Ulasan indeks BISNIS-27 edisi 9 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 pada perdagangan hari kedua pekan ini bergerak cukup fluktuatif dipengaruhi beragam sentimen dari dalam maupun luar negeri serta faktor teknis harga saham konstituen dalam sepekan terakhir. Indeks BISNIS-27 ditutup di level 232,08 menguat tipis 0,13% dari posisi penutupan awal pekan ini.
Indeks bergerak dengan tekanan cukup besar yang berasal dari kondisi politik dan keamanan dalam negeri menjelang aksi antikorupsi Rabu besok (9/12) yang akan melibatkan massa dalam jumlah besar. Sementara itu dari luar negeri, informasi dari Ben Bernanke (The Fed AS) yang menyebutkan perekonomian AS masih jauh dari perbaikan atau membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih, memberikan sentimen negatif sekaligus menahan investor untuk membeli saham-saham konstituen BISNIS-27.
Bursa komoditas terutama emas mengalami tekanan yang serupa dengan indeks BISNIS-27. Meskipun dolar AS diprediksi akan melemah hingga Agustus 2010, namun belum dapat mendongkrak harga emas kembali menuju level US$1.200 per ounce. Pada perdagangan Selasa kemarin, harga emas bergerak di kisaran US$1.164 per ounce. Harga minyak dunia juga belum memberikan sinyal bullish, masih di kisaran US$74 per barel atau terendah dalam dua pekan terakhir.
Dolar AS yang melemah belum ditopang oleh daya beli masyarakat AS yang membaik. Sedangkan penguatan inflasi yang akan diikuti oleh naiknya suku bunga The Fed terbilang masih cukup lama atau sekitar delapan bulan lagi. Daya beli yang membaik akan diikuti naiknya laju inflasi dan mendorong dolar AS mencari wilayah investasi dengan imbal hasil lebih tinggi, terutama ke wilayah emerging market.
Minimnya sentimen positif di Bursa Efek Indonesia mendorong investor untuk melakukan profit taking dan membeli saham-saham yang memang telah oversold sejak akhir pekan lalu, seperti saham Aneka Tambang Tbk (ANTM), saham International Nickel Indonesia Tbk (INCO), dan saham Astra Internasional Tbk (ASII). Saham ANTM naik 1,11% ke posisi Rp2.275, saham INCO naik 1,37% ke level Rp3.700, dan saham ASII naik 1,35% ke posisi Rp33.850.
Melambatnya kenaikan indeks pada perdagangan kemarin juga dipengaruhi sentimen negatif tekanan jual yang melanda bursa Hong Kong dan Jepang. Indeks Hang Seng ditutup melemah 1,18% ke level 22.060,52 dan indeks Nikkei-225 turun 0,27% ke level 10.140,47. Sedangkan indeks STI Singapura berhasil menguat 0,3% ke level 2.805,50.
Kekhawatiran investor global terhadap pernyataan Ben Bernanke memberikan tekanan jual jangka pendek di bursa Tokyo dan Hong Kong, melebihi berita positif dari Pemerintah Jepang yang mengumumkan paket stimulus ekonomi sebesar 7,2 triliun yen atau sekitar US$ 81 miliar untuk menopang pemulihan ekonomi Jepang.
Rabu, Desember 09, 2009
Selasa, Desember 08, 2009
Ulasan Indeks BISNIS-27 edisi 8 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Aksi ambil untung mendominasi pergerakan indeks BISNIS-27 di awal pekan ini setelah sepekan sebelumnya naik 5,91% ke level 234,64. Pada perdagangan Senin kemarin, indeks BISNIS-27 terkoreksi ke level 231,77 atau melemah 1,22%.
Data pengangguran AS yang direspon positif oleh mayoritas bursa saham Asia, tidak mampu mengimbangi koreksi ambil untung (profit taking) indeks BISNIS-27 kemarin. Indeks STI Singapura naik 0,06% ke posisi 2.792,71, indeks Kospi naik 0,3% ke posisi 1.629,65, indeks Shanghai naik 0,23% ke posisi 3.324,53, dan indeks Nikkei 225 naik 1,4% ke posisi 10.163,14, hanya indeks Hang Seng yang terkoreksi 0,66% ke posisi 3.324,53.
Selain faktor teknis dengan indeks RSI (Relative Strenght Index) untuk BISNIS-27 yang telah mencapai level 65,03 atau overbought (jenuh beli), pergerakan harga emas yang mengalami koreksi sebesar 1,01% ke level US$1.157 per ounce menambah tekanan terutama pada saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang sejak akhir pekan kemarin memang telah mulai terkoreksi.
Saham Aneka Tambang Tbk (ANTM), Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan Unilever Indonesia Tbk (UNVR)mengalami profit taking cukup besar di atas 4%. ANTM turun 4,21%, PGAS turun 4,27%, dan UNVR turun 4,66%.
Perkembangan level pengangguran di AS yang menunjukkan perbaikan pada November dipekirakan akan membuat dolar AS kembali menguat terhadap sejumlah mata uang kuat dunia seperti euro dan yen, serta meningkatkan minat jual atau ambil untung pada kontrak emas. Oleh sebab itu, harga emas kemarin mengalami koreksi. Selain itu, penguatan dolar AS akan memicu capital outflow dari rupiah ke doalr AS yang akan menekan rupiah. Ambil untung untuk merealisasikan keuntungan selisih kurs di bursa saham juga menambah motif koreksi pada indesks BISNIS-27.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Aksi ambil untung mendominasi pergerakan indeks BISNIS-27 di awal pekan ini setelah sepekan sebelumnya naik 5,91% ke level 234,64. Pada perdagangan Senin kemarin, indeks BISNIS-27 terkoreksi ke level 231,77 atau melemah 1,22%.
Data pengangguran AS yang direspon positif oleh mayoritas bursa saham Asia, tidak mampu mengimbangi koreksi ambil untung (profit taking) indeks BISNIS-27 kemarin. Indeks STI Singapura naik 0,06% ke posisi 2.792,71, indeks Kospi naik 0,3% ke posisi 1.629,65, indeks Shanghai naik 0,23% ke posisi 3.324,53, dan indeks Nikkei 225 naik 1,4% ke posisi 10.163,14, hanya indeks Hang Seng yang terkoreksi 0,66% ke posisi 3.324,53.
Selain faktor teknis dengan indeks RSI (Relative Strenght Index) untuk BISNIS-27 yang telah mencapai level 65,03 atau overbought (jenuh beli), pergerakan harga emas yang mengalami koreksi sebesar 1,01% ke level US$1.157 per ounce menambah tekanan terutama pada saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang sejak akhir pekan kemarin memang telah mulai terkoreksi.
Saham Aneka Tambang Tbk (ANTM), Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan Unilever Indonesia Tbk (UNVR)mengalami profit taking cukup besar di atas 4%. ANTM turun 4,21%, PGAS turun 4,27%, dan UNVR turun 4,66%.
Perkembangan level pengangguran di AS yang menunjukkan perbaikan pada November dipekirakan akan membuat dolar AS kembali menguat terhadap sejumlah mata uang kuat dunia seperti euro dan yen, serta meningkatkan minat jual atau ambil untung pada kontrak emas. Oleh sebab itu, harga emas kemarin mengalami koreksi. Selain itu, penguatan dolar AS akan memicu capital outflow dari rupiah ke doalr AS yang akan menekan rupiah. Ambil untung untuk merealisasikan keuntungan selisih kurs di bursa saham juga menambah motif koreksi pada indesks BISNIS-27.
Senin, Desember 07, 2009
Ulasan Indeks BISNIS-27 Sepekan edisi 7 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Selama sepekan di awal Desember, indeks BISNIS-27 berhasil membukukan pergerakan yang positif dengan pertumbuhan sebesar 5,91% atau pertumbuhan mingguan tertinggi sejak empat bulan terakhir. Pada pekan terakhir Juli, Indeks BISNIS-27 berhasil membukukan pertumbuhan sebesar 6,08%.
Di akhir pekan kemarin, indeks BISNIS-27 ditutup di level 234,64 sekaligus level tertinggi baru yang berhasil dicapai indeks sejak diluncurkan Januari lalu.
Penguatan indeks di awal Desember ini menunjukkan optimisme investor terhadap kinerja konstituen BISNIS-27 hinga akhir 2009 ditopang oleh BI rate yang berhasil dijaga di 6,5%, laju inflasi yang terjaga di bawah target pemerintah, serta potensi berlanjutnya capital inflow seiring rupiah yang menguat terhadap dolar AS. Kenaikan indeks BISNIS-27 sebesar 5,91% sepekan kemarin juga ditopang oleh kekuatan ekonomi kawasan emerging market terutama Indonesia dalam masa perbaikan ekonomi global dari krisis likuiditas setahun lalu.
Hal tersebut dapat dilihat dari kebijakan The Fed AS yang sengaja menjaga suku bunganya tetap rendah di level 0,25%, selain untuk meningkatkan daya beli dan likuiditas dalam negeri yang terlihat dari membaiknya penjualan rumah pada November, juga untuk menjaga dolar AS tetap melemah untuk kawasan emerging market.
Dolar AS yang melemah akan sangat menopang ekspor AS yang berharap dengan penjualan dari kawasan emerging market saat ini. Hal tersebut disebabkan kawasan ini, termasuk Indonesia, memiliki jumlah penduduk yang besar, laju inflasi yang terjaga, dan pertumbuhan ekonomi yang bergerak positif sepanjang 2009. Nilai rupiah yang menguat terhadap dolar AS 13,7% sepanjang tahun ini dari level Rp11.000/US$ ke level Rp9.500/US$ menjadi sentimen positif daya beli masyarakat Indonesia terhadap produk impor. Posisi laju inflasi Januari-November sebesar 2,45% atau di bawah target inflasi 2009 oleh pemerintah yaitu 4% menambah sentimen positif aliran dana masuk (capital inflow) serta daya beli yang semakin baik.
Di sisi lain, dolar AS yang melemah terhadap sejumlah mata uang selain rupiah, seperti euro dan yen juga menstimulus naiknya permintaan terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai (hedging) mengantisipasi perekonomian global yang membaik di 2010. Harga emas telah bergerak mencapai level US$1.200 per ounce pada akhir pekan kemarin atau meningkat 37% sejak awal tahun ini. Melemahnya dolar AS memang tidak diikuti oleh menanjaknya harga minyak dunia untuk melewati level resistance satu bulan terakhir yaitu US$80 per barel. Pekan lalu harga minyak stabil di level US$77 per barel atau hampir sama dengan level sepekan sebelumnya di posisi US$76 per barel. Hal ini menunjukkan, bahwa mayoritas pelaku pasar global sepakat bahwa pergerakan harga minyak dunia harus dikendalikan untuk mencegah melemahnya daya beli emerging market.
Harga emas yang berada dalam tren bullish selain akan menambah sentimen positif harga saham Aneka Tambang Tbk yang sepekan kemarin menguat 5,55%, juga menjadi indikator pelemahan dolar AS yang akan berlangsung cukup lama hingga memasuki triwulan I/2010 mendatang. Selain ke bursa komoditas emas, aliran dolar AS juga diperkirakan masih akan bergerak menuju emerging market hingga triwulan I/2010, termasuk ke Indonesia, sehingga rupiah masih berpotensi menguat dari level saat ini Rp9.500/US$ menuju level Rp9.300/US$. Atas dasar itu, pergerakan BISNIS-27 sepekan kemarin berhasil tumbuh 5,91%.
Sepanjang pekan kemarin, saham Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) membukukan gain tertinggi di antara konstituen BISNIS-27 yaitu 14,69%, diikuti oleh saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) yang naik 13,61%, Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) naik 10,28%, Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 8,11%, Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 7,76%, Gudang Garam Tbk (GGRM) naik 7,25%, Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 6,42%, International Nickel Indonesia Tbk (INCO) naik 6,38% dan Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik 5,71%.
Dalam jangka pendek, indeks BISNIS-27 berpotensi mengalami koreksi konsolidasi seiring level indeks RSI (Relative Strenght Index) yang telah mencapai posisi 65,03 atau jenuh beli (overbought). Investor harus mewaspadai aksi profit taking jangka pendek pada saham-saham penopang indeks BISNIS-27 seperti PGAS, PTBA, ITMG dan AALI.
Di akhir pekan kemarin, saham ANTM, INCO dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah mengalami profit taking lebih dulu. Namun, sentimen penguatan harga emas dunia berpotensi dapat membalikkan arah ANTM untuk kembali menguat pada pekan depan (pekan ini).
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Selama sepekan di awal Desember, indeks BISNIS-27 berhasil membukukan pergerakan yang positif dengan pertumbuhan sebesar 5,91% atau pertumbuhan mingguan tertinggi sejak empat bulan terakhir. Pada pekan terakhir Juli, Indeks BISNIS-27 berhasil membukukan pertumbuhan sebesar 6,08%.
Di akhir pekan kemarin, indeks BISNIS-27 ditutup di level 234,64 sekaligus level tertinggi baru yang berhasil dicapai indeks sejak diluncurkan Januari lalu.
Penguatan indeks di awal Desember ini menunjukkan optimisme investor terhadap kinerja konstituen BISNIS-27 hinga akhir 2009 ditopang oleh BI rate yang berhasil dijaga di 6,5%, laju inflasi yang terjaga di bawah target pemerintah, serta potensi berlanjutnya capital inflow seiring rupiah yang menguat terhadap dolar AS. Kenaikan indeks BISNIS-27 sebesar 5,91% sepekan kemarin juga ditopang oleh kekuatan ekonomi kawasan emerging market terutama Indonesia dalam masa perbaikan ekonomi global dari krisis likuiditas setahun lalu.
Hal tersebut dapat dilihat dari kebijakan The Fed AS yang sengaja menjaga suku bunganya tetap rendah di level 0,25%, selain untuk meningkatkan daya beli dan likuiditas dalam negeri yang terlihat dari membaiknya penjualan rumah pada November, juga untuk menjaga dolar AS tetap melemah untuk kawasan emerging market.
Dolar AS yang melemah akan sangat menopang ekspor AS yang berharap dengan penjualan dari kawasan emerging market saat ini. Hal tersebut disebabkan kawasan ini, termasuk Indonesia, memiliki jumlah penduduk yang besar, laju inflasi yang terjaga, dan pertumbuhan ekonomi yang bergerak positif sepanjang 2009. Nilai rupiah yang menguat terhadap dolar AS 13,7% sepanjang tahun ini dari level Rp11.000/US$ ke level Rp9.500/US$ menjadi sentimen positif daya beli masyarakat Indonesia terhadap produk impor. Posisi laju inflasi Januari-November sebesar 2,45% atau di bawah target inflasi 2009 oleh pemerintah yaitu 4% menambah sentimen positif aliran dana masuk (capital inflow) serta daya beli yang semakin baik.
Di sisi lain, dolar AS yang melemah terhadap sejumlah mata uang selain rupiah, seperti euro dan yen juga menstimulus naiknya permintaan terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai (hedging) mengantisipasi perekonomian global yang membaik di 2010. Harga emas telah bergerak mencapai level US$1.200 per ounce pada akhir pekan kemarin atau meningkat 37% sejak awal tahun ini. Melemahnya dolar AS memang tidak diikuti oleh menanjaknya harga minyak dunia untuk melewati level resistance satu bulan terakhir yaitu US$80 per barel. Pekan lalu harga minyak stabil di level US$77 per barel atau hampir sama dengan level sepekan sebelumnya di posisi US$76 per barel. Hal ini menunjukkan, bahwa mayoritas pelaku pasar global sepakat bahwa pergerakan harga minyak dunia harus dikendalikan untuk mencegah melemahnya daya beli emerging market.
Harga emas yang berada dalam tren bullish selain akan menambah sentimen positif harga saham Aneka Tambang Tbk yang sepekan kemarin menguat 5,55%, juga menjadi indikator pelemahan dolar AS yang akan berlangsung cukup lama hingga memasuki triwulan I/2010 mendatang. Selain ke bursa komoditas emas, aliran dolar AS juga diperkirakan masih akan bergerak menuju emerging market hingga triwulan I/2010, termasuk ke Indonesia, sehingga rupiah masih berpotensi menguat dari level saat ini Rp9.500/US$ menuju level Rp9.300/US$. Atas dasar itu, pergerakan BISNIS-27 sepekan kemarin berhasil tumbuh 5,91%.
Sepanjang pekan kemarin, saham Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) membukukan gain tertinggi di antara konstituen BISNIS-27 yaitu 14,69%, diikuti oleh saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) yang naik 13,61%, Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) naik 10,28%, Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 8,11%, Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 7,76%, Gudang Garam Tbk (GGRM) naik 7,25%, Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 6,42%, International Nickel Indonesia Tbk (INCO) naik 6,38% dan Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik 5,71%.
Dalam jangka pendek, indeks BISNIS-27 berpotensi mengalami koreksi konsolidasi seiring level indeks RSI (Relative Strenght Index) yang telah mencapai posisi 65,03 atau jenuh beli (overbought). Investor harus mewaspadai aksi profit taking jangka pendek pada saham-saham penopang indeks BISNIS-27 seperti PGAS, PTBA, ITMG dan AALI.
Di akhir pekan kemarin, saham ANTM, INCO dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah mengalami profit taking lebih dulu. Namun, sentimen penguatan harga emas dunia berpotensi dapat membalikkan arah ANTM untuk kembali menguat pada pekan depan (pekan ini).
Kamis, Desember 03, 2009
Ulasan Indeks BISNIS-27 edisi 3 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 melanjutkan penguatannya yang terbentuk sejak awal pekan. Kemarin, indeks BISNIS-27 bergerak menguat 0,75% ditutup di level 230,0. Penguatan indeks masih ditopang oleh saham-saham komoditas terutama saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang bergerak positif oleh sentimen pergerakan harga emas yang melewati level US$1.200 per ounce. Saham ANTM naik 4,35% ke level Rp2.400.
Indeks saham regional Asia Pasifik juga tampak bergerak menguat dengan kenaikan di bawah 1% berjalan beriringan dengan penguatan indeks BISNIS-27. Indeks Hang Seng naik 0,8%, indeks Nikkei-225 naik 0,38%, indeks STI Singapura naik 0,92%.
Berlanjutnya tren bullish harga emas memperkuat keyakinan investor bahwa pelemahan dolar AS yang sempat terhenti oleh sentimen negatif gagal bayar obligasi Dubai World di awal pekan ini, masih akan berlanjut hingga melewati akhir tahun ini. Dolar AS yang melemah masih dipandang perlu untuk menopang perdagangan AS. Di sisi lain, pemerintah AS melalui kebijakan suku bunga The Fed tetap berada pada kebijakan suku bunga rendah 0,25% untuk menopang daya beli dalam negeri dan meningkatkan likuiditas.
Dari sisi teknis, motif lindung nilai (hedging) dengan komoditas emas semakin meningkat dengan ekspektasi perbaikan ekonomi global. Ancaman inflasi berpotensi muncul ketika ekonomi mulai mengalami masa overheat setelah melewati masa krisis likuiditas sejak kuartal IV/ 2008 lalu, sehingga meningkatkan transaksi hedging pada komoditas emas. Di sisi lain, harga minyak dunia tetap stabil di level US$77 per barel karena level resistance harga minyak saat ini masih di kisaran US$80 per barel, seiring belum kuatnya daya beli emerging market yang diharapkan menjadi penopang perbaikan ekonomi negara maju.
Bagi saham ANTM, sebagai salah satu emiten produsen emas terbesar di Indonesia, kenaikan harga emas dunia tentu memiliki imbas secara langsung terhadap nilai penjualan emas yang akan berdampak naiknya laba bersih ANTM di 2009 dan 2010 mendatang.
Selain ANTM, emiten lain yang menopang kenaikan indeks BISNIS-27 di antaranya adalah saham International Nickel Indonesia Tbk (INCO) yang bergerak naik 4,86% ke level Rp3.775. Pinjaman senilai US$300 juta yang berhasil didapat dari Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ dan Mizuho Corporate Bank, menjadi sentimen positif saham INCO sejak Selasa sehari sebelumnya. Pinjaman tersebut direncanakan untuk membiayai proyek pembangkit listrik tenaga air di Karebbe, Sulawesi Selatan.
Secara teknis, indeks BISNIS-27 masih berada dalam kondisi masih cukup murah dengan indeks RSI (Relative Strenght Index) di kisaran 50, namun beberapa koreksi teknis karena profit taking mewarnai pergerakan harga beberapa konstituennya seperti Unilever Tbk (UNVR), Astra International Tbk (ASII), dan Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) pada perdagangan kemarin.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 melanjutkan penguatannya yang terbentuk sejak awal pekan. Kemarin, indeks BISNIS-27 bergerak menguat 0,75% ditutup di level 230,0. Penguatan indeks masih ditopang oleh saham-saham komoditas terutama saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang bergerak positif oleh sentimen pergerakan harga emas yang melewati level US$1.200 per ounce. Saham ANTM naik 4,35% ke level Rp2.400.
Indeks saham regional Asia Pasifik juga tampak bergerak menguat dengan kenaikan di bawah 1% berjalan beriringan dengan penguatan indeks BISNIS-27. Indeks Hang Seng naik 0,8%, indeks Nikkei-225 naik 0,38%, indeks STI Singapura naik 0,92%.
Berlanjutnya tren bullish harga emas memperkuat keyakinan investor bahwa pelemahan dolar AS yang sempat terhenti oleh sentimen negatif gagal bayar obligasi Dubai World di awal pekan ini, masih akan berlanjut hingga melewati akhir tahun ini. Dolar AS yang melemah masih dipandang perlu untuk menopang perdagangan AS. Di sisi lain, pemerintah AS melalui kebijakan suku bunga The Fed tetap berada pada kebijakan suku bunga rendah 0,25% untuk menopang daya beli dalam negeri dan meningkatkan likuiditas.
Dari sisi teknis, motif lindung nilai (hedging) dengan komoditas emas semakin meningkat dengan ekspektasi perbaikan ekonomi global. Ancaman inflasi berpotensi muncul ketika ekonomi mulai mengalami masa overheat setelah melewati masa krisis likuiditas sejak kuartal IV/ 2008 lalu, sehingga meningkatkan transaksi hedging pada komoditas emas. Di sisi lain, harga minyak dunia tetap stabil di level US$77 per barel karena level resistance harga minyak saat ini masih di kisaran US$80 per barel, seiring belum kuatnya daya beli emerging market yang diharapkan menjadi penopang perbaikan ekonomi negara maju.
Bagi saham ANTM, sebagai salah satu emiten produsen emas terbesar di Indonesia, kenaikan harga emas dunia tentu memiliki imbas secara langsung terhadap nilai penjualan emas yang akan berdampak naiknya laba bersih ANTM di 2009 dan 2010 mendatang.
Selain ANTM, emiten lain yang menopang kenaikan indeks BISNIS-27 di antaranya adalah saham International Nickel Indonesia Tbk (INCO) yang bergerak naik 4,86% ke level Rp3.775. Pinjaman senilai US$300 juta yang berhasil didapat dari Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ dan Mizuho Corporate Bank, menjadi sentimen positif saham INCO sejak Selasa sehari sebelumnya. Pinjaman tersebut direncanakan untuk membiayai proyek pembangkit listrik tenaga air di Karebbe, Sulawesi Selatan.
Secara teknis, indeks BISNIS-27 masih berada dalam kondisi masih cukup murah dengan indeks RSI (Relative Strenght Index) di kisaran 50, namun beberapa koreksi teknis karena profit taking mewarnai pergerakan harga beberapa konstituennya seperti Unilever Tbk (UNVR), Astra International Tbk (ASII), dan Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) pada perdagangan kemarin.
Rabu, Desember 02, 2009
Ulasan Indeks BISNIS-27 edisi 2 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Di perdagangan hari kedua pekan ini, indeks BISNIS-27 masih menunjukkan tren bullish sejak awal pekan dengan kenaikan melewati 1,5%. Indeks BISNIS-27 ditutup di level 228,29 atau naik 1,51%. Sebanyak 19 saham konstituen BISNIS-27 bergerak naik, 5 saham bergerak melemah, dan tiga saham tidak berubah posisi dari posisi penutupan awal pekan.
Saham komoditas seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM), International Nickel Indonesia Tbk (INCO), dan saham konsumsi Unilever Tbk (UNVR) memimpin pergerakan indeks BISNIS-27 dengan membukukan gain yang signifikan. Saham ANTM naik 4,55%, saham INCO naik 4,35%, dan UNVR naik 5,88%.
Faktor koreksi harga emas dunia sebesar 1,68% ke level US$1.179 per ounce dari posisi akhir pekan kemarin sebesar US$1.190 per ounce, memicu investor untuk mengkoleksi saham ANTM dengan ekspektasi rebound harga emas dalam jangka pendek. Ekspektasi tersebut dilandasi pergerakan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang berhasil ditutup menguat 0,34%, begitu juga dengan indeks regional Asia Pasifik seperti yang ditutup positif pada perdagangan Selasa kemarin. Indeks Hang Seng naik 1,34%, indeks Nikkei-225 naik 2,43%, indeks STI Singapura naik 1,42%.
Positifnya kinerja bursa New York dan Asia Pasifik tersebut menjaga optimisme pelaku pasar bahwa dolar AS akan kembali melemah terhadap beberapa mata uang seperti euro, yen, dan juga mata uang emerging market seiring minat investor untuk berinvestasi di tempat yang menjanjikan imbal hasil lebih tinggi serta meninggalkan dolar AS sebagai tempat investasi yang paling aman (safe heaven). Di sisi lain, AS masih membutuhkan nilai dolar AS yang melemah untuk meningkatkan nilai ekspornya. Suku bunga The Fed yang tetap rendah di level 0,25% hingga awal tahun juga akan menambah sentimen pelemahan dolar AS, selain untuk menopang konsumsi dalam negeri AS. Nilai rupiah menguat tipis ke level Rp9.465/US$ pada perdagangan kemarin dari posisi sehari sebelumnya Rp9.475/US$.
Dari dalam negeri, pergerakan positif saham-saham indeks BISNIS-27 ditopang oleh data inflasi November yang mencatat deflasi 0,03% (m-t-m) yang disebabkan penurunan harga di komoditas pokok di antaranya minyak goreng dan telur ayam. Turunnya harga bahan pokok tersebut menjadi indikator daya beli masyarakat yang meningkat. Selain itu, laju inflasi kalender sebesar 2,45% atau tetap terkendali di bawah target pemerintah sebesar 4% untuk inflasi 2009.
Level inflasi yang semakin rendah diharapkan akan membantu menurunkan suku bunga kredit perbankan untuk memacu konsumsi dalam negeri dan juga modal kerja sektor riil, sehingga akan meningkatkan daya beli masyarakat. Saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 2,7%, saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,6%, dan saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 2,25%.
Pinjaman senilai US$ 300 juta dari Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ dan Mizuho Corporate Bank, yang berhasil diraih oleh International Nickel Indonesia Tbk menopang kenaikan saham INCO pada perdagangan kemarin. Pinjaman tersebut direncanakan untuk membiayai proyek pembangkit listrik tenaga air di Karebbe, Sulawesi Selatan.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Di perdagangan hari kedua pekan ini, indeks BISNIS-27 masih menunjukkan tren bullish sejak awal pekan dengan kenaikan melewati 1,5%. Indeks BISNIS-27 ditutup di level 228,29 atau naik 1,51%. Sebanyak 19 saham konstituen BISNIS-27 bergerak naik, 5 saham bergerak melemah, dan tiga saham tidak berubah posisi dari posisi penutupan awal pekan.
Saham komoditas seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM), International Nickel Indonesia Tbk (INCO), dan saham konsumsi Unilever Tbk (UNVR) memimpin pergerakan indeks BISNIS-27 dengan membukukan gain yang signifikan. Saham ANTM naik 4,55%, saham INCO naik 4,35%, dan UNVR naik 5,88%.
Faktor koreksi harga emas dunia sebesar 1,68% ke level US$1.179 per ounce dari posisi akhir pekan kemarin sebesar US$1.190 per ounce, memicu investor untuk mengkoleksi saham ANTM dengan ekspektasi rebound harga emas dalam jangka pendek. Ekspektasi tersebut dilandasi pergerakan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang berhasil ditutup menguat 0,34%, begitu juga dengan indeks regional Asia Pasifik seperti yang ditutup positif pada perdagangan Selasa kemarin. Indeks Hang Seng naik 1,34%, indeks Nikkei-225 naik 2,43%, indeks STI Singapura naik 1,42%.
Positifnya kinerja bursa New York dan Asia Pasifik tersebut menjaga optimisme pelaku pasar bahwa dolar AS akan kembali melemah terhadap beberapa mata uang seperti euro, yen, dan juga mata uang emerging market seiring minat investor untuk berinvestasi di tempat yang menjanjikan imbal hasil lebih tinggi serta meninggalkan dolar AS sebagai tempat investasi yang paling aman (safe heaven). Di sisi lain, AS masih membutuhkan nilai dolar AS yang melemah untuk meningkatkan nilai ekspornya. Suku bunga The Fed yang tetap rendah di level 0,25% hingga awal tahun juga akan menambah sentimen pelemahan dolar AS, selain untuk menopang konsumsi dalam negeri AS. Nilai rupiah menguat tipis ke level Rp9.465/US$ pada perdagangan kemarin dari posisi sehari sebelumnya Rp9.475/US$.
Dari dalam negeri, pergerakan positif saham-saham indeks BISNIS-27 ditopang oleh data inflasi November yang mencatat deflasi 0,03% (m-t-m) yang disebabkan penurunan harga di komoditas pokok di antaranya minyak goreng dan telur ayam. Turunnya harga bahan pokok tersebut menjadi indikator daya beli masyarakat yang meningkat. Selain itu, laju inflasi kalender sebesar 2,45% atau tetap terkendali di bawah target pemerintah sebesar 4% untuk inflasi 2009.
Level inflasi yang semakin rendah diharapkan akan membantu menurunkan suku bunga kredit perbankan untuk memacu konsumsi dalam negeri dan juga modal kerja sektor riil, sehingga akan meningkatkan daya beli masyarakat. Saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 2,7%, saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,6%, dan saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 2,25%.
Pinjaman senilai US$ 300 juta dari Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ dan Mizuho Corporate Bank, yang berhasil diraih oleh International Nickel Indonesia Tbk menopang kenaikan saham INCO pada perdagangan kemarin. Pinjaman tersebut direncanakan untuk membiayai proyek pembangkit listrik tenaga air di Karebbe, Sulawesi Selatan.
Selasa, Desember 01, 2009
Ulasan Pasar edisi 1 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 di awal pekan bergerak positif ke level 224,88 atau menguat 1,5% dari posisi penutupan akhir pekan lalu, Kamis (26/11). Indeks regional Asia Pasifik memberikan sentimen positif bagi penguatan indeks BISNIS-27 kemarin.
Indeks Hang Seng naik 3,25% dan Nikkei-225 naik 2,91%. Penguatan indeks regional Asia Pasifik tidak terlepas dari kekhawatiran investor global terhadap perkembangan krisis likuiditas dan pemulihan ekonomi global setelah muncul penundaan pembayaran obligasi Dubai World. Dolar AS kembali menguat atau mengalami reversal dari tren depresiasi selama tiga pekan terakhir terhadap yen dan euro.
Rupiah pun sedikit melemah dari posisi Rp9.445 per US$ pada posisi akhir pekan kemarin ke level Rp9.500 per US$ di awal pekan ini. namun, investor tetap memburu emerging market sebagai wilayah investasi yang menguntungkan selain memegang dolar AS. Saham-saham emerging market menjadi instrument hedging investasi jangka panjang saat ini, setelah harga emas yang menjadi primadona hedging dalam tiga pekan terakhir mengalami koreksi profit taking seiring adanya penguatan dolar AS. Harga emas merosot 1,3% ke level US$1.175 per ounce di awal pekan ini.
Faktor teknis berupa harga saham indeks BISNIS-27 yang cukup murah dan memiliki posisi beli setelah koreksi Kamis pekan kemarin sebesar 2,75%, memberikan sentimen beli bagi investor asing yang memang ingin mengalihkan dananya ke emerging market khususnya Indonesia. Pembelian bersih investor asing di Bursa Efek Indonesia kemarin sebesar Rp494 miliar atau tertinggi dalam tiga pekan terakhir.
Beberapa saham indeks BISNIS-27 yang membukukan gain kemarin di antaranya Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar 5,51%, saham Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 4,38%, saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 4,11%, saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 2,86%.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 di awal pekan bergerak positif ke level 224,88 atau menguat 1,5% dari posisi penutupan akhir pekan lalu, Kamis (26/11). Indeks regional Asia Pasifik memberikan sentimen positif bagi penguatan indeks BISNIS-27 kemarin.
Indeks Hang Seng naik 3,25% dan Nikkei-225 naik 2,91%. Penguatan indeks regional Asia Pasifik tidak terlepas dari kekhawatiran investor global terhadap perkembangan krisis likuiditas dan pemulihan ekonomi global setelah muncul penundaan pembayaran obligasi Dubai World. Dolar AS kembali menguat atau mengalami reversal dari tren depresiasi selama tiga pekan terakhir terhadap yen dan euro.
Rupiah pun sedikit melemah dari posisi Rp9.445 per US$ pada posisi akhir pekan kemarin ke level Rp9.500 per US$ di awal pekan ini. namun, investor tetap memburu emerging market sebagai wilayah investasi yang menguntungkan selain memegang dolar AS. Saham-saham emerging market menjadi instrument hedging investasi jangka panjang saat ini, setelah harga emas yang menjadi primadona hedging dalam tiga pekan terakhir mengalami koreksi profit taking seiring adanya penguatan dolar AS. Harga emas merosot 1,3% ke level US$1.175 per ounce di awal pekan ini.
Faktor teknis berupa harga saham indeks BISNIS-27 yang cukup murah dan memiliki posisi beli setelah koreksi Kamis pekan kemarin sebesar 2,75%, memberikan sentimen beli bagi investor asing yang memang ingin mengalihkan dananya ke emerging market khususnya Indonesia. Pembelian bersih investor asing di Bursa Efek Indonesia kemarin sebesar Rp494 miliar atau tertinggi dalam tiga pekan terakhir.
Beberapa saham indeks BISNIS-27 yang membukukan gain kemarin di antaranya Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar 5,51%, saham Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 4,38%, saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 4,11%, saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 2,86%.
Langganan:
Postingan (Atom)