. Harga saham International Nickel (INCO) turun Rp225 (-5,2%) dan saham Aneka Tambang (ANTM) turun Rp150 (-6,5%).
Kenaikan BI rate sebesar 25bps menjadi 9% tidak mempengaruhi laju kenaikan saham Astra Internasional (ASII) dan saham unggulan perbankan seperti Bank BRI (BBRI) dan Bank Danamon (BDMN). Harga saham ASII ditutup naik Rp250 (1,16%), harga saham BBRI ditutup naik Rp150 (2,54%) dan saham BDMN ditutup naik Rp50 (0,94%). Harga saham Bank Mandiri (BMRI) dan Bank BCA (BBCA) ditutup tidak berubah dari penutupan sehari sebelumnya. Harga minyak yang bergerak melemah diharapkan akan menekan laju inflasi hingga akhir tahun dan memperbaiki daya beli masyarakat serta meningkatkan permintaan masyarakat terhadap kredit perbankan terutama kredit konsumsi.
Selasa, Agustus 05, 2008
Ulasan Pasar 4 Agustus 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Faktor merosotnya harga komoditas batu bara di pasaran internasional menjadi pemicu utama turunnya harga saham batu bara dan juga indeks harga saham gabungan kemarin. IHSG ditutup pada level 2.227,67 terkoreksi 21,07 poin (-0,94%) pada perdagangan awal pekan ini. Selain oleh harga komoditas, koreksi indeks bursa regional ikut memberikan sentimen negatif bagi perdagangan kemarin. Indeks Nikkei turun 1,23%, Hangseng turun 1,52%, indeks Straits Times turun 1,03%, dan indeks KLCI turun 0,9%.
Harga batu bara di Newcastle Port Australia pada akhir pekan kemarin melanjutkan koreksi selama tiga pekan terakhir ke level $160,4 per ton. Harga batu bara tersebut telah terkoreksi sebesar 17,65% sejak 11 Juli lalu. Pelaku bursa dalam negeri pun segera merespon koreksi lanjutan tersebut dengan melepas saham Bumi Resources (BUMI) hingga ke level Rp5.850 atau turun Rp300 (-4,88%) dari penutupan akhir pekan kemarin. Saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp550 (–4,04%), saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp900 (–3,07%), dan saham Adaro Energy (ADRO) turun Rp40 (–2,45%). Secara teknikal, indikator MACD untuk pergerakan harga saham BUMI terlihat melemah di areal positif sejak akhir pekan sebelumnya hingga penutupan kemarin, memberikan sinyal bearish bagi pergerakan BUMI sampai ada sentimen positif dari harga batu bara internasional. Harga minyak dunia yang masih berkisar di level $124-$125 per barel sejak pekan lalu ikut menekan harga batu bara dan memberikan tekanan bagi pergerakan harga saham BUMI dan emiten batu bara lainnya.
Harga CPO di bursa Malaysia turun 3% seiring mulai stabilnya harga minyak dunia di level $125 per barel sejak pekan lalu. Harga saham Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp200 (-0,94%), saham London Sumatera (LSIP) turun Rp200 (-2,6%), dan saham Bakrie Sumatera (UNSP) turun Rp40 (-3%).
Di sisi lain, data inflasi Juli yang sebesar 11,9% atau lebih tinggi dari inflasi Juni yang sebesar 11,03% tidak mempengaruhi pelaku bursa dalam mengkoleksi saham-saham unggulan sektor perbankan. Harga saham Bank Mandiri (BMRI) ditutup naik Rp100 (3,36%) dan saham Bank BCA (BBCA) ditutup naik Rp75 (2,56%). Tampak bahwa pasar tidak terlalu mengkhawatirkan level BI rate di awal Agsutus ini yang berpotensi dinaikkan menyentuh level 9%. Hal ini disebabkan, kinerja fundamental perbankan selama semester I/2008 mencatat hasil yang cukup positif di tengah kenaikan BBM pada bulan Mei dan laju inflasi yang menguat sejak awal tahun ini seiring tren kenaikan harga minyak dunia dan komoditas pangan.
Di semester I tahun ini, Bank Mandiri mencatat kenaikan laba bersih sebesar 22% atau Rp470 miliar dari level Rp2,1 triliun semester I/2007 menjadi Rp2,6 triliun di semester I/2008 ditopang oleh kenaikan LDR (Loan to Deposit Ratio) yang menjadi 59,53% dibandingkan semester I/2007 sebesar 53,64% berbanding lurus dengan jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun sebesar Rp224 triliun atau naik 12% dari jumlah tahun lalu yang sebesar Rp200 triliun. Posisi kredit tumbuh sebesar Rp33,3 triliun di antaranya penyaluran kredit UMKM yang tumbuh 44,62% (yoy) dari Rp14,22 triliun menjadi Rp20,56 triliun.ROA di semester I/2008 tercatat sebesar 2,62% naik dari posisi semester I/2007 yang sebesar 2,42% dan ROE sebesar 21,63% naik dari posisi tahun lalu yang sebesar 18,83%.
Faktor merosotnya harga komoditas batu bara di pasaran internasional menjadi pemicu utama turunnya harga saham batu bara dan juga indeks harga saham gabungan kemarin. IHSG ditutup pada level 2.227,67 terkoreksi 21,07 poin (-0,94%) pada perdagangan awal pekan ini. Selain oleh harga komoditas, koreksi indeks bursa regional ikut memberikan sentimen negatif bagi perdagangan kemarin. Indeks Nikkei turun 1,23%, Hangseng turun 1,52%, indeks Straits Times turun 1,03%, dan indeks KLCI turun 0,9%.
Harga batu bara di Newcastle Port Australia pada akhir pekan kemarin melanjutkan koreksi selama tiga pekan terakhir ke level $160,4 per ton. Harga batu bara tersebut telah terkoreksi sebesar 17,65% sejak 11 Juli lalu. Pelaku bursa dalam negeri pun segera merespon koreksi lanjutan tersebut dengan melepas saham Bumi Resources (BUMI) hingga ke level Rp5.850 atau turun Rp300 (-4,88%) dari penutupan akhir pekan kemarin. Saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp550 (–4,04%), saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp900 (–3,07%), dan saham Adaro Energy (ADRO) turun Rp40 (–2,45%). Secara teknikal, indikator MACD untuk pergerakan harga saham BUMI terlihat melemah di areal positif sejak akhir pekan sebelumnya hingga penutupan kemarin, memberikan sinyal bearish bagi pergerakan BUMI sampai ada sentimen positif dari harga batu bara internasional. Harga minyak dunia yang masih berkisar di level $124-$125 per barel sejak pekan lalu ikut menekan harga batu bara dan memberikan tekanan bagi pergerakan harga saham BUMI dan emiten batu bara lainnya.
Harga CPO di bursa Malaysia turun 3% seiring mulai stabilnya harga minyak dunia di level $125 per barel sejak pekan lalu. Harga saham Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp200 (-0,94%), saham London Sumatera (LSIP) turun Rp200 (-2,6%), dan saham Bakrie Sumatera (UNSP) turun Rp40 (-3%).
Di sisi lain, data inflasi Juli yang sebesar 11,9% atau lebih tinggi dari inflasi Juni yang sebesar 11,03% tidak mempengaruhi pelaku bursa dalam mengkoleksi saham-saham unggulan sektor perbankan. Harga saham Bank Mandiri (BMRI) ditutup naik Rp100 (3,36%) dan saham Bank BCA (BBCA) ditutup naik Rp75 (2,56%). Tampak bahwa pasar tidak terlalu mengkhawatirkan level BI rate di awal Agsutus ini yang berpotensi dinaikkan menyentuh level 9%. Hal ini disebabkan, kinerja fundamental perbankan selama semester I/2008 mencatat hasil yang cukup positif di tengah kenaikan BBM pada bulan Mei dan laju inflasi yang menguat sejak awal tahun ini seiring tren kenaikan harga minyak dunia dan komoditas pangan.
Di semester I tahun ini, Bank Mandiri mencatat kenaikan laba bersih sebesar 22% atau Rp470 miliar dari level Rp2,1 triliun semester I/2007 menjadi Rp2,6 triliun di semester I/2008 ditopang oleh kenaikan LDR (Loan to Deposit Ratio) yang menjadi 59,53% dibandingkan semester I/2007 sebesar 53,64% berbanding lurus dengan jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun sebesar Rp224 triliun atau naik 12% dari jumlah tahun lalu yang sebesar Rp200 triliun. Posisi kredit tumbuh sebesar Rp33,3 triliun di antaranya penyaluran kredit UMKM yang tumbuh 44,62% (yoy) dari Rp14,22 triliun menjadi Rp20,56 triliun.ROA di semester I/2008 tercatat sebesar 2,62% naik dari posisi semester I/2007 yang sebesar 2,42% dan ROE sebesar 21,63% naik dari posisi tahun lalu yang sebesar 18,83%.
Senin, Agustus 04, 2008
Inflasi tekan indeks saham
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham selama sepekan terakhir bulan Juli bergerak rebound sejak awal pekan, namun di akhir pekan terkoreksi akibat profit taking pelaku pasar dan juga sentimen negatif laju inflasi Juli yang berada di level 11,9% (yoy) atau lebih tinggi dari posisi laju inflasi Juni yang sebesar 11,03% (yoy). IHSG naik tipis selama sepekan sebesar 3,41 poin (0,2%) dan ditutup pada level 2.248,75 pada Jumat kemarin.
Di awal pekan, IHSG bergerak naik oleh saham pertambangan, perbankan, dan telekomunikasi yang telah oversold sejak pekan sebelumnya. IHSG ditutup naik 30,33 poin (1,4%) ke level 2.275,68. Selain karena faktor oversold, harga minyak dunia yang tetap berkisar di level $124 per barel memberikan ekspektasi positif terhadap laju inflasi dalam negeri dalam semester kedua tahun ini. Saham Bumi Resources (BUMI) ditutup naik Rp400(6,72%). Indikator RSI (Relative Strenght Index) berada di posisi 40,61 atau berada dalam area oversold sejak awal Juli. Selain itu, indikator MACD semakin melemah di areal negatif yang memberikan sinyal beli untuk saham BUMI.
Faktor teknikal juga mendongkrak saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dengan kenaikan sebesar Rp250 (3,23%). Indikator Bollinger menunjukkan pergerakan harga TLKM berada di sekitar upperline yang memberikan sinyal bullish untuk saham TLKM. Saham perbankan seperti saham Bank BNI (BBNI) dan Bank BCA (BBCA) juga bergerak di sekitar upperline Bollinger. Harga saham BBNI ditutup naik Rp60 (4,41%) dan saham BBCA ditutup naik Rp25 (0,85%). Harga minyak dunia yang belum beranjak naik melewati $125 sejak akhir pekan sebelumnya diharapkan akan meringankan laju inflasi di bulan September (bulan puasa). Pelaku bursa pun mengekspektasikan level BI rate akan tetap di posisi 8,75% hingga akhir tahun. Daya beli masyarakat dan permintaan kredit konsumsi perbankan diharapkan akan membaik di semester kedua tahun ini.
Di perdagangan selasa, bursa saham naik tipis 3,01 poin (0,1%) di level 2.278,68 setelah pada sesi pertama perdagangan terkoreksi 18 poin oleh profit taking saham batu bara, perbankan dan sahamTLKM. Saham TLKM bergerak turun Rp100 (-1,25%) setelah indikator RSI menyentuh level 60,41 (overbought) di perdagangan senin.
Di perdagangan kamis, bursa kembali bergerak positif ke posisi 2.304,51 naik 25,82 poin (1,1%). Harga minyak yang melemah ke posisi $122 per barel memberikan ekspektasi positif bagi perbaikan daya beli hingga akhir tahun. Harga batu bara internasional di Newcastle Port yang ikut bergerak turun di akhir pekan (25/7) ke level $174,70 per ton diharapkan akan meningkatkan penjualan batu bara karena harga telah bergerak menuju keseimbangan pasar. Saham BUMI naik Rp300 (4,65%), saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) naik Rp400 (3,02%), dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp850 (2,99%).
Laporan keuangan Bank Mandiri (BMRI) dan Bank BRI (BBRI) mencatat kinerja positif di semester I/2008 di tengah daya beli masyarakat yang sempat melemah di bulan Mei lalu karena kenaikan harga BBM. Saham BMRI naik Rp50 (1,71%) dan Saham BBRI naik Rp50 (0,8%). Bank Mandiri mencatat kenaikan laba bersih sebesar 22% atau Rp470 miliar dari level Rp2,1 triliun semester I/2007 menjadi Rp2,6 triliun di semester I/2008 ditopang oleh kenaikan LDR (Loan to Deposit Ratio) yang menjadi 59,53% dibandingkan semester I/2007 sebesar 53,64% berbanding lurus dengan jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun sebesar Rp224 triliun atau naik 12% dari jumlah tahun lalu yang sebesar Rp200 triliun. ROA di semester I/2008 sebesar 2,62% naik dari posisi semester I/2007 yang sebesar 2,42% dan ROE sebesar 21,63% naik dari posisi tahun lalu yang sebesar 18,83%. Laba bersih Bank BRI naik 19% ke posisi Rp2,82 triliun, pendapatan bunga bersih naik 17,8% serta laba operasional naik 22,6%. Kenaikan pendapatan bunga ditopang oleh LDR yang naik 77,01% dari posisi 72,73% di tahun lalu.
Di hari yang sama, saham Semen Gresik naik Rp50 (1,2%). Semen Gresik mencatat kenaikan laba bersih sebesar 63% pada semester I/2008. Dari sektor otomotif, saham Astra Internasional (ASII) naik Rp350 (1,58%). Astra Internasional mencatat laba bersih Rp4,7 triliun atau naik 80% di semester I/2008 yang ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar 46%. ROE naik dari 11,07% naik menjadi 16,01% dan ROA naik dari 4,4% menjadi 6,4%. PER saham Astra Internasional selama setahun terakhir sebesar 16,39 kali atau lebih rendah dari posisi semester I tahun lalu yang sebesar 26,04 kali.
Di akhir pekan, sentimen negatif level inflasi Juli yang sebesar 11,9% mendorong pelaku bursa untuk melakukan profit taking. Saham ASII terkoreksi turun Rp500 (-2,22%), BBRI turun Rp200 (-3,38%), BUMI turun Rp600 (-8,89%), PTBA turun Rp50 (-0,37%), dan TLKM turun Rp50 (-0,65%). Investor mengantisipasi pengumuman Rapat Dewan Guberbur Bank Indonesia pekan depan yang tentunya akan mempertimbangkan level inflasi Juli untuk posisi BI rate di awal Agustus.
Bursa saham selama sepekan terakhir bulan Juli bergerak rebound sejak awal pekan, namun di akhir pekan terkoreksi akibat profit taking pelaku pasar dan juga sentimen negatif laju inflasi Juli yang berada di level 11,9% (yoy) atau lebih tinggi dari posisi laju inflasi Juni yang sebesar 11,03% (yoy). IHSG naik tipis selama sepekan sebesar 3,41 poin (0,2%) dan ditutup pada level 2.248,75 pada Jumat kemarin.
Di awal pekan, IHSG bergerak naik oleh saham pertambangan, perbankan, dan telekomunikasi yang telah oversold sejak pekan sebelumnya. IHSG ditutup naik 30,33 poin (1,4%) ke level 2.275,68. Selain karena faktor oversold, harga minyak dunia yang tetap berkisar di level $124 per barel memberikan ekspektasi positif terhadap laju inflasi dalam negeri dalam semester kedua tahun ini. Saham Bumi Resources (BUMI) ditutup naik Rp400(6,72%). Indikator RSI (Relative Strenght Index) berada di posisi 40,61 atau berada dalam area oversold sejak awal Juli. Selain itu, indikator MACD semakin melemah di areal negatif yang memberikan sinyal beli untuk saham BUMI.
Faktor teknikal juga mendongkrak saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dengan kenaikan sebesar Rp250 (3,23%). Indikator Bollinger menunjukkan pergerakan harga TLKM berada di sekitar upperline yang memberikan sinyal bullish untuk saham TLKM. Saham perbankan seperti saham Bank BNI (BBNI) dan Bank BCA (BBCA) juga bergerak di sekitar upperline Bollinger. Harga saham BBNI ditutup naik Rp60 (4,41%) dan saham BBCA ditutup naik Rp25 (0,85%). Harga minyak dunia yang belum beranjak naik melewati $125 sejak akhir pekan sebelumnya diharapkan akan meringankan laju inflasi di bulan September (bulan puasa). Pelaku bursa pun mengekspektasikan level BI rate akan tetap di posisi 8,75% hingga akhir tahun. Daya beli masyarakat dan permintaan kredit konsumsi perbankan diharapkan akan membaik di semester kedua tahun ini.
Di perdagangan selasa, bursa saham naik tipis 3,01 poin (0,1%) di level 2.278,68 setelah pada sesi pertama perdagangan terkoreksi 18 poin oleh profit taking saham batu bara, perbankan dan sahamTLKM. Saham TLKM bergerak turun Rp100 (-1,25%) setelah indikator RSI menyentuh level 60,41 (overbought) di perdagangan senin.
Di perdagangan kamis, bursa kembali bergerak positif ke posisi 2.304,51 naik 25,82 poin (1,1%). Harga minyak yang melemah ke posisi $122 per barel memberikan ekspektasi positif bagi perbaikan daya beli hingga akhir tahun. Harga batu bara internasional di Newcastle Port yang ikut bergerak turun di akhir pekan (25/7) ke level $174,70 per ton diharapkan akan meningkatkan penjualan batu bara karena harga telah bergerak menuju keseimbangan pasar. Saham BUMI naik Rp300 (4,65%), saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) naik Rp400 (3,02%), dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp850 (2,99%).
Laporan keuangan Bank Mandiri (BMRI) dan Bank BRI (BBRI) mencatat kinerja positif di semester I/2008 di tengah daya beli masyarakat yang sempat melemah di bulan Mei lalu karena kenaikan harga BBM. Saham BMRI naik Rp50 (1,71%) dan Saham BBRI naik Rp50 (0,8%). Bank Mandiri mencatat kenaikan laba bersih sebesar 22% atau Rp470 miliar dari level Rp2,1 triliun semester I/2007 menjadi Rp2,6 triliun di semester I/2008 ditopang oleh kenaikan LDR (Loan to Deposit Ratio) yang menjadi 59,53% dibandingkan semester I/2007 sebesar 53,64% berbanding lurus dengan jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun sebesar Rp224 triliun atau naik 12% dari jumlah tahun lalu yang sebesar Rp200 triliun. ROA di semester I/2008 sebesar 2,62% naik dari posisi semester I/2007 yang sebesar 2,42% dan ROE sebesar 21,63% naik dari posisi tahun lalu yang sebesar 18,83%. Laba bersih Bank BRI naik 19% ke posisi Rp2,82 triliun, pendapatan bunga bersih naik 17,8% serta laba operasional naik 22,6%. Kenaikan pendapatan bunga ditopang oleh LDR yang naik 77,01% dari posisi 72,73% di tahun lalu.
Di hari yang sama, saham Semen Gresik naik Rp50 (1,2%). Semen Gresik mencatat kenaikan laba bersih sebesar 63% pada semester I/2008. Dari sektor otomotif, saham Astra Internasional (ASII) naik Rp350 (1,58%). Astra Internasional mencatat laba bersih Rp4,7 triliun atau naik 80% di semester I/2008 yang ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar 46%. ROE naik dari 11,07% naik menjadi 16,01% dan ROA naik dari 4,4% menjadi 6,4%. PER saham Astra Internasional selama setahun terakhir sebesar 16,39 kali atau lebih rendah dari posisi semester I tahun lalu yang sebesar 26,04 kali.
Di akhir pekan, sentimen negatif level inflasi Juli yang sebesar 11,9% mendorong pelaku bursa untuk melakukan profit taking. Saham ASII terkoreksi turun Rp500 (-2,22%), BBRI turun Rp200 (-3,38%), BUMI turun Rp600 (-8,89%), PTBA turun Rp50 (-0,37%), dan TLKM turun Rp50 (-0,65%). Investor mengantisipasi pengumuman Rapat Dewan Guberbur Bank Indonesia pekan depan yang tentunya akan mempertimbangkan level inflasi Juli untuk posisi BI rate di awal Agustus.
Jumat, Agustus 01, 2008
Ulasan Pasar 31 Juli 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham bergerak positif di perdagangan kemarin ditutup pada posisi 2.304,51 naik 25,82 poin (1,1%) tertopang oleh aksi beli investor terhadap saham pertambangan, perbankan, industri dasar dan otomotif.
Harga minyak yang bergerak melemah ke posisi $122 per barel memberikan sentimen positif bagi perbaikan daya beli hingga akhir tahun. Harga batu bara internasional di Newcastle Port yang ikut bergerak turun di akhir pekan kemarin ke level $174,70 per ton diharapkan akan meningkatkan penjualan batu bara karena harga telah bergerak menuju keseimbangan pasar. Saham Bumi Resources (BUMI) naik Rp300 (4,65%), saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) naik Rp400 (3,02%), dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp850 (2,99%).
Dari internal bursa, selain harga minyak yang bergerak melemah, laporan keuangan perbankan yang memaparkan kinerja positif perbankan selama semester I/2008 memberikan sentimen positif bagi saham perbankan seperti Bank Mandiri dan Bank BRI. Kinerja positif perbankan tersebut di tengah daya beli masyarakat sempat melemah di bulan Mei lalu karena kenaikan harga BBM. Harga saham Bank Mandiri kemarin bergerak naik Rp50 (1,71%) ke posisi Rp2.975. Bank Mandiri mencatat kenaikan laba bersih sebesar 22% atau Rp470 miliar dari level Rp2,1 triliun semester I/2007 menjadi Rp2,6 triliun di semester I/2008. Kenaikan itu ditopang oleh meningkatnya LDR (Loan to Deposit Ratio) menjadi 59,53% dibandingkan semester I/2007 yang sebesar 53,64% berbanding lurus dengan naiknya jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun sebesar Rp224 triliun atau naik 12% dari jumlah tahun lalu yang sebesar Rp200 triliun. ROA di semester I/2008 sebesar 2,62% naik dari posisi semester I/2007 yang sebesar 2,42% dan ROE sebesar 21,63% naik dari posisi tahun lalu yang sebesar 18,83%. Laba bersih Bank BRI naik 19% ke posisi Rp2,82 triliun, pendapatan bunga bersih naik 17,8% dan laba operasional naik 22,6%. Kenaikan pendapatan bunga ditopang oleh LDR yang naik 77,01% dari posisi 72,73% tahun lalu. Kemarin saham BBRI ditutup naik Rp50 (0,8%) ke posisi Rp6.100
Semen Gresik mencatat kenaikan laba bersih sebesar 63% pada semester I/2008 dan harga saham SMGR kemarin naik Rp50 (1,2%) ke posisi Rp4.100. Dari sektor otomotif, IHSG terdongkrak oleh kenaikan harga saham Astra Internasional yang naik Rp350 (1,58%) ke posisi Rp22.550 setelah laporan keuangan semester I/2008 Astra Internasional mencatat laba bersih Rp4,7 triliun atau naik 80% yang ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar 46%. ROE naik dari 11,07% naik menjadi 16,01% dan ROA naik dari 4,4% menjadi 6,4%. PER saham Astra Internasional selama setahun terakhir sebesar 16,39 kali lebih rendah dari posisi semester I tahun lalu yaitu 26,04 kali.
Bursa saham bergerak positif di perdagangan kemarin ditutup pada posisi 2.304,51 naik 25,82 poin (1,1%) tertopang oleh aksi beli investor terhadap saham pertambangan, perbankan, industri dasar dan otomotif.
Harga minyak yang bergerak melemah ke posisi $122 per barel memberikan sentimen positif bagi perbaikan daya beli hingga akhir tahun. Harga batu bara internasional di Newcastle Port yang ikut bergerak turun di akhir pekan kemarin ke level $174,70 per ton diharapkan akan meningkatkan penjualan batu bara karena harga telah bergerak menuju keseimbangan pasar. Saham Bumi Resources (BUMI) naik Rp300 (4,65%), saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) naik Rp400 (3,02%), dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp850 (2,99%).
Dari internal bursa, selain harga minyak yang bergerak melemah, laporan keuangan perbankan yang memaparkan kinerja positif perbankan selama semester I/2008 memberikan sentimen positif bagi saham perbankan seperti Bank Mandiri dan Bank BRI. Kinerja positif perbankan tersebut di tengah daya beli masyarakat sempat melemah di bulan Mei lalu karena kenaikan harga BBM. Harga saham Bank Mandiri kemarin bergerak naik Rp50 (1,71%) ke posisi Rp2.975. Bank Mandiri mencatat kenaikan laba bersih sebesar 22% atau Rp470 miliar dari level Rp2,1 triliun semester I/2007 menjadi Rp2,6 triliun di semester I/2008. Kenaikan itu ditopang oleh meningkatnya LDR (Loan to Deposit Ratio) menjadi 59,53% dibandingkan semester I/2007 yang sebesar 53,64% berbanding lurus dengan naiknya jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun sebesar Rp224 triliun atau naik 12% dari jumlah tahun lalu yang sebesar Rp200 triliun. ROA di semester I/2008 sebesar 2,62% naik dari posisi semester I/2007 yang sebesar 2,42% dan ROE sebesar 21,63% naik dari posisi tahun lalu yang sebesar 18,83%. Laba bersih Bank BRI naik 19% ke posisi Rp2,82 triliun, pendapatan bunga bersih naik 17,8% dan laba operasional naik 22,6%. Kenaikan pendapatan bunga ditopang oleh LDR yang naik 77,01% dari posisi 72,73% tahun lalu. Kemarin saham BBRI ditutup naik Rp50 (0,8%) ke posisi Rp6.100
Semen Gresik mencatat kenaikan laba bersih sebesar 63% pada semester I/2008 dan harga saham SMGR kemarin naik Rp50 (1,2%) ke posisi Rp4.100. Dari sektor otomotif, IHSG terdongkrak oleh kenaikan harga saham Astra Internasional yang naik Rp350 (1,58%) ke posisi Rp22.550 setelah laporan keuangan semester I/2008 Astra Internasional mencatat laba bersih Rp4,7 triliun atau naik 80% yang ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar 46%. ROE naik dari 11,07% naik menjadi 16,01% dan ROA naik dari 4,4% menjadi 6,4%. PER saham Astra Internasional selama setahun terakhir sebesar 16,39 kali lebih rendah dari posisi semester I tahun lalu yaitu 26,04 kali.
Langganan:
Postingan (Atom)