Selasa, Maret 03, 2009
Ulasan Pasar edisi 3 Maret 2009
Di awal bulan Maret ini pergerakan indeks Bisnis-27 kembali mengalami tekanan jual oleh data inflasi bulan Februari yang mengakhiri deflasi dua bulan berturut-turut yaitu Desember 2008 dan Januari 2009. Pergerakan indeks DJIA dan regional Asia Pasifik juga menambah tekanan aksi jual serta realisasi profit taking saham-saham indeks Bisnis-27 dengan tujuan mengamankan likuiditas. Inflasi Februari 2009 sebesar 0,21%, deflasi Desember 2008 sebesar 0,04%, dan deflasi Januari 2009 sebesar 0,07%.
Indeks Bisnis-27 kemarin ditutup di level 110,65 lebih rendah 3,08 poin (-2,71%) dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu.
Indeks DJIA bergerak melemah sebesar 119,15 poin (-1,66%) ke level 7.062,93 tertekan oleh rencana Presiden AS Barack Obama yang akan menaikkan komposisi saham pemerintah di Citigroup menjadi 39% yang mengindikasikan krisis sektor keuangan AS sangat serius. Pesimisme dari perkembangan krisis keuangan AS tersebut menjalar ke indeks regional Asia Pasifik yang bergerak mengikuti indeks DJIA. Indeks Hang Seng melemah 494,11 poin (-3,86%), Nikkei-225 turun 288,27 poin (-3,81%), indeks Taiex Taiwan turun 131,32 poin (-2,88%), dan indeks STI Singapura turun 61,47 poin (-3,85%).
Investor cenderung mengamankan likuiditas mereka untuk mengantisipasi kerugian lebih lanjut akibat koreksi pasar yang kemarin mengkonfirmasi tren bearish. Data inflasi Februari menjadi penguat posisi wait and see yang telah mereka ambil sejak pertengahan pekan lalu ketika indeks Bisnis-27 mulai bergerak melemah dari posisi 115,66 pada Rabu ke level 114,43 pada Kamis, dan berlanjut hingga akhir pekan yang ditutup di level 113,73. Di samping itu, data inflasi Februari akan menghambat penurunan lanjutan BI rate yang tentunya akan menghambat penurunan suku bunga kredit konsumsi dari perbankan. Lebih lanjut, upaya untuk mendongkrak pendapatan bunga bersih perbankan, serta penjualan di sektor otomotif. Saham Astra Internasional (ASII) turun Rp450 (-3,98%) ke level Rp10.850 dan saham perbankan seperti Bank BNI (BBNI) turun 7,14% ke level Rp650.
Laporan keuangan Aneka Tambang yang melaporkan penyusutan laba bersih tahun 2008 sebesar 74% menjadi Rp1,31 triliun dari sebesar Rp5,13 triliun tahun 2007 memberikan sentimen negatif bagi bursa karena penyusutan laba bersih Aneka Tambang tersebut juga merupakan imbas dari kerugian transaksi derivatif yang dipengaruhi depresiasi rupiah terhadap dolar AS.
Investor mencermati pergerakan rupiah yang cenderung bergerak melemah terhadap dolar AS sejak pertengahan Februari dengan kecepatan tajam terutama pada 17 Februari ketika rupiah melemah 240 atau 2,03% poin ke level Rp12.040/US$ dari level Rp11.800/US$. Pada perdagangan awal pekan ini, rupiah diperdagangkan di level Rp12.010/US$ atau melanjutkan pelemahan sejak Kamis pekan lalu dari level Rp11.935/US$.Saham ANTM terkoreksi sebesar 3,33% pada perdagangan kemarin ditutup di level Rp1.160.
Ulasan IHSG
Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada awal pekan ini bergerak melemah sebesar 29,38 poin (-2,28%) ke level 1.256,11 tertekan oleh pergerakan indeks DJIA dan regional serta pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Seluruh sektor ditutup melemah dengan sektor pertambangan mencatat pelemahan tertinggi sebesar -4,72% diikuti oleh sektor aneka industri sebesar -2,97%, keuangan sebesar -2,3%, perdagangan dan jasa sebesar -2%, infrastruktur sebesar -1,97%, manufaktur sebesar -1,86%, industri dasar dan kimia sebesar -1,74%, barang konsumsi sebesar -1,28%, agrikultur sebesar -1,24%, dan properti sebesar -0,33%.
Senin, Maret 02, 2009
Ulasan Pasar sepekan edisi 2 Maret 2009
Ulasan Indeks Bisnis-27
Di pekan terakhir bulan Februari kemarin, tekanan jual masih mewarnai pergerakan indeks Bisnis-27 sebagai imbas melemahnya pergerakan indeks Dow Jones (DJIA) dan indeks regional Asia Pasifik. Indeks Bisnis-27 ditutup pada akhir pekan kemarin di level 113,73 lebih rendah 1,35 poin (-1,17%) dibandingkan dengan penutupan pekan ketiga Februari.
Investor masih berposisi wait and see sepanjang pekan kemarin memperhatikan fluktuasi rupiah terhadap dolar AS yang masih melemah di kisaran Rp12.000/US$. Data inflasi bulan Februari yang akan diumumkan awal pekan ini dan realisasi level BI rate untuk tetap di level 8,25% atau bahkan lebih rendah menjadi faktor penunda untuk aksi beli investor hingga pekan pertama Maret ini.
Selain itu, investor juga menunggu laporan keuangan emiten tahun 2008 yang sudah mulai keluar pada akhir Februari kemarin. Aksi beli sudah mulai nampak pada beberapa saham unggulan yang mengalami oversold pada pertengahan Februari yang diiringi oleh rencana pembagian dividen, di antaranya pada saham Astra Internasional (ASII) yang bergerak naik dalam sepekan kemarin dengan membukukan gain 3,67%. Laba bersih dan EPS (earning per share) ASII naik 41% pada tahun 2008 dibandingkan dengan 2007. Rencana pembagian dividen sebesar Rp570 per saham dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) pada bulan Mei mendatang ikut mendongkrak ASII selama sepekan terakhir. Diperkirakan sentimen bursa pada awal pekan ini akan banyak diwarnai oleh laporan keuangan emiten 2008.
Sepanjang pekan kemarin, saham-saham lainnya yang mulai bergerak naik adalah Astra Agro Lestari (AALI) sebesar 6,2% yang ditopang laba bersih AALI tahun 2008 yang naik 33,5% dibandingkan dengan tahun 2007. Selain AALI, saham Aneka Tambang (ANTM) naik 5,26% ditopang oleh sentimen positif harga emas yang menembus level psikologis US$1000 per tray ounce. Harga minyak dunia yang telah kembali bergerak di atas US$40 per barel selama sepekan kemarin turut mengangkat harga nikel ke level US$10.016 per ton atau tertinggi sejak pertengahan Februari dan memberikan sentimen positif bagi saham Internasional Nickel Indonesia (INCO) di tengah perilaku selective buying investor dan orientasi investasi jangka pendek. Rencana pembagian dividen turut mendongkrak saham INCO. Saham United Tractors (UNTR) naik 1,9% ditopang oleh kenaikan laba bersih sepanjang tahun 2008 sebesar 78%.
Saham Medco Energy Internasional (MEDC) melonjak 24,85% dalam sepekan setelah muncul berita bahwa China National Petroleum Corp. akan membeli saham Verenex yang merupakan perusahaan patungan Medco dan Verenex Energy Inc. senilai US$400juta.
Saham-saham perbankan mendominasi tekanan pada indeks Bisnis-27 selama sepekan terimbas sentimen fluktuasi rupiah terhadap dolar AS. Saham Bank BRI (BBRI) turun -11,31%, Bank CIMB-Niaga turun -7,06%, dan Bank BCA (BBCA) turun -4,08%.
Ulasan IHSG
Indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang pekan terakhir Februari kemarin bergerak melemah ke level 1.285,48 atau turun 11,46 poin (-0,88%) dibandingkan dengan sepekan sebelumnya tertekan oleh fluktuasi rupiah terhadap dolar AS dan posisi investor yang wait and see terhadap fluktuasi indeks DJIA dan regional Asia Pasifik.
Beberapa laporan keuangan emiten dan rencana pembagian dividen menjadi sentimen positif penahan koreksi IHSG lebih lanjut seperti yang terjadi pada saham Astra Internasional (ASII) yang naik 3,67%.
Harga minyak dunia yang telah kembali bergerak di atas US$40 per barel selama sepekan kemarin turut mengangkat harga nikel ke level US$10.016 per ton atau tertinggi sejak pertengahan Februari dan memberikan sentimen positif bagi saham dari sektor pertambangan yaitu Internasional Nickel Indonesia (INCO) di tengah perilaku selective buying investor dan orientasi investasi jangka pendek.
Akuisisi saham Petrosea (PTRO) oleh Indika Energy sebesar 82% mendongkrak saham PTRO dalam sepekan sebesar 34,67% dan kenaikan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring kewajiban Indika Energy untuk melakukan tender offer atas saham PTRO yang tersisa di bursa.
Selasa, Februari 24, 2009
Ulasan Pasar sepekan edisi 23 Februari 2009
Pada pekan ketiga Februari, indeks Bisnis-27 mengalami tekanan jual cukup signifikan sebesar 5,44 poin (-4,51%) ditutup pada Jumat kemarin di level 115,08. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS sebesar 2% dalam sepekan, koreksi harga CPO di pasaran internasional, dan proses tender offer saham Indosat (ISAT) yang selesai pada 18 Februari 2009 menjadi faktor penekan indeks Bisnis-27.
Selama sepekan, saham Bank Danamon (BDMN) membukukan gain tertinggi sebesar 19,1% diikuti oleh saham Bank Mandiri (BMRI) sebesar 1,72%. Rencana right issue Rp4 triliun saham Bank Danamon untuk memperkuat permodalannya memberikan sentimen positif bagi pergerakan saham BDMN. Selain rencana right issue, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), dengan pemegang saham mayoritas yaitu PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) sebesar 75%, membukukan laba bersih sebesar Rp1,02 triliun pada tahun 2008 atau tumbuh sebesar 82,3% dari laba bersih 2007 yang sebesar Rp559 miliar.
Saham Indosat (ISAT) membukukan loss terbesar yaitu 25% dipicu oleh sulitnya investor menjual saham ISAT setelah tender offer dari Qatar Telecom selesai pada 18 Februari. Investor menjual murah sisa saham ISAT untuk mendapatkan likuiditas.
Selain saham ISAT, saham Indocement Tunggal Perkasa (INTP) membukukan loss sebesar -10% dalam sepekan terakhir diikuti oleh saham Internasional Nickel Indonesia (INCO) sebesar -9,68%, United Tractors (UNTR) sebesar -8,7%, London Sumatera Plantations (LSIP) sebesar -7,75%, Bank Central Asia (BBCA) turun sebesar -7,55%, Bank Pan Indonesia (PNBN) -6,25%, Adaro Energy (ADRO) -5,95%, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) -5,08%, Indo Tambangraya Megah (ITMG) -4,5%, Semen Gresik (SMGR) -2,08%, dan Astra Agro Lestari (AALI) -1,63%. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS ke level Rp12.100/US$ menjadi faktor koreksi jangka pendek saham-saham perbankan.
Faktor pelemahan harga minyak yang berada di bawah level US$40 per barel memberikan sentimen negatif bagi saham-saham komoditas alternatif minyak seperti batubara dan CPO. Harga minyak dalam dua pekan terakhir telah tertekan 15,4% ke level terendahnya US$33,98 per barel pada 12 Februari. Meski sempat melonjak tajam ke level US$39,48 per barel Kamis kemarin, tetapi kenaikan tersebut tidak bertahan lama karena kembali terkoreksi ke level US$38,75 per barel pada akhir pekan kemarin.
Harga CPO di bursa Malaysia bergerak bearish dan membukukan koreksi sebesar -8% dalam sepekan terakhir ke level US$497,42 per ton.
Melemahnya harga minyak yang menjadi indikasi belum adanya signal perbaikan dalam krisis ekonomi global, membuat investor cenderung merealisasikan gain jangka pendek dan berposisi wait and see terhadap gejolak bursa baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, Pemerintah Indonesia kembali mengoreksi target pertumbuhan ekonomi tahun 2009 dari 4,7% menjadi 4,5% seiring potensi penurunan penerimaan negara yang cukup dalam sebagai imbas krisis ekonomi global.
Aksi beli diperkirakan akan kembali mewarnai bursa pada pekan terakhir Februari ini terhadap saham-saham indeks Bisnis-27 yang telah terkoreksi signifikan pada pekan kemarin.
Ulasan IHSG
Selama sepekan terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak melemah sebesar -3,1% ditutup di level 1.296,94 pada Jumat kemarin. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS ke level Rp12.100/US$ akhir pekan kemarin, harga minyak dunia yang masih melemah dan aksi jual murah sisa saham Indosat di bursa menjadi faktor penekan IHSG. Saham Indosat turun -25% dalam sepekan ditutup di level Rp4.350.
Sektor infrastruktur turun -6,2%, agrikultur turun -4,43%, pertambangan turun -3,01%, industri dasar dan kimia turun -2,87%, perdagangan dan jasa turun -2,73%, keuangan turun -2,39%, manufaktur turun -1,26%, aneka industri turun -0,57%, konsumsi turun -0,51%, dan sektor properti turun -0,2%.
Harga minyak yang berada di bawah level US$40 per barel memberikan sentimen negatif bagi saham-saham komoditas alternatif minyak seperti batubara dan CPO. Dalam dua pekan terakhir harga minyak telah tertekan 15,4% ke level terendahnya US$33,98 per barel pada 12 Februari. Meski sempat melonjak tajam ke level US$39,48 per barel Kamis kemarin, tetapi kenaikan tersebut tidak bertahan lama karena akhir pekan kemarin kembali terkoreksi ke level US$38,75 per barel
Harga CPO di bursa Malaysia bergerak bearish dan membukukan koreksi sebesar -8% dalam sepekan terakhir ke level US$497,42 per ton.
Melemahnya harga minyak yang menjadi indikasi belum adanya signal perbaikan dalam krisis ekonomi global dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS membuat investor cenderung merealisasikan gain jangka pendek dan mengambil posisi wait and see terhadap gejolak bursa.
Rabu, Februari 18, 2009
Ulasan Pasar edisi 18 Februari 2009
Di hari kedua pekan ini indeks Bisnis-27 terkoreksi signifikan mengikuti pelemahan bursa regional. Indeks bursa regional bergerak melemah setelah perekonomian Jepang melemah 3,3% dalam 35 tahun terakhir. Indeks Nikkei turun 104,66 poin (-1,35%), %), indeks STI Singapura turun 42,78 poin (-2,55%), indeks Shanghai turun 69,95 poin (-2,93), indeks Hang Seng turun 510,48 poin (-3,79%), dan indeks Kospi turun 48,28 poin (-4,11%).
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS ikut terimbas oleh gejolak bursa regional dan memicu aksi jual khususnya investor asing di Bursa Efek Indonesia. Investor asing membukukan nilai jual sebesar Rp40 miliar. Rupiah terdepresiasi ke level Rp12.040/US$, melemah 2,03% atau terbesar sejak awal Februari ini. Indeks Bisnis-27 ditutup melemah 2,72 poin (-2,26%) ke level 117,89.
Pemerintah Indonesia kembali mengoreksi target pertumbuhan ekonomi tahun 2009 dari 4,7% menjadi 4,5% seiring potensi penurunan penerimaan negara yang cukup dalam imbas krisis ekonomi global.
Dari 27 saham indeks Bisnis-27, hanya saham Indosat (ISAT) dan Astra Agro Lestari (AALI) yang mencatat gain hingga penutupan Selasa kemarin. Saham ISAT ditutup naik 0,88% dan AALI naik 0,41%. Sedangkan 3 saham tercatat tidak berubah dari level sehari sebelumnya yaitu Lippo Karawaci (LPKR) di level Rp830, Jasa Marga (JSMR) di level Rp940, dan Bank CIMB-Niaga (BNGA) di level Rp415.
Aksi profit taking jangka pendek terjadi untuk mengantisipasi koreksi bursa lebih lanjut. Saham Indah Kiat Pulp & Papers (INKP) terkoreksi -6,25% sekaligus menjadi pencetak loss terbesar Selasa kemarin. Saham INKP telah menyentuh level overbought di level 69 dalam indikator RSI (Relative Strenght Index) pada awal pekan ini. Investor melepas saham INKP oleh faktor jenuh beli tersebut dan merealisasikan gain INKP untuk mengamankan likuiditas serta mengambil posisi wait and see terhadap gejolak pasar.
Selain INKP, saham Bank BCA (BBCA) terkoreksi -5,61%, saham Bank Internasional Indonesia (BNII) terkoreksi -4,84%, saham Adaro Energy (ADRO) turun -3,61%, Indocement Tunggal Perkasa (INTP) turun -3,39%, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun -3,23%, Medco Energi Internasional (MEDC) turun -2,92%, Astra Internasional (ASII) turun -2,7%, Bank BNI (BBNI) turun -2,7%, dan United Tractors (UNTR) turun -2,54%.
Faktor depresiasi rupiah sebesar 2,03% dalam sehari kemarin terhadap dolar AS menjadi faktor utama penekan saham-saham perbankan. Aksi profit taking untuk gain sejak akhir pekan kemarin ikut mewarnai koreksi saham-saham perbankan dengan mempertimbangkan faktor CAR (Capital Adequacy Ratio) bank umum untuk tahun 2008 yang terendah sejak 2003 yaitu 16,76% dan CAR bank BUMN untuk tahun 2008 yaitu 14,31%. Selain CAR, kenaikan biaya operasional perbankan per Desember 2008 sebesar 25,7% oleh meningkatnya biaya pencadangan untuk mengendalikan potensi NPL (non performing loan) menjadi faktor penekan tambahan bagi saham-saham perbankan.
Ulasan IHSG
Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa kemarin terkoreksi sebesar 23,96 poin (-1,79%) terimbas oleh pelemahan indeks regional. Indeks Nikkei turun 104,66 poin (-1,35%), %), indeks STI Singapura turun 42,78 poin (-2,55%), indeks Shanghai turun 69,95 poin (-2,93), indeks Hang Seng turun 510,48 poin (-3,79%), dan indeks Kospi turun 48,28 poin (-4,11%).
Seluruh sektor mengalami pelemahan. Sektor industri dasar mengalami koreksi tertinggi sebesar -2,92%, sektor keuangan -2,42%, sektor pertambangan -2,28%, sektor aneka industri -1,99%, sektor infrastruktur -1,79%, sektor manufaktur -1,56%, sektor perdagangan dan jasa -0,92%, sektor property -0,48%, dan sektor barang konsumsi -0,31%.
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS ikut terimbas oleh gejolak bursa regional dan memicu aksi jual pada Bursa Efek Indonesia. Rupiah terdepresiasi ke level Rp12.040/US$, melemah 2,03%. Selain itu, pemerintah kembali mengoreksi target pertumbuhan ekonomi di 2009 dari 4,7% menjadi 4,5% seiring potensi penurunan penerimaan negara yang cukup dalam akibat imbas krisis ekonomi global yang terjadi
Selasa, Februari 17, 2009
Ulasan Pasar edisi 17 Februari 2009
Di awal pekan ini indeks Bisnis-27 ditutup menguat 0,09 poin (0,08%) ke level 120,61 ditopang oleh aksi beli selektif (selective buying) saham-saham yang telah terkoreksi signifikan dalam sepekan terakhir.
Saham Indah Kiat Pulp & Papers (INKP) mencetak gain tertinggi pada perdagangan Senin kemarin yaitu sebesar 4,35% diikuti oleh saham Bank Danamon (BDMN) sebesar 3,37%. Saham United Tractors (UNTR) naik 2,61%, ASII naik 1,37%, Bank BRI (BBRI) naik 1,13%, dan Bank BCA (BBCA) naik 0,94%.
Saham INKP melanjutkan kenaikan setelah sepekan kemarin mencetak gain 4,55%. Secara teknis indikator Bollinger saham INKP bergerak melewati upper band yang membuka rebound lanjutan dalam pekan ini. Saham INKP ditutup di level Rp960. Saham UNTR mengalami kondisi yang sama dengan INKP melanjutkan gain sepekan kemarin yang sebesar 12,75% atau terbesar di antara 27 saham indeks Bisnis-27. Faktor teknis masih mewarnai bullish UNTR di awal pekan ini. Saham United Tractors (UNTR) pada Senin lalu membentuk bottom triangle yang membuka signal bullish ke level Rp7.722 – Rp 8.312,55 dalam enam minggu mendatang.
Aksi beli jangka pendek karena faktor oversold mendongkrak saham-saham perbankan dan saham ASII pada perdagangan Senin kemarin. Saham BDMN naik Rp75 (3,37%) ke Rp2.300, saham BBRI naik Rp50 (1,13%) ke Rp4.475, dan saham BBCA naik Rp25 (0,94%) ke Rp2.675. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), dengan pemegang saham mayoritas yaitu PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) sebesar 75%, membukukan laba bersih sebesar Rp1,02 triliun pada tahun 2008 atau tumbuh sebesar 82,3% dari laba bersih 2007 yang sebesar Rp559 miliar.
Saham ASII naik Rp150 (1,37%) ke Rp11.100. Dalam sepekan kemarin, saham ASII telah terkoreksi -7,98% oleh faktor depresiasi rupiah terhadap dolar AS sebesar 4,3% sejak akhir Januari lalu dan sentimen negatif penjualan pasar mobil domestik pada Januari 2009 yang turun 23,3% dibandingkan Januari 2008 dari 41.378 unit ke level 31.725 unit.
Saham London Sumatera Plantations (LSIP) dan Astra Agro Lestari (AALI) yang membukukan gain 2,9% dan 1,65% dalam sepekan kemarin, di awal pekan ini terkoreksi oleh profit taking jangka pendek yang turut ditekan oleh sentimen negatif oleh koreksi harga CPO di Malaysia sebesar -1,8% ke level US$541 per ton. Saham LSIP Senin kemarin turun Rp75 (-2,11%) ke Rp3.475 dan saham AALI turun Rp150 (-1,22%) ke Rp12.150.
Ulasan IHSG
Indeks harga saham gabungan (IHSG) diawal pekan ini bergerak naik tipis 3,26 poin (0,24%) ke level 1.342,00 ditopang oleh sektor industri dasar, perdagangan dan Jasa, dan sektor aneka industri.
Sektor industri dasar naik 1,73% diikuti oleh sektor perdagangan dan Jasa yang naik 1,26%. Sektor aneka industri naik 0,87%, sektor keuangan naik 0,68%. Sedangkan sektor agrikultur menjadi penekan utama kenaikan IHSG kemarin dengan koreksi -1,68% diikuti oleh sektor pertambangan sebesar -0,52%.
Saham INKP melanjutkan kenaikan setelah sepekan kemarin mencetak gain 4,55%, secara teknis indikator Bollinger saham INKP bergerak melewati upper band yang membuka rebound lanjutan dalam pekan ini. Saham INKP ditutup di level Rp960.
Aksi beli jangka pendek karena faktor oversold mendongkrak saham ASII dan saham-saham perbankan pada perdagangan Senin kemarin. Saham ASII naik Rp150 (+1,37%) ke Rp11.100, saham BDMN naik Rp75 (3,37%) ke Rp2.300, saham BBRI naik Rp50 (1,13%) ke Rp4.475, dan saham BBCA naik Rp25 (0,94%) ke Rp2.675.
Dari sektor keuangan, selain karena aksi beli oleh oversold saham perbankan, saham ADMF kemarin naik drastis sebesar Rp290 (+16,2%) ke level Rp2.080. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) membukukan laba bersih sebesar Rp1,02 triliun pada tahun 2008 atau tumbuh sebesar 82,3% dari laba bersih 2007 yang sebesar Rp559 miliar.
Saham London Sumatera Plantations (LSIP) dan Astra Agro Lestari (AALI) yang membukukan gain 2,9% dan 1,65% dalam sepekan kemarin, di awal pekan ini terkoreksi oleh profit taking jangka pendek yang turut ditekan oleh sentimen negatif oleh koreksi harga CPO di Malaysia sebesar -1,8% ke level US$541 per ton. Saham LSIP Senin kemarin turun Rp75 (-2,11%) ke Rp3.475 dan saham AALI turun Rp150 (-1,22%) ke Rp12.150.
Senin, Februari 16, 2009
Ulasan Pasar sepekan edisi 16 Februari 2009
Sepanjang pekan kemarin indeks Bisnis-27 bergerak melemah sebesar 2,03 poin (-1,65%) tertekan koreksi saham-saham perbankan dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Indeks Bisnis-27 ditutup melemah ke level 120,52. Pada perdagangan Jumat, indeks Bisnis-27 mencatat kenaikan sebesar 1,31 poin (+1,1%) sebagai lanjutan rebound sejak Kamis sebelumnya yang ditopang aksi beli terbatas (buy on weaknesses) saham-saham perbankan yang telah oversold sejak awal pekan hingga Rabu dengan tetap memperhatikan fluktuasi rupiah terhadap dolar AS.
Saham United Tractors (UNTR) menjadi saham pencetak gain terbesar dari 27 saham indeks Bisnis-27 dalam sepekan terakhir dengan kenaikan harga sebesar 12,75% diikuti oleh saham Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) sebesar 4,55% dan saham Aneka Tambang (ANTM) sebesar 3,6%. Saham perkebunan seperti London Sumatera Plantations (LSIP) dan Astra Agro Lestari (AALI) masing-masing membukukan gain sebesar 2,9% dan 1,65%. Saham indutri dasar seperti Semen Gresik (SMGR) naik 2,86% dan saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik 1,56%.
Faktor teknikal mendominasi kenaikan harga saham-saham indeks Bisnis-27. Saham LSIP bergerak naik mengkonfirmasi signal bullish yang dibentuk pada Selasa seiring indikator MACD yang mulai bergerak di atas nol atau memasuki areal positif. Indikator Bollinger bergerak di sekitar upper band yang membuka peluang gain hingga akhir pekan. Kondisi yang sama terjadi pada saham AALI, indikator MACD saham AALI telah membuka peluang penguatan sejak awal pekan dengan memasuki areal positif atau mulai bergerak di atas nol. Pergerakan rally harga CPO di bursa Malaysia sejak akhir Januari 2009 hingga pekan pertama Februari sebesar 7,7% menjadi faktor katalis kenaikan saham AALI. Saham United Tractors (UNTR) di awal pekan membentuk bottom triangle yang membuka signal bullish ke level Rp7.722 – Rp 8.312,55 dalam dua bulan ke depan.
Saham Semen Gresik mendapat sentimen positif dari rencana Pemerintah yang akan menggiatkan belanja di sektor infrastruktur dalam lima tahun mendatang untuk perbaikan sektor riil dengan kebutuhan dana Rp1.429 triliun.
Saham-saham perbankan mewarnai koreksi indeks Bisnis-27 sejak perdagangan Senin yang membawa posisi beli menjelang akhir pekan. Saham Bank Pan Indonesia (PNBN) mencatat loss terbesar sepanjang pekan kemarin yaitu -9,43% diikuti oleh saham Bank Internasional Indonesia (BNII) sebesar -8,96%. Saham Bank Central Asia (BBCA) terkoreksi sebesar -4,5%, saham Bank Negara Indonesia (BBNI) sebesar -3,9%, dan Bank Mandiri (BMRI) sebesar -3,33%. Indikator indeks RSI (Relative Strenght Index) saham BBCA bahkan menyentuh level 33 pada Rabu atau terendah sejak 29 Oktober 2008, yang mengindikasikan kondisi sangat jenuh jual atau oversold bagi saham BBCA.
Rasio kecukupan modal bank atau CAR (Capital Adequacy Ratio) bank umum untuk tahun 2008 menyentuh level terendah yaitu 16,76% atau terendah sejak tahun 2003. Begitu juga dengan CAR bank BUMN untuk tahun 2008 yang berada di level terendahnya sejak tahun 2003 yaitu 14,31%. Biaya operasional perbankan per Desember 2008 terindikasi naik 25,7% menjadi Rp232,17 triliun karena meningkatnya biaya pencadangan untuk mengendalikan potensi NPL (non performing loan). Porsi dana mahal pihak ketiga khususnya dalam bentuk deposito sepanjang tahun 2008 meningkat menjadi 47,04% dari total dana pihak ketiga perbankan, dibandingkan dengan porsi deposito tahun 2007 yang sebesar 44,13%.
Saham Astra Internasional tertekan oleh depresiasi rupiah terhadap dolar AS sebesar 4,3% sejak akhir Januari lalu hingga pekan kedua Februari yang berpotensi meningkatkan harga jual mobil CBU (Completely Built Up) dan suku cadang. Selain itu, data penjualan pasar mobil domestik pada Januari 2009 yang turun 23,3% dibandingkan Januari 2008 dari 41.378 unit ke level 31.725 unit turut menjadi faktor penekan saham ASII sebesar -7,98% dalam sepekan kemarin ditutup ke level Rp10.950.
Ulasan IHSG
Indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang pekan kemarin bergerak melemah sebesar 11,9 poin (-0,88%) ke level 1.338,74. IHSG tertekan koreksi saham-saham sektor perbankan sejak awal pekan dan sektor aneka industri khususnya saham Astra Internasional (ASII). Saham Astra Internasional terkoreksi sebesar -7,98% ditutup di level Rp10.950. Sektor aneka industri terkoreksi -5,92%, keuangan -3,16%, manufaktur -1,84%, barang konsumsi -1,32%, pertambangan tertekan -0,07% dan sektor properti tertekan -0,05%. Sebaliknya sektor perdagangan dan jasa naik 3,83%, sektor agrikultur naik 3,39% dan sektor industri dasar naik 1,01%.
Faktor depresiasi rupiah terhadap dolar AS sebesar 4,3% sejak akhir Januari lalu menjadi sentimen negatif saham Astra Internasional (ASII) yang berpotensi meningkatkan harga jual mobil CBU (Completely Built Up) dan suku cadang. Selain itu, data penjualan pasar mobil domestik pada Januari 2009 yang turun 23,3% dibandingkan Januari 2008 dari 41.378 unit ke level 31.725 unit, menjadi faktor penekan saham ASII sepanjang pekan kemarin.
Dari sektor keuangan, khususnya perbankan, Saham Bank Central Asia (BBCA) terkoreksi sebesar -4,5%, saham Bank Negara Indonesia (BBNI) sebesar -3,9%, dan Bank Mandiri (BMRI) sebesar -3,33%.
Rasio kecukupan modal bank atau CAR (Capital Adequacy Ratio) bank umum untuk tahun 2008 menyentuh level terendah yaitu 16,76% atau terendah sejak tahun 2003. Begitu juga dengan CAR bank BUMN untuk tahun 2008 yang berada di level terendahnya sejak tahun 2003 yaitu 14,31%. Biaya operasional perbankan per Desember 2008 terindikasi naik 25,7% menjadi Rp232,17 triliun karena meningkatnya biaya pencadangan untuk mengendalikan potensi NPL (non performing loan). Porsi dana mahal pihak ketiga khususnya dalam bentuk deposito sepanjang tahun 2008 meningkat menjadi 47,04% dari total dana pihak ketiga perbankan, dibandingkan dengan porsi deposito tahun 2007 yang sebesar 44,13%.
Selasa, Februari 10, 2009
Ulasan Pasar Senin 9 Februari 2009
Indeks Bisnis-27 pada perdagangan awal pekan ini ditutup melemah 0,83 poin (-0,67%) ke level 121,72. Saham-saham penekan indeks di antaranya Saham Adaro Energy (ADRO), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), dan saham dari sektor perbankan seperti Bank Internasional Indonesia (BNII), Bank Mandiri (BMRI), Bank BCA (BBCA). Saham penopang indeks Bisnis-27 di antaranya Astra Agro Lestari (AALI), Astra Internasional (ASII), dan United Tractors (UNTR).
Saham indeks Bisnis-27 sebagai pencetak gain terbesar pada perdagangan kemarin yaitu Astra Agro Lestari (AALI) sebesar 5,79% diikuti oleh saham United Tractor (UNTR) sebesar 0,98%, saham PP London Sumatera Plantations (LSIP) sebesar 0,72%, saham Semen Gresik (SMGR) sebesar 0,71%, dan saham Astra Internasional (ASII) sebesar 0,42%. Sedangkan saham pencetak loss terbesar di antaranya Adaro Energy (ADRO) terkoreksi sebesar –4,6% diikuti saham Bank Internasional Indonesia (BNII) sebesar –4,48%, dan saham Bank Danamon sebesar –2,2%.
Saham ADRO tertekan oleh koreksi teknis karena faktor overbought dalam sepekan terakhir yang membawa indicator indeks RSI (Relative Strenght Index) berada di level 82 pada akhir pekan kemarin, Jumat (6/2), yang sekaligus level tertinggi sejak IPO PT Adaro Energy Tbk.
Aksi profit taking jangka pendek juga melanda saham TLKM sebear Rp50 (-0,78%) ke Rp6.350 dan saham pertambangan seperti Internasional Nickel Indonesia (INCO) sebesar Rp50 (-2,04%) ke Rp2.400, Aneka Tambang (ANTM) sebesar Rp20 (-1,8%) ke Rp1.090.
Saham Group Astra seperti Astra Agro Lestari bergerak naik ditopang oleh rally harga CPO di bursa Malaysia sejak akhir Januari 2009 sebesar 7,7% dari level US$484,52 per ton naik menjadi U$523,17 per ton. Secara teknis, saham AALI memberikan signal bullish dengan indikator MACD masuk areal positif atau mulai bergerak di atas nol.
Saham United Tractors (UNTR) membentuk bottom triangle yang memberikan signal bullish dalam dua bulan ke depan ke level Rp7.722 – Rp 8.312 55.
Saham ASII bergerak naik Rp50 (0,42%) ke Rp11.950, kenaikan terbatas saham ASII ditopang oleh faktor teknis indikator RSI yang memperlihatkan oversold dalam dua bulan terakhir sejak pertengahan Desember 2008, sehingga membuka peluang ASII untuk bergerak naik di tengah kondisi penjualan mobil yang melemah. Dari data Gaikindo, penjualan di pasar mobil domestik pada Januari 2009 turun 23,3% dibandingkan Januari 2008, dari 41.378 unit menjadi 31.725 unit. Faktor depresiasi rupiah terhadap dolar AS meningkatkan harga jual mobil CBU (Completely Built Up) seperti Daihatsu Sirion.
Rupiah yang masih melemah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir memberikan sentimen negatif bagi saham-saham perbankan. Saham BNII turun Rp15 ke Rp320, BMRI turun Rp30 ke Rp1.770, dan saham BBCA turun 2.750. Rupiah telah melemah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir sebesar 3,9% ke level Rp11.800/US
Ulasan IHSG
Di awal pekan ini, indeks harga saham gabungan bergerak melemah 8,41 poin (-0,62%) oleh profit taking jangka pendek terhadap saham-saham pertambangan dan juga Telekomunikasi Indonesia. Saham perbankan tertekan oleh depresiasi rupiah terhadap dolar AS. IHSG ditutup di level 1.342,23.
Seluruh sektor ditutup melemah dengan sektor pertambangan sebagai sektor yang mengalami koreksi terbesar yaitu –1,86%, sedangkan sektor agriculture dan aneka industri menjadi sektor yang bergerak naik. Sektor agriculture naik 2,32% dan aneka industri naik 0,18%.
Saham ADRO tertekan oleh koreksi teknis karena faktor overbought dalam sepekan terakhir yang membawa indicator indeks RSI (Relative Strenght Index) berada di level 82 pada akhir pekan kemarin, Jumat (6/2), yang sekaligus level tertinggi sejak IPO PT Adaro Energy Tbk.
Aksi profit taking jangka pendek juga melanda saham TLKM sebear Rp50 (-0,78%) ke Rp6.350 dan saham pertambangan seperti Internasional Nickel Indonesia (INCO) sebesar Rp50 (-2,04%) ke Rp2.400, Aneka Tambang (ANTM) sebesar Rp20 (-1,8%) ke Rp1.090.
Dari sektor agriculture, Astra Agro Lestari bergerak naik ditopang oleh rally harga CPO di bursa Malaysia sejak akhir Januari 2009 sebesar 7,7% dari level US$484,52 per ton naik menjadi U$523,17 per ton. Secara teknis, saham AALI memberikan signal bullish dengan indikator MACD masuk areal positif atau mulai bergerak di atas nol.
Saham ASII bergerak naik Rp50 (0,42%) ke Rp11.950, kenaikan terbatas saham ASII ditopang oleh faktor teknis indikator RSI yang memperlihatkan oversold dalam dua bulan terakhir sejak pertengahan Desember 2008, sehingga membuka peluang ASII untuk bergerak naik di tengah kondisi penjualan mobil yang melemah. Dari data Gaikindo, penjualan di pasar mobil domestik pada Januari 2009 turun 23,3% dibandingkan Januari 2008, dari 41.378 unit menjadi 31.725 unit. Faktor depresiasi rupiah terhadap dolar AS meningkatkan harga jual mobil CBU (Completely Built Up) seperti Daihatsu Sirion.
Rupiah yang masih melemah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir memberikan sentimen negatif bagi saham-saham perbankan. Saham BNII turun Rp15 ke Rp320, BMRI turun Rp30 ke Rp1.770, dan saham BBCA turun 2.750. Rupiah telah melemah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir sebesar 3,9% ke level Rp11.800/US$.