Ulasan Pasar edisi 9 Oktober 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Penguatan rupiah akhirnya mulai mendapat perhatian khusus dari Bank Indonesia yang tampaknya mulai mengintervensi apresiasi rupiah yang cukup cepat dalam sepekan terakhir. Batas apresiasi rupiah terhadap dolar AS semakin dekat dan mendorong profit taking investor yang sudah dimulai sejak Rabu pekan ini.
Rupiah pada pedagangan Kamis kemarin sempat menyentuh level Rp9.370/US$ dan akhirnya ditutup di level Rp9.409/US$. Indeks BISNIS-27 turun ke level 227,09 atau melemah 1,39% dari penutupan Rabu sebelumnya. Tekanan jual pada saham-saham yang sensitif dengan fluktuasi rupiah mendominasi koreksi indeks Kamis kemarin.
Saham perbankan indeks BISNIS-27 seluruhnya bergerak melemah, dengan saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan koreksi paling tinggi yaitu 4,57%. Saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) tertekan 1,49% dan saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tertekan 1,75%. Saham Astra Internasional Tbk (ASII) melemah 2,59%.
Di sisi lain, saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) bergerak menguat oleh sentimen kenaikan harga emas dunia yang melonjak oleh aksi hedging pelaku pasar mengantisipasi inflasi dan merespon melemahnya dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia seperti euro dan yen. Harga emas di pasar spot London berhasil menembus level psikologis US$1.050 per ounce atau tertinggi sepanjang sejarah. Harga saham ANTM naik 2,88%.
Selain karena lonjakan harga emas, minat Aneka Tambang untuk mengakuisisi saham tambang BHP Billiton di Kalimantan mendapat respon positif dari pelaku pasar.
Senin, Oktober 19, 2009
Ulasan pasar edisi 8 Oktober 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Pergerakan harga minyak dunia yang bergerak naik secara perlahan mencapai level US$71 per barel merespon sentimen positif sektor jasa di Amerika Serikat (AS) yang menguasai sekitar 80% perekonomian negara tersebut dan menjadi indikasi kuat perbaikan ekonomi AS. Seiring dengan penguatan harga minyak dan ekspektasi perbaikan ekonomi AS, posisi rupiah semakin menguat ke level Rp9.400/US$.
Indeks Dow Jones (DJIA) kembali menguat sebesar 1,37%. Investor global pun semakin berani meninggalkan dolar AS sebagai “safe heaven” dan mencari tempat investasi yang berpeluang memberikan return lebih tinggi. Di sisi lain, investor juga berupaya untuk melakukan hedging terhadap minyak dan logam emas mengantisipasi inflasi di AS.
Namun, pergerakan perkembangan ekonomi global tersebut tidak direspon oleh investor dalam negeri. Indeks BISNIS-27 bergerak melemah di antara penguatan indeks regional seperti Hang Seng yang bergerak naik 2,07%, Nikkei-225 naik sebesar 1,11%, dan STI Singapura yang naik 0,92%.
Indeks BISNIS-27 mengalami koreksi oleh faktor profit taking dengan besaran yang tipis yaitu hanya 0,14% ke level 230,3 dipengaruhi oleh orientasi investasi jangka pendek investor dan juga kekhawatiran terjadinya koreksi masif dari capital inflow dolar AS saat ini.
Batas penguatan rupiah menjadi pertanyaan di setiap keputusan investasi, meskipun akan berdampak positif bagi beban hutang emiten dan juga biaya produksi. Namun, nilai penjualan emiten yang berorientasi ekspor terancam melemah. Posisi rupiah yang saat ini di level Rp9.400/US$ merupakan posisi terkuat dalam setahun terakhir pasca krisis likuiditas global, sehingga pembalikan arah rupiah diperkirakan semakin dekat dan investor memilih mengantisipasi kondisi tersebut.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Pergerakan harga minyak dunia yang bergerak naik secara perlahan mencapai level US$71 per barel merespon sentimen positif sektor jasa di Amerika Serikat (AS) yang menguasai sekitar 80% perekonomian negara tersebut dan menjadi indikasi kuat perbaikan ekonomi AS. Seiring dengan penguatan harga minyak dan ekspektasi perbaikan ekonomi AS, posisi rupiah semakin menguat ke level Rp9.400/US$.
Indeks Dow Jones (DJIA) kembali menguat sebesar 1,37%. Investor global pun semakin berani meninggalkan dolar AS sebagai “safe heaven” dan mencari tempat investasi yang berpeluang memberikan return lebih tinggi. Di sisi lain, investor juga berupaya untuk melakukan hedging terhadap minyak dan logam emas mengantisipasi inflasi di AS.
Namun, pergerakan perkembangan ekonomi global tersebut tidak direspon oleh investor dalam negeri. Indeks BISNIS-27 bergerak melemah di antara penguatan indeks regional seperti Hang Seng yang bergerak naik 2,07%, Nikkei-225 naik sebesar 1,11%, dan STI Singapura yang naik 0,92%.
Indeks BISNIS-27 mengalami koreksi oleh faktor profit taking dengan besaran yang tipis yaitu hanya 0,14% ke level 230,3 dipengaruhi oleh orientasi investasi jangka pendek investor dan juga kekhawatiran terjadinya koreksi masif dari capital inflow dolar AS saat ini.
Batas penguatan rupiah menjadi pertanyaan di setiap keputusan investasi, meskipun akan berdampak positif bagi beban hutang emiten dan juga biaya produksi. Namun, nilai penjualan emiten yang berorientasi ekspor terancam melemah. Posisi rupiah yang saat ini di level Rp9.400/US$ merupakan posisi terkuat dalam setahun terakhir pasca krisis likuiditas global, sehingga pembalikan arah rupiah diperkirakan semakin dekat dan investor memilih mengantisipasi kondisi tersebut.
Ulasan Pasar edisi 7 Oktober 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 kembali bergerak naik setelah terkoreksi tipis oleh profit taking jangka pendek di awal pekan ini. Pada perdagangan Selasa kemarin, indeks BISNIS-27 melonjak 2,67% ditutup di level 230,63 mencapai posisi tertingginya sejak diluncurkan awal tahun ini.
Kenaikan indeks Dow Jones (DJIA) sebesar 1,18% oleh ekspektasi positif semakin baiknya pendapatan usaha sektor jasa di Amerika Serikat (AS) pada kuartal ketiga tahun ini, memberikan kepercayaan diri yang cukup besar bagi investor lokal untuk mengakumulasi saham-saham indeks BISNIS-27.
Investor cukup yakin dengan perbaikan ekonomi AS, sehingga mereka semakin berani untuk meninggalkan dolar AS sebagai “safe heaven” dan mengalihkan investasi ke emerging market dengan return yang lebih tinggi. Rencana The Fed untuk menghentikan kebijakan suku bunga rendah dengan lebih memperhatikan ancaman inflasi, memperkuat optimisme perbaikan ekonomi AS.
The Institute for Supply Management melaporkan indeks kesehatan sektor jasa di AS pada September mencapai level 50,9 atau lebih tinggi dari posisi Agustus sebelumnya yang berada di posisi 48,4 menunjukkan adanya pertumbuhan yang signfikan di sektor jasa dalam satu bulan terakhir dan sekaligus perbaikan daya beli masyarakat AS karena hampir 80% perekonomian AS didominasi oleh sektor jasa.
Sentimen penguatan rupiah dan level BI rate yang tetap dijaga di level 6,5% menjadi faktor katalis aksi beli investor yang menunjukkan kepercayaan investor global semakin meningkat terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Rupiah berada di level Rp9.590/US$ pada perdagangan kemarin atau posisi tertinggi dalam setahun terakhir terhadap dolar AS. Minat beli investor didukung juga dengan cadangan devisa per September yang mencapai US$62,3 miliar karena derasnya capital inflow.
Saham-saham yang berkorelasi positif dengan apresiasi rupiah terhadap dolar AS mendominasi penguat indeks BISNIS-27 pada perdaganga kemarin. Saham Astra Inetrnasional Tbk (ASII) naik 7,45%, saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 5,64%, saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 4%, dan saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik 1,18%.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 kembali bergerak naik setelah terkoreksi tipis oleh profit taking jangka pendek di awal pekan ini. Pada perdagangan Selasa kemarin, indeks BISNIS-27 melonjak 2,67% ditutup di level 230,63 mencapai posisi tertingginya sejak diluncurkan awal tahun ini.
Kenaikan indeks Dow Jones (DJIA) sebesar 1,18% oleh ekspektasi positif semakin baiknya pendapatan usaha sektor jasa di Amerika Serikat (AS) pada kuartal ketiga tahun ini, memberikan kepercayaan diri yang cukup besar bagi investor lokal untuk mengakumulasi saham-saham indeks BISNIS-27.
Investor cukup yakin dengan perbaikan ekonomi AS, sehingga mereka semakin berani untuk meninggalkan dolar AS sebagai “safe heaven” dan mengalihkan investasi ke emerging market dengan return yang lebih tinggi. Rencana The Fed untuk menghentikan kebijakan suku bunga rendah dengan lebih memperhatikan ancaman inflasi, memperkuat optimisme perbaikan ekonomi AS.
The Institute for Supply Management melaporkan indeks kesehatan sektor jasa di AS pada September mencapai level 50,9 atau lebih tinggi dari posisi Agustus sebelumnya yang berada di posisi 48,4 menunjukkan adanya pertumbuhan yang signfikan di sektor jasa dalam satu bulan terakhir dan sekaligus perbaikan daya beli masyarakat AS karena hampir 80% perekonomian AS didominasi oleh sektor jasa.
Sentimen penguatan rupiah dan level BI rate yang tetap dijaga di level 6,5% menjadi faktor katalis aksi beli investor yang menunjukkan kepercayaan investor global semakin meningkat terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Rupiah berada di level Rp9.590/US$ pada perdagangan kemarin atau posisi tertinggi dalam setahun terakhir terhadap dolar AS. Minat beli investor didukung juga dengan cadangan devisa per September yang mencapai US$62,3 miliar karena derasnya capital inflow.
Saham-saham yang berkorelasi positif dengan apresiasi rupiah terhadap dolar AS mendominasi penguat indeks BISNIS-27 pada perdaganga kemarin. Saham Astra Inetrnasional Tbk (ASII) naik 7,45%, saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 5,64%, saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 4%, dan saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik 1,18%.
Ulasan Pasar edisi 6 Oktober 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Di awal pekan, indeks BISNIS-27 bergerak melemah akibat minimnya sentimen positif yang beredar di pasar, mendorong investor untuk merealisasikan gain sepanjang pekan kemarin yang mencatat pertumbuhan indeks sebesar 2,5%. Indeks BISNIS-27 pada Senin kemarin ditutup di level 224,64 melemah tipis 0,22% dari posisi penutupan Jumat akhir pekan lalu yang berada di level 225,14.
Saham perbankan mendominasi saham-saham penekan indeks dipengaruhi profit taking dari penguatan sepekan sebelumnya yang ditopang oleh laju inflasi September yang terkendali dan posisi BI rate yang akan tetap di level 6,5%. Pada Senin kemarin, Bank Indonesia akhirnya memutuskan untuk menjaga level BI rate di posisi 6,5% dan sekaligus menghentikan laju pemangkasan BI rate sejak awal tahun ini.
Posisi rupiah yang masih berada dalam tren penguatan yaitu di level Rp9.500/US$, diperkirakan akan mengalami koreksi jangka pendek terhadap dolar AS setelah rupiah menguat signifikan 1,7% dalam sepekan ke level tertinggi dalam setahun terakhir yaitu Rp9.563/US$.
Kondisi tersebut tentu akan memberikan sentimen negatif jangka pendek bagi saham-saham perbankan, di samping juga saham otomotif Astra Internasional Tbk (ASII) dan Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Harga suku cadang dan kendaraan completely built up (CBU) sangat dipengaruhi oleh pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS. Laba bersih TLKM pada 2008 melambat 17,4% akibat meningkatnya rugi kurs.
Saham Medco Energi Internasional (MEDC) masih melanjutkan penguatan sebesar 0,77% ke level Rp3.275 ditopang aksi korporasi Medco Group menggandeng LG International Corp untuk memperluas usaha ke sektor perkayuan, memproduksi wood chips (kepingan kayu) dan wood pellets (butir kayu) sebagai substitusi batu bara Pangsa pasar utamanya adalah Korea Selatan dan China, di mana mulai tahun 2012, wood chips dan wood pellets wajib dipakai minimal 3%-6% dari total penggunaan bahan bakar di kedua negara tersebut.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Di awal pekan, indeks BISNIS-27 bergerak melemah akibat minimnya sentimen positif yang beredar di pasar, mendorong investor untuk merealisasikan gain sepanjang pekan kemarin yang mencatat pertumbuhan indeks sebesar 2,5%. Indeks BISNIS-27 pada Senin kemarin ditutup di level 224,64 melemah tipis 0,22% dari posisi penutupan Jumat akhir pekan lalu yang berada di level 225,14.
Saham perbankan mendominasi saham-saham penekan indeks dipengaruhi profit taking dari penguatan sepekan sebelumnya yang ditopang oleh laju inflasi September yang terkendali dan posisi BI rate yang akan tetap di level 6,5%. Pada Senin kemarin, Bank Indonesia akhirnya memutuskan untuk menjaga level BI rate di posisi 6,5% dan sekaligus menghentikan laju pemangkasan BI rate sejak awal tahun ini.
Posisi rupiah yang masih berada dalam tren penguatan yaitu di level Rp9.500/US$, diperkirakan akan mengalami koreksi jangka pendek terhadap dolar AS setelah rupiah menguat signifikan 1,7% dalam sepekan ke level tertinggi dalam setahun terakhir yaitu Rp9.563/US$.
Kondisi tersebut tentu akan memberikan sentimen negatif jangka pendek bagi saham-saham perbankan, di samping juga saham otomotif Astra Internasional Tbk (ASII) dan Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Harga suku cadang dan kendaraan completely built up (CBU) sangat dipengaruhi oleh pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS. Laba bersih TLKM pada 2008 melambat 17,4% akibat meningkatnya rugi kurs.
Saham Medco Energi Internasional (MEDC) masih melanjutkan penguatan sebesar 0,77% ke level Rp3.275 ditopang aksi korporasi Medco Group menggandeng LG International Corp untuk memperluas usaha ke sektor perkayuan, memproduksi wood chips (kepingan kayu) dan wood pellets (butir kayu) sebagai substitusi batu bara Pangsa pasar utamanya adalah Korea Selatan dan China, di mana mulai tahun 2012, wood chips dan wood pellets wajib dipakai minimal 3%-6% dari total penggunaan bahan bakar di kedua negara tersebut.
Senin, Oktober 05, 2009
Indeks BISNIS-27 Sepekan
Indeks BISNIS-27 berhasil bergerak menguat pada pekan kemarin ke level 225,14 atau naik 2,5% dari penutupan Jumat (28/9) pekan sebelumnya di level 219,64. Inflasi September yang cukup terkendali dan rupiah yang berada dalam tren apresiasi terhadap dolar AS menjadi faktor utama penguatan indeks BISNIS-27 selama sepekan kemarin.
Di awal pekan, indeks sempat terkoreksi cukup dalam akibat minimnya sentimen positif dalam negeri dan koreksi harga minyak dunia yang mencapai 8,3% dalam sepekan sebelumnya. Investor memilih untuk melepas saham-saham mereka baik di sektor komoditas pertambangan maupun di luar sektor tersebut dengan motif ambil untung maupun cut loss, serta memilih posisi wait and see terhadap pergerakan harga minyak dunia. Beberapa indeks regional Asia Pasifik ikut memberikan sentimen negatif yang dipicu oleh koreksi indeks Nikkei-225 akibat nilai tukar yen yang mengalami apresiasi terhadap dolar AS, berdampak negatif bagi pendapatan eksportir Jepang ke AS. Nilai tukar yen Jepang mencapai level 87,1 yen/US$ atau posisi tertinggi yen dalam 13 tahun terakhir.
Indeks BISNIS-27 bergerak rebound pada perdagangan Selasa dengan kenaikan sebesar 2,14% ke level 219,22 ditopang oleh aksi korporasi emiten AS di sektor farmasi dan teknologi yang kembali mendongkrak ekspektasi perbaikan ekonomi di negara tersebut. Harga minyak bergerak positif dengan kembali naik tipis ke level US$67 per barel, setelah dalam sepekan sebelumnya tertekan cukup kuat sebesar 8,33%. Sentimen positif juga berasal dari rebound indeks Nikkei-225 setelah yen berhasil kembali ke level 90 yen/US$ mendekati asumsi yen untuk eksportir Jepang ke AS yaitu 95 yen/US$.
Volume transaksi indeks BISNIS-27 sejak Selasa hingga Jumat berada dalam tren naik seiring dengan kenaikan indeks. Sejak Selasa hingga Jumat, volume transaksi melonjak 96,52% dan nilai transaksi naik 71,64%. Investor mulai percaya diri dengan laju inflasi September yang cukup terkendali, dan memicu kembali aliran dana masuk ke bursa saham.
Selain itu, ekspektasi penguatan inflasi di AS memperkuat aliran dolar AS untuk semakin masuk ke emerging market, seperti Indonesia, yang akan memperkuat mata uang lokal. Rupiah tetap berada dalam tren apresiasi terhadap dolar AS di level Rp9.600/US$ dan diharapkan akan berlanjut hingga akhir tahun. Penguatan rupiah akan berdampak positif bagi harga jual produk impor terutama produk otomotif dan juga mengurangi biaya dana pihak ketiga perbankan dan hutang emiten yang berdenominasi dolar AS.
Di awal pekan, indeks sempat terkoreksi cukup dalam akibat minimnya sentimen positif dalam negeri dan koreksi harga minyak dunia yang mencapai 8,3% dalam sepekan sebelumnya. Investor memilih untuk melepas saham-saham mereka baik di sektor komoditas pertambangan maupun di luar sektor tersebut dengan motif ambil untung maupun cut loss, serta memilih posisi wait and see terhadap pergerakan harga minyak dunia. Beberapa indeks regional Asia Pasifik ikut memberikan sentimen negatif yang dipicu oleh koreksi indeks Nikkei-225 akibat nilai tukar yen yang mengalami apresiasi terhadap dolar AS, berdampak negatif bagi pendapatan eksportir Jepang ke AS. Nilai tukar yen Jepang mencapai level 87,1 yen/US$ atau posisi tertinggi yen dalam 13 tahun terakhir.
Indeks BISNIS-27 bergerak rebound pada perdagangan Selasa dengan kenaikan sebesar 2,14% ke level 219,22 ditopang oleh aksi korporasi emiten AS di sektor farmasi dan teknologi yang kembali mendongkrak ekspektasi perbaikan ekonomi di negara tersebut. Harga minyak bergerak positif dengan kembali naik tipis ke level US$67 per barel, setelah dalam sepekan sebelumnya tertekan cukup kuat sebesar 8,33%. Sentimen positif juga berasal dari rebound indeks Nikkei-225 setelah yen berhasil kembali ke level 90 yen/US$ mendekati asumsi yen untuk eksportir Jepang ke AS yaitu 95 yen/US$.
Volume transaksi indeks BISNIS-27 sejak Selasa hingga Jumat berada dalam tren naik seiring dengan kenaikan indeks. Sejak Selasa hingga Jumat, volume transaksi melonjak 96,52% dan nilai transaksi naik 71,64%. Investor mulai percaya diri dengan laju inflasi September yang cukup terkendali, dan memicu kembali aliran dana masuk ke bursa saham.
Selain itu, ekspektasi penguatan inflasi di AS memperkuat aliran dolar AS untuk semakin masuk ke emerging market, seperti Indonesia, yang akan memperkuat mata uang lokal. Rupiah tetap berada dalam tren apresiasi terhadap dolar AS di level Rp9.600/US$ dan diharapkan akan berlanjut hingga akhir tahun. Penguatan rupiah akan berdampak positif bagi harga jual produk impor terutama produk otomotif dan juga mengurangi biaya dana pihak ketiga perbankan dan hutang emiten yang berdenominasi dolar AS.
Kamis, Oktober 01, 2009
Indeks BISNIS-27 @ 1 Oktober 2009
Indeks BISNIS-27 berhasil menguat tipis pada perdagangan hari keempat pekan ini, meskipun didera oleh berita negatif gempa di Sumatera Barat. Penguatan indeks ditopang oleh saham-saham pertambangan dan minyak, serta infrastruktur dan perbankan. Indeks BISNIS-27 bergerak ke level 224,48 atau menguat 0,75% dari penutupan Rabu sebelumnya.
Saham Medco Energi Internasional (MEDC) bergerak menguat dengan membukukan gain harian yang cukup signifikan (6,03%) pada perdagangan Kamis ini setelah adanya aksi korporasi Medco Group untuk memperluas usaha ke sektor perkayuan dengan menggandeng LG International Corp. Pangsa pasar utamanya Korea Selatan dan China dengan produk utama yaitu wood chips (kepingan kayu) dan wood pellets (butir kayu) sebagai substitusi batu bara. Di kedua negara tersebut, mulai tahun 2012, wood chips dan wood pellets wajib dipakai minimal 3%-6% dari total bahan bakar.
Laju inflasi September yang cukup terkendali memberikan sentimen positif bagi investor untuk mengkoleksi beberapa saham yang sensitif dengan pergerakan suku bunga kredit perbankan. Laju inflasi September yang sebesar sebesar 1,05%, inflasi kalender Januari-September sebesar 3,46%, dan inflasi tahunan sebesar 4,86%.
Investor cukup optimis Bank Indonesia akan menjaga level BI rate tetap di posisi 6,5%, sehingga tidak akan menaikkan suku bunga perbankan. Di sisi lain, nilai rupiah terhadap dolar AS tetap berada dalam tren apresiasi yang ditopang oleh keyakinan investor terhadap perbaikan ekonomi global dan selisih yang cukup besar antara BI rate dengan suku bunga The Fed dan ECB (European Central Bank).
Saham Medco Energi Internasional (MEDC) bergerak menguat dengan membukukan gain harian yang cukup signifikan (6,03%) pada perdagangan Kamis ini setelah adanya aksi korporasi Medco Group untuk memperluas usaha ke sektor perkayuan dengan menggandeng LG International Corp. Pangsa pasar utamanya Korea Selatan dan China dengan produk utama yaitu wood chips (kepingan kayu) dan wood pellets (butir kayu) sebagai substitusi batu bara. Di kedua negara tersebut, mulai tahun 2012, wood chips dan wood pellets wajib dipakai minimal 3%-6% dari total bahan bakar.
Laju inflasi September yang cukup terkendali memberikan sentimen positif bagi investor untuk mengkoleksi beberapa saham yang sensitif dengan pergerakan suku bunga kredit perbankan. Laju inflasi September yang sebesar sebesar 1,05%, inflasi kalender Januari-September sebesar 3,46%, dan inflasi tahunan sebesar 4,86%.
Investor cukup optimis Bank Indonesia akan menjaga level BI rate tetap di posisi 6,5%, sehingga tidak akan menaikkan suku bunga perbankan. Di sisi lain, nilai rupiah terhadap dolar AS tetap berada dalam tren apresiasi yang ditopang oleh keyakinan investor terhadap perbaikan ekonomi global dan selisih yang cukup besar antara BI rate dengan suku bunga The Fed dan ECB (European Central Bank).
Indeks BISNIS-27 @ 30 September 2009
Saham perbankan dan saham otomotif Astra Internasional menjadi penopang utama indeks BISNIS-27 pada perdagangan Rabu kemarin. Menjelang pengumuman inflasi September, pelaku pasar justru memburu saham-saham yang sensitif dengan suku bunga. Saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 5,03%, saham Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 2,41%, dan saham Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) naik 2,38%.
Indeks BISNIS-27 bergerak naik melanjutkan rebound ke level 222,8 atau naik 1,64% dari penutupan Selasa sebelumnya. Investor cukup optimis terhadap laju inflasi September yang terkendali, meskipun akan mengalami sedikit kenaikan karena meningkatnya belanja masyarakat menyambut Idul Fitri. Di sisi lain, sentimen positif dari The Fed AS yang berpeluang menaikkan suku bunganya untuk mengantisipasi inflasi di AS, memberikan sentimen positif kepada pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) yang akan tetap pada level 6,5% awal Oktober ini. Hal tersebut berarti, perbankan dalam negeri akan leluasa melanjutkan penyaluran kredit ke masyarakat, tanpa kekhawatiran naiknya BI rate yang berbanding lurus dengan suku bunga kredit.
Selain itu, ekspektasi penguatan inflasi di AS akan memacu aliran dolar AS semakin masuk ke emerging market, seperti Indonesia, yang akan memperkuat mata uang lokal. Penguatan rupiah terhadap dolar AS diharapkan akan berlanjut dan akan mengurangi biaya dana pihak ketiga perbankan yang berdenominasi dolar AS.
Bagi industri otomotif, kondisi tersebut akan mengurangi cost of good solds terutama untuk produk impor, yang akan berdampak pada naiknya Gross Profit Margin (GPM) perusahaan. Harga jual pun berpeluang turun dan akan meningkatkan volume penjualan. Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah melanjutkan penguatan ke level Rp9.655/US$.
Bursa regional juga memberikan sentimen positif bagi aksi beli investor pada perdagangan Rabu kemarin. Indeks STI Singapura naik 0,35% dan indeks Nikkei-225 naik 0,33%.
Indeks BISNIS-27 bergerak naik melanjutkan rebound ke level 222,8 atau naik 1,64% dari penutupan Selasa sebelumnya. Investor cukup optimis terhadap laju inflasi September yang terkendali, meskipun akan mengalami sedikit kenaikan karena meningkatnya belanja masyarakat menyambut Idul Fitri. Di sisi lain, sentimen positif dari The Fed AS yang berpeluang menaikkan suku bunganya untuk mengantisipasi inflasi di AS, memberikan sentimen positif kepada pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) yang akan tetap pada level 6,5% awal Oktober ini. Hal tersebut berarti, perbankan dalam negeri akan leluasa melanjutkan penyaluran kredit ke masyarakat, tanpa kekhawatiran naiknya BI rate yang berbanding lurus dengan suku bunga kredit.
Selain itu, ekspektasi penguatan inflasi di AS akan memacu aliran dolar AS semakin masuk ke emerging market, seperti Indonesia, yang akan memperkuat mata uang lokal. Penguatan rupiah terhadap dolar AS diharapkan akan berlanjut dan akan mengurangi biaya dana pihak ketiga perbankan yang berdenominasi dolar AS.
Bagi industri otomotif, kondisi tersebut akan mengurangi cost of good solds terutama untuk produk impor, yang akan berdampak pada naiknya Gross Profit Margin (GPM) perusahaan. Harga jual pun berpeluang turun dan akan meningkatkan volume penjualan. Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah melanjutkan penguatan ke level Rp9.655/US$.
Bursa regional juga memberikan sentimen positif bagi aksi beli investor pada perdagangan Rabu kemarin. Indeks STI Singapura naik 0,35% dan indeks Nikkei-225 naik 0,33%.
Langganan:
Postingan (Atom)