Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham akhirnya ditutup naik tipis 3,01 poin (0,1%) pada perdagangan selasa kemarin di level 2.278,68 setelah sebelumnya di sesi perdagangan pertama terkoreksi 18 poin oleh profit taking saham pertambangan batu bara dan perbankan serta saham Telekomunikasi Indonesia yang telah mencetak gain sejak akhir pekan lalu karena faktor teknis dan kondisi yang oversold sebelumnya. Sentimen positif dari penurunan harga minyak memperkuat technical rebound tersebut.
Harga saham Bank Mandiri kembali bergerak naik Rp25 (0,86%) terdongkrak laporan keuangan semester I/2008 yang mencatat kenaikan laba bersih sebesar 22% atau Rp470 miliar dari level Rp2,1 triliun semester I/2007 menjadi Rp2,6 triliun di semester I/2008. Bank Mandiri mencatat peningkatan penyaluran dana pihak ketiga di semester I/2008 yang ditandai dengan meningkatnya LDR (Loan to Deposit Ratio) sebesar 59,53% dibandingkan semester I/2007 yang sebesar 53,64% berbanding lurus dengan naiknya jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun sebesar Rp224 triliun atau naik 12% dari jumlah tahun lalu yang sebesar Rp200 triliun. ROA di semester I/2008 sebesar 2,62% naik dari posisi semester I/2007 yang sebesar 2,42% dan ROE sebesar 21,63% naik dari posisi tahun lalu yang sebesar 18,83%. Saham Bank lainnya seperti Bank BCA ditutup naik Rp25 (0,84%) dan Bank Permata (BNLI) naik Rp10 (1,15%). Saham BBNI, BBRI, dan BDMN ditutup tidak berubah dari posisi sehari sebelumnya.
Saham Bumi Resources dan PT Tambang batu bara bukit asam kembali ditutup naik masing-masing 1,57% dan 0,76% setelah harga minyak dunia sedikit naik sebesar $1 per barel ke level $125 per barel. Harga saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) ikut ditutup naik Rp500 (1,79%).
Saham Telekomunikasi Indonesia bergerak turun oleh koreksi teknis sebesar Rp100 (-1,25%) ke level Rp7.900 setelah indikator RSI menyentuh level 60,41 (overbought) pada 28 Juli dan harga saham TLKM sejak 17 Juli telah naik 19,4%. Saham Excelcomindo Pratama (EXCL) naik Rp100 (4,6%) ke level Rp2.275 setelah mencatat kenaikan laba bersih 14 kali lipat atau sebesar Rp631 miliar pada semester I/2008 dari posisi Rp41 miliar di semester I tahun lalu.
Kenaikan laba bersih di semester I/2008 juga berhasil mengangkat harga saham Indocement Tunggal Perkasa (INTP) yang naik sebesar Rp100 (1,69%) ke level Rp6.000. Laba bersih Indocement naik sebesar 114% atau sebesar Rp770 miliar dibandingkan dengan posisi semester I tahun lalu yang sebesar Rp360 miliar. Laba per saham naik Rp209,37 dari posisi semester I tahun lalu yang sebesar Rp97,83 dan PER (price to earning ratio) turun ke level 26,03 kali dibandingkan dengan semester I tahun lalu 68,88 kali. Sejak akhir pekan lalu, saham INTP bergerak di upperline indikator Bollinger hingga perdagangan selasa yang memberikan sinyal bullish untuk saham tersebut. Pergerakan harga minyak yang stabil di level $124 sampai $125 per barel akan berbanding lurus dengan perbaikan daya beli masyarakat dan permintaan untuk properti seiring inflasi yang lebih terkendali. Harga saham Semen Gresik (SMGR) ikut ditutup naik Rp150 (3,85%) dan Holcim Indonesia (SMCB) naik Rp10 (0,88%).
Kamis, Juli 31, 2008
Selasa, Juli 29, 2008
Ulasan Pasar 28 Juli 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham bergerak rebound di awal perdagangan pekan terakhir Juli ini dengan mencetak gain sebesar 30,33 poin (1,4%) dari level penutupan IHSG akhir pekan lalu. IHSG kemarin ditutup di level 2.275,68 ditopang oleh kenaikan harga saham pertambangan, perbankan, dan telekomunikasi yang telah berada di level harga oversold pada akhir pekan kemarin. Selain itu, harga minyak dunia yang tetap berkisar di level $124 per barel memberikan sentimen positif pada bursa terhadap laju inflasi dalam negeri.
Saham Bumi Resources (BUMI) ditutup naik Rp400(6,72%) ke level Rp6.350. Secara teknikal, indikator RSI (Relative Strenght Index) berada di posisi 40,61 atau masih berada dalam area oversold sejak awal Juli. Selain itu, indikator MACD semakin melemah di areal negatif yang memberikan sinyal beli untuk saham BUMI.
Faktor teknikal juga mendongkrak saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) kemarin dengan kenaikan sebesar Rp250 (3,23%) ke level Rp8.000. Indikator Bollinger menunjukkan pergerakan harga TLKM berada di sekital upperline yang memberikan sinyal bullish untuk saham Telekomunikasi Indonesia. Begitu juga dengan saham perbankan seperti saham Bank BNI (BBNI) dan Bank BCA (BBCA) yang bergerak di sekitar upperline Bollinger. Harga saham BBNI kemarin ditutup naik Rp60 (4,41%) dan saham BBCA ditutup naik Rp25 (0,85%). Harga minyak dunia yang belum beranjak naik melewati $125 sejak akhir pekan kemarin memberikan sentimen positif membaiknya laju inflasi di bulan September. Pelaku bursa pun mengekspektasikan level BI rate yang tetap di posisi 8,75% hingga akhir tahun. Daya beli masyarakat dan permintaan kredit konsumsi dari perbankan diharapkan akan membaik di semester kedua tahun ini.
Saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) bergerak naik Rp250 (2,1%) ke level Rp12.000 per lembar saham seiring rencana Perusahaan Gas Negara untuk melepas saham pemerintah sebanyak 254 juta saham. Secara teknis, saham PGAS berpotensi bullish seiring indikator RSI yang masih dalam area oversold dalam sebulan terakhir.
Bursa saham bergerak rebound di awal perdagangan pekan terakhir Juli ini dengan mencetak gain sebesar 30,33 poin (1,4%) dari level penutupan IHSG akhir pekan lalu. IHSG kemarin ditutup di level 2.275,68 ditopang oleh kenaikan harga saham pertambangan, perbankan, dan telekomunikasi yang telah berada di level harga oversold pada akhir pekan kemarin. Selain itu, harga minyak dunia yang tetap berkisar di level $124 per barel memberikan sentimen positif pada bursa terhadap laju inflasi dalam negeri.
Saham Bumi Resources (BUMI) ditutup naik Rp400(6,72%) ke level Rp6.350. Secara teknikal, indikator RSI (Relative Strenght Index) berada di posisi 40,61 atau masih berada dalam area oversold sejak awal Juli. Selain itu, indikator MACD semakin melemah di areal negatif yang memberikan sinyal beli untuk saham BUMI.
Faktor teknikal juga mendongkrak saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) kemarin dengan kenaikan sebesar Rp250 (3,23%) ke level Rp8.000. Indikator Bollinger menunjukkan pergerakan harga TLKM berada di sekital upperline yang memberikan sinyal bullish untuk saham Telekomunikasi Indonesia. Begitu juga dengan saham perbankan seperti saham Bank BNI (BBNI) dan Bank BCA (BBCA) yang bergerak di sekitar upperline Bollinger. Harga saham BBNI kemarin ditutup naik Rp60 (4,41%) dan saham BBCA ditutup naik Rp25 (0,85%). Harga minyak dunia yang belum beranjak naik melewati $125 sejak akhir pekan kemarin memberikan sentimen positif membaiknya laju inflasi di bulan September. Pelaku bursa pun mengekspektasikan level BI rate yang tetap di posisi 8,75% hingga akhir tahun. Daya beli masyarakat dan permintaan kredit konsumsi dari perbankan diharapkan akan membaik di semester kedua tahun ini.
Saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) bergerak naik Rp250 (2,1%) ke level Rp12.000 per lembar saham seiring rencana Perusahaan Gas Negara untuk melepas saham pemerintah sebanyak 254 juta saham. Secara teknis, saham PGAS berpotensi bullish seiring indikator RSI yang masih dalam area oversold dalam sebulan terakhir.
Jumat, Juli 25, 2008
Saham bank penggerak pasar
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Saham-saham sektor perbankan masih menjadi motor penggerak indeks harga saham gabungan hingga penutupan perdagangan kemarin. Sekitar 62% penggerak IHSG kemarin berasal dari saham-saham sektor finansial. Di sisi lain, sektor pertambangan terutama saham-saham batu bara menjadi penghambat kenaikan IHSG. Saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp50 (-0,8%), saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 (-2,09%). Faktor penurunan harga minyak di bursa New York masih menjadi sentimen negatif saham-saham energi alternatif minyak. Harga minyak melanjutkan koreksi ke level $124,32 per barel untuk pengiriman bulan September atau turun 5% dalam sepekan. IHSG naik 31,21 poin (1,4%) ke level 2.257,05.
Saham perbankan seperti saham Bank BNI (BBNI) naik Rp110 (8,33%), Bank BRI naik Rp450 (7,56%), Bank BCA naik Rp150 (5,17%), Bank Mandiri naik Rp100 (3,45%), dan saham Bank Danamon (BDMN) naik Rp150 (2,75%). Harga minyak dunia yang melanjutkan koreksinya diharapkan akan mengurangi risiko inflasi dan dapat menahan posisi BI rate di posisi saat ini yaitu 8,75%. Potensi inflasi di bulan puasa mendatang serta keperluan perayaan Idul Fitri dapat ditekan dengan harga minyak yang terus turun dan rupiah yang menguat terhadap dolar AS. Risiko inflasi yang berkurang mulai dapat diindikasikan dengan menguatnya rupiah atas dolar AS hingga perdagangan kemarin yang berada di posisi Rp9.132/US$ atau menguat 0,1% dari posisi sehari sebelumnya. Selain itu, investor asing juga kembali mengarahkan dananya ke bursa saham yang ditandai dengan netbuy sebesar Rp271 miliar. Pelaku bursa mengharapkan posisi BI rate tidak naik hingga akhir tahun bersamaan dengan kebutuhan pendanaan masyarakat untuk perayaan hari raya Idul Fitri dan libur akhir tahun yang sangat berpotensi meningkatkan pendapatan bunga dari kredit konsumsi.
Rencana China Construction Bank Corp. (CCB) untuk membeli 3,7% saham green shoe Bank BNI yang akan dilepas pemerintah dalam rangka privatisasi dan juga saham yang beredar di pasar hingga maksimal 20% masih memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga saham BBNI kemarin.
Secara teknikal, saham BMRI memasuki areal bullish yang ditunjukkan oleh indikator MACD yang semakin meningkat di areal positif sejak awal pekan ini. Saham BDMN bahkan berhasil menembus upperline indikator bollinger pada perdagangan rabu yang memberikan sinyal bullish dan kondisi tersebut berhasil diwujudkan dengan kenaikan lanjutan saham BDMN hingga 2,75% di penutupan kemarin. Di akhir pekan ini, saham-saham perbankan tersebut rawan aksi profit taking untuk mengantisipasi sentimen negatif pengumuman inflasi Juli.
Saham Aneka Tambang bergerak naik Rp125 (5,26%) ke posisi Rp2.500 setelah bursa mendapat sentimen positif dari rencana aksi korporasi Aneka Tambang untuk menyiapkan dana senilai US$450 juta untuk mengakuisisi tambang batu bara dan emas di Afrika dan memperbesar kepemilikan atas proyek Martabe milik Oxiana Ltd hingga 25%.
Saham-saham sektor perbankan masih menjadi motor penggerak indeks harga saham gabungan hingga penutupan perdagangan kemarin. Sekitar 62% penggerak IHSG kemarin berasal dari saham-saham sektor finansial. Di sisi lain, sektor pertambangan terutama saham-saham batu bara menjadi penghambat kenaikan IHSG. Saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp50 (-0,8%), saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 (-2,09%). Faktor penurunan harga minyak di bursa New York masih menjadi sentimen negatif saham-saham energi alternatif minyak. Harga minyak melanjutkan koreksi ke level $124,32 per barel untuk pengiriman bulan September atau turun 5% dalam sepekan. IHSG naik 31,21 poin (1,4%) ke level 2.257,05.
Saham perbankan seperti saham Bank BNI (BBNI) naik Rp110 (8,33%), Bank BRI naik Rp450 (7,56%), Bank BCA naik Rp150 (5,17%), Bank Mandiri naik Rp100 (3,45%), dan saham Bank Danamon (BDMN) naik Rp150 (2,75%). Harga minyak dunia yang melanjutkan koreksinya diharapkan akan mengurangi risiko inflasi dan dapat menahan posisi BI rate di posisi saat ini yaitu 8,75%. Potensi inflasi di bulan puasa mendatang serta keperluan perayaan Idul Fitri dapat ditekan dengan harga minyak yang terus turun dan rupiah yang menguat terhadap dolar AS. Risiko inflasi yang berkurang mulai dapat diindikasikan dengan menguatnya rupiah atas dolar AS hingga perdagangan kemarin yang berada di posisi Rp9.132/US$ atau menguat 0,1% dari posisi sehari sebelumnya. Selain itu, investor asing juga kembali mengarahkan dananya ke bursa saham yang ditandai dengan netbuy sebesar Rp271 miliar. Pelaku bursa mengharapkan posisi BI rate tidak naik hingga akhir tahun bersamaan dengan kebutuhan pendanaan masyarakat untuk perayaan hari raya Idul Fitri dan libur akhir tahun yang sangat berpotensi meningkatkan pendapatan bunga dari kredit konsumsi.
Rencana China Construction Bank Corp. (CCB) untuk membeli 3,7% saham green shoe Bank BNI yang akan dilepas pemerintah dalam rangka privatisasi dan juga saham yang beredar di pasar hingga maksimal 20% masih memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga saham BBNI kemarin.
Secara teknikal, saham BMRI memasuki areal bullish yang ditunjukkan oleh indikator MACD yang semakin meningkat di areal positif sejak awal pekan ini. Saham BDMN bahkan berhasil menembus upperline indikator bollinger pada perdagangan rabu yang memberikan sinyal bullish dan kondisi tersebut berhasil diwujudkan dengan kenaikan lanjutan saham BDMN hingga 2,75% di penutupan kemarin. Di akhir pekan ini, saham-saham perbankan tersebut rawan aksi profit taking untuk mengantisipasi sentimen negatif pengumuman inflasi Juli.
Saham Aneka Tambang bergerak naik Rp125 (5,26%) ke posisi Rp2.500 setelah bursa mendapat sentimen positif dari rencana aksi korporasi Aneka Tambang untuk menyiapkan dana senilai US$450 juta untuk mengakuisisi tambang batu bara dan emas di Afrika dan memperbesar kepemilikan atas proyek Martabe milik Oxiana Ltd hingga 25%.
Ulasan Pasar 23 Juli 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham melanjutkan rebound di perdagangan kemarin dengan mencatat kenaikan sebesar 13,09 poin (0,6%) ke level 2.225,84. Saham perbankan dan Telekomunikasi Indonesia menjadi saham-saham utama penggerak kenaikan IHSG kemarin.
Saham Bank BNI (BBNI) naik 10,92%, saham Bank Danamon (BDMN) naik 9%, dan saham Bank Mandiri (BMRI) naik 4,5%. Harga minyak dunia untuk pengiriman September berada di level $126 per barel, sehingga mengurangi risiko inflasi di bulan puasa dan Idul Fitri. Risiko inflasi yang berkurang diharapkan akan dapat menahan posisi BI rate di posisi saat ini yaitu 8,75%. Sektor perbankan mengharapkan posisi BI rate tidak bergerak naik hingga akhir tahun bersamaan dengan kebutuhan pendanaan masyarakat untuk perayaan hari raya Idul Fitri dan liburan akhir tahun yang sangat berpotensi meningkatkan pendapatan bunga dari kredit konsumsi.
Saham BBNI terdongkrak oleh minat China Construction Bank Corp. (CCB) untuk membeli 3,7% saham green shoe Bank BNI yang akan dilepas pemerintah dalam rangka privatisasi dan juga saham yang beredar di pasar hingga maksimal 20%.
Secara teknikal, saham BMRI memasuki areal bullish yang ditunjukkan oleh indikator MACD yang semakin meningkat di areal positif sejak awal pekan ini hingga perdagangan kemarin, begitu juga dengan saham BDMN. Saham BDMN bahkan berhasil menembus upperline indikator bollinger yang memberikan sinyal bullish hingga akhir pekan ini menjelang pengumuman inflasi Juli dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menentukan level BI rate pekan depan. Di akhir pekan ini, saham-saham perbankan tersebut rawan aksi profit taking untuk mengantisipasi sentimen negatif pengumuman inflasi Juli.
Dari sektor otomotif, saham Astra Internasional (ASII) ikut terdongkrak naik oleh sentimen turunnya harga minyak yang akan menekan biaya impor. Saham ASII naik Rp1.100 (5,37%) ke posisi Rp21.600.
Saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) masih melanjutkan tren naiknya dengan mencatatkan gain sebesar Rp50 (0,65%) ke posisi Rp7.700. Saham TLKM memasuki masa rawan koreksi setelah naik Rp1.000 (15%) dalam empat hari perdagangan terakhir. Indikator RSI juga telah mencapai 55,76 yang merupakan level tertinggi dalam empat bulan terakhir dan telah memasuki areal overbought.
Harga minyak dunia yang melemah di level $126 per barel menurunkan ekspektasi pasar terhadap permintaan energi alternatif seperti batu bara. Saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp300 (-4,72%) ke level Rp6.050. Selain batu bara, permintaan CPO untuk penggunaan biofuel diprediksi ikut berkurang. Saham Astra Agro Lestari turun Rp1.500 (-6,85%) ke level Rp20.400. Harga CPO untuk pengiriman Oktober turun 5,9% di bursa Malaysia.
Bursa saham melanjutkan rebound di perdagangan kemarin dengan mencatat kenaikan sebesar 13,09 poin (0,6%) ke level 2.225,84. Saham perbankan dan Telekomunikasi Indonesia menjadi saham-saham utama penggerak kenaikan IHSG kemarin.
Saham Bank BNI (BBNI) naik 10,92%, saham Bank Danamon (BDMN) naik 9%, dan saham Bank Mandiri (BMRI) naik 4,5%. Harga minyak dunia untuk pengiriman September berada di level $126 per barel, sehingga mengurangi risiko inflasi di bulan puasa dan Idul Fitri. Risiko inflasi yang berkurang diharapkan akan dapat menahan posisi BI rate di posisi saat ini yaitu 8,75%. Sektor perbankan mengharapkan posisi BI rate tidak bergerak naik hingga akhir tahun bersamaan dengan kebutuhan pendanaan masyarakat untuk perayaan hari raya Idul Fitri dan liburan akhir tahun yang sangat berpotensi meningkatkan pendapatan bunga dari kredit konsumsi.
Saham BBNI terdongkrak oleh minat China Construction Bank Corp. (CCB) untuk membeli 3,7% saham green shoe Bank BNI yang akan dilepas pemerintah dalam rangka privatisasi dan juga saham yang beredar di pasar hingga maksimal 20%.
Secara teknikal, saham BMRI memasuki areal bullish yang ditunjukkan oleh indikator MACD yang semakin meningkat di areal positif sejak awal pekan ini hingga perdagangan kemarin, begitu juga dengan saham BDMN. Saham BDMN bahkan berhasil menembus upperline indikator bollinger yang memberikan sinyal bullish hingga akhir pekan ini menjelang pengumuman inflasi Juli dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menentukan level BI rate pekan depan. Di akhir pekan ini, saham-saham perbankan tersebut rawan aksi profit taking untuk mengantisipasi sentimen negatif pengumuman inflasi Juli.
Dari sektor otomotif, saham Astra Internasional (ASII) ikut terdongkrak naik oleh sentimen turunnya harga minyak yang akan menekan biaya impor. Saham ASII naik Rp1.100 (5,37%) ke posisi Rp21.600.
Saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) masih melanjutkan tren naiknya dengan mencatatkan gain sebesar Rp50 (0,65%) ke posisi Rp7.700. Saham TLKM memasuki masa rawan koreksi setelah naik Rp1.000 (15%) dalam empat hari perdagangan terakhir. Indikator RSI juga telah mencapai 55,76 yang merupakan level tertinggi dalam empat bulan terakhir dan telah memasuki areal overbought.
Harga minyak dunia yang melemah di level $126 per barel menurunkan ekspektasi pasar terhadap permintaan energi alternatif seperti batu bara. Saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp300 (-4,72%) ke level Rp6.050. Selain batu bara, permintaan CPO untuk penggunaan biofuel diprediksi ikut berkurang. Saham Astra Agro Lestari turun Rp1.500 (-6,85%) ke level Rp20.400. Harga CPO untuk pengiriman Oktober turun 5,9% di bursa Malaysia.
Rabu, Juli 23, 2008
Ulasan Pasar 22 Juli 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham melanjutkan reboundnya pada perdagangan kemarin dengan kenaikan IHSG sebesar 17,69 poin (0,8%) ke level 2.212, 75. Teknikal rebound saham pertambangan batu bara dan telekomunikasi mewarnai pergerakan IHSG kemarin.
Saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) bergerak naik Rp550 (7,8%) ke posisi Rp7.650. Kenaikan harga saham TLKM ini dipengaruhi oleh faktor harga TLKM yang telah oversold selama sebulan terakhir. Indikator MACD di penutupan perdagangan awal pekan ini semakin melemah di areal negatif menuju areal positif dan pergerakan tersebut berhasil diwujudkan pada posisi penutupan kemarin yang memasuki areal positif. Indikator Bollinger mendekati upperline yang memberikan sinyal bullish untuk saham TLKM pada perdagangan kemarin. Faktor aksi korporasi Telekomunikasi Indonesia ikut menjadi pendongkrak saham TLKM kemarin. PT Telekomunikasi Indonesia segera mengantongi dana sebesar Rp9,3 triliun pada 27 Juli mendatang dari pinjaman sindikasi perbankan untuk membangun 6.000 base tranceiver station (BTS) yang akan dipakai Telkomsel dan Telkom.
Bursa masih merespon sentimen kenaikan harga minyak yang naik tipis 1,7% ke level $131 per barel dengan kembali mengkoleksi saham Bumi Resources (BUMI) dan PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA). Saham BUMI naik tipis Rp50 (0,79%) ke posisi Rp6.350 dan saham PTBA naik Rp450 (3,46%) ke posisi Rp13.450 per lembar saham.
Dari sektor perbankan, koreksi teknikal dialami oleh saham Bank BRI (BBRI) dan saham Bank Danamon (BDMN) yang terkoreksi akibat profit taking pelaku pasar setelah bergerak rebound dalam empat hari terakhir. Rupiah yang melemah terhadap dolar AS sejak akhir pekan kemarin dan harga minyak yang kembali bergerak naik ikut memberikan sentimen negatif dan mendorong pelaku pasar untuk merealisasikan gain saham BBRI dan BDMN. Rupiah melemah 18 poin ke level Rp9.153/US$ sejak akhir pekan kemarin. Rupiah yang bergerak melemah terhadap dolar AS akan menambah beban bunga dalam valuta asing. Saham BBRI turun Rp150 (-2,52%) dan saham BDMn turun Rp100 (-1,96%)
Dari sektor perkebunan, saham Bisi Internasional (BISI) naik Rp125 (2,9%) ke level Rp4.425. Laba bersih Bisi Internasional tercatat naik 327% di semester I/2008 ke posisi Rp205,8 miliar dari posisi Rp48,1 miliar di semester I/2007. Laba bersih per saham (EPS) naik menjadi Rp69 dari posisi Rp18 di semester I/2007.
Bursa saham melanjutkan reboundnya pada perdagangan kemarin dengan kenaikan IHSG sebesar 17,69 poin (0,8%) ke level 2.212, 75. Teknikal rebound saham pertambangan batu bara dan telekomunikasi mewarnai pergerakan IHSG kemarin.
Saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) bergerak naik Rp550 (7,8%) ke posisi Rp7.650. Kenaikan harga saham TLKM ini dipengaruhi oleh faktor harga TLKM yang telah oversold selama sebulan terakhir. Indikator MACD di penutupan perdagangan awal pekan ini semakin melemah di areal negatif menuju areal positif dan pergerakan tersebut berhasil diwujudkan pada posisi penutupan kemarin yang memasuki areal positif. Indikator Bollinger mendekati upperline yang memberikan sinyal bullish untuk saham TLKM pada perdagangan kemarin. Faktor aksi korporasi Telekomunikasi Indonesia ikut menjadi pendongkrak saham TLKM kemarin. PT Telekomunikasi Indonesia segera mengantongi dana sebesar Rp9,3 triliun pada 27 Juli mendatang dari pinjaman sindikasi perbankan untuk membangun 6.000 base tranceiver station (BTS) yang akan dipakai Telkomsel dan Telkom.
Bursa masih merespon sentimen kenaikan harga minyak yang naik tipis 1,7% ke level $131 per barel dengan kembali mengkoleksi saham Bumi Resources (BUMI) dan PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA). Saham BUMI naik tipis Rp50 (0,79%) ke posisi Rp6.350 dan saham PTBA naik Rp450 (3,46%) ke posisi Rp13.450 per lembar saham.
Dari sektor perbankan, koreksi teknikal dialami oleh saham Bank BRI (BBRI) dan saham Bank Danamon (BDMN) yang terkoreksi akibat profit taking pelaku pasar setelah bergerak rebound dalam empat hari terakhir. Rupiah yang melemah terhadap dolar AS sejak akhir pekan kemarin dan harga minyak yang kembali bergerak naik ikut memberikan sentimen negatif dan mendorong pelaku pasar untuk merealisasikan gain saham BBRI dan BDMN. Rupiah melemah 18 poin ke level Rp9.153/US$ sejak akhir pekan kemarin. Rupiah yang bergerak melemah terhadap dolar AS akan menambah beban bunga dalam valuta asing. Saham BBRI turun Rp150 (-2,52%) dan saham BDMn turun Rp100 (-1,96%)
Dari sektor perkebunan, saham Bisi Internasional (BISI) naik Rp125 (2,9%) ke level Rp4.425. Laba bersih Bisi Internasional tercatat naik 327% di semester I/2008 ke posisi Rp205,8 miliar dari posisi Rp48,1 miliar di semester I/2007. Laba bersih per saham (EPS) naik menjadi Rp69 dari posisi Rp18 di semester I/2007.
Selasa, Juli 22, 2008
Emiten pertambangan dongkrak indeks
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks harga saham gabungan rebound terimbas oleh kenaikan harga saham batu bara dan perkebunan kelapa sawit. Selain itu, harga minyak yang naik 1,6% ke level $130,96 per barel ikut memberikan sentimen positif bagi kenaikan harga saham batu bara dan CPO. IHSG ditutup naik 22,78 (3,43%) ke level 2.195,07. Indeks regional seperti Hangseng naik 3,01%, dan Strait Times naik 2,51%.
Pelaku bursa kembali mengkoleksi saham-saham pertambangan dan perkebunan kelapa sawit yang telah terkoreksi tajam sepekan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI) terkoreksi 11,3%, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) terkoreksi 15,6%, dan bahkan saham Astra Agro Lestari (AALI) terkoreksi sebesar 21,4% serta London Sumatera (LSIP) turun 18%.
Di perdagangan awal pekan ini, saham BUMI mencatat kenaikan 6,8% ke level Rp6.300 dan saham PTBA naik 5,69% ke level Rp13.000. Saham AALI naik 3,76% ke level Rp22.100 dan saham LSIP naik 6,85% ke level Rp7.800. Saham Adaro Energy naik 2,4% ke posisi Rp1.680 per lembar saham.
Saham Internasional Nickel (INCO) bergerak naik 3,1% ke level Rp4.125. Secara teknikal, indeks RSI saham INCO telah berada pada posisi 19 atau oversold di akhir pekan kemarin setelah selama sepekan penuh terkoreksi 26%. Harga minyak yang kembali naik tipis 1,6% berpotensi ikut meningkatkan harga nikel di bursa London. Di akhir pekan kemarin harga nikel di London Metal Exchange turun 1,81% ke level $20.308 per ton setelah sehari sebelumnya naik 1,82%.
Dari sektor perbankan, saham Bank BRI (BBRI) naik 4,39% ke level Rp5.950, saham Bank Danamon (BDMN) naik 3,03% ke level Rp5.100, dan saham Bank Mandiri naik 2,78% ke level Rp2.775. Kenaikan harga saham Bank Danamon dipengaruhi oleh kinerja Bank tersebut selama semester I/2008 yang mencatat kenaikan laba bersih sebesar 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya ke posisi Rp1,16 triliun dari posisi Rp1,02 triliun. Posisi Loan to Deposit Ratio/LDR naik ke level 91,7% dibandingkan dengan semester I/2007 yang sebesar 75,52%. Meningkatnya kinerja Bank Danamon tersebut terjadi di tengah daya beli masyarakat yang melemah oleh kenaikan harga BBM dalam semester I tahun ini dan pelaku bursa mengharapkan emiten bank lainnya juga akan mencatat kinerja yang sama dengan Bank Danamon untuk semester I/2008 ini.
Indeks harga saham gabungan rebound terimbas oleh kenaikan harga saham batu bara dan perkebunan kelapa sawit. Selain itu, harga minyak yang naik 1,6% ke level $130,96 per barel ikut memberikan sentimen positif bagi kenaikan harga saham batu bara dan CPO. IHSG ditutup naik 22,78 (3,43%) ke level 2.195,07. Indeks regional seperti Hangseng naik 3,01%, dan Strait Times naik 2,51%.
Pelaku bursa kembali mengkoleksi saham-saham pertambangan dan perkebunan kelapa sawit yang telah terkoreksi tajam sepekan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI) terkoreksi 11,3%, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) terkoreksi 15,6%, dan bahkan saham Astra Agro Lestari (AALI) terkoreksi sebesar 21,4% serta London Sumatera (LSIP) turun 18%.
Di perdagangan awal pekan ini, saham BUMI mencatat kenaikan 6,8% ke level Rp6.300 dan saham PTBA naik 5,69% ke level Rp13.000. Saham AALI naik 3,76% ke level Rp22.100 dan saham LSIP naik 6,85% ke level Rp7.800. Saham Adaro Energy naik 2,4% ke posisi Rp1.680 per lembar saham.
Saham Internasional Nickel (INCO) bergerak naik 3,1% ke level Rp4.125. Secara teknikal, indeks RSI saham INCO telah berada pada posisi 19 atau oversold di akhir pekan kemarin setelah selama sepekan penuh terkoreksi 26%. Harga minyak yang kembali naik tipis 1,6% berpotensi ikut meningkatkan harga nikel di bursa London. Di akhir pekan kemarin harga nikel di London Metal Exchange turun 1,81% ke level $20.308 per ton setelah sehari sebelumnya naik 1,82%.
Dari sektor perbankan, saham Bank BRI (BBRI) naik 4,39% ke level Rp5.950, saham Bank Danamon (BDMN) naik 3,03% ke level Rp5.100, dan saham Bank Mandiri naik 2,78% ke level Rp2.775. Kenaikan harga saham Bank Danamon dipengaruhi oleh kinerja Bank tersebut selama semester I/2008 yang mencatat kenaikan laba bersih sebesar 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya ke posisi Rp1,16 triliun dari posisi Rp1,02 triliun. Posisi Loan to Deposit Ratio/LDR naik ke level 91,7% dibandingkan dengan semester I/2007 yang sebesar 75,52%. Meningkatnya kinerja Bank Danamon tersebut terjadi di tengah daya beli masyarakat yang melemah oleh kenaikan harga BBM dalam semester I tahun ini dan pelaku bursa mengharapkan emiten bank lainnya juga akan mencatat kinerja yang sama dengan Bank Danamon untuk semester I/2008 ini.
Senin, Juli 21, 2008
Emiten batu bara dan CPO tekan indeks
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa selama sepekan ditutup melemah tajam 135,09 poin (5,9%) ke level 2.141,14 dari posisi 2.276,23 pada 11 Juli. Koreksi terbesar terjadi pada penutupan bursa hari kamis sebesar 50,41 poin (2,3%) dan akhir pekan kemarin sebesar 26,58 poin (1,2%).
Melemahnya IHSG selama sepekan dipicu oleh koreksi harga minyak dunia yang turun ke level $129 per barel atau 10,8% dalam sepekan karena masyarakat dunia terutama di AS mulai melakukan penghematan penggunaan minyak seiring harga yang terlampau mahal sebelumnya yaitu di atas level $140 per barel. Konsumsi minyak AS dua pekan lalu turun sebesar 5,2%.
Bagi pelaku bursa di Indonesia, koreksi harga minyak tersebut memberikan ekspektasi negatif bagi emiten produsen batu bara dan kelapa sawit. Harga minyak yang bergerak turun akan menekan permintaan terhadap batu bara dan juga CPO sebagai bahan bakar alternatif. Ekspektasi tersebut dikuatkan oleh terkoreksinya harga batu bara di Newcastle Port pada 11 Juli yang turun 3,6% ke posisi $187,7 per ton dari posisi $194,79 sepekan sebelumnya. Selama empat pekan berturut-turut sejak awal Juni, harga batu bara telah bergerak bullish dengan kenaikan mencapai 22,9%.
Saham-saham emiten batu bara segera tertekan oleh aksi jual pelaku pasar, saham Bumi Resources (BUMI) jatuh ke level terendahnya sejak 15 April 2008 yaitu Rp5.900 dan dalam sepekan saham BUMI terkoreksi sebesar 11,3%. Saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) ikut terkoreksi sebesar 15,6% dalam sepekan dan ditutup di level Rp12.300 di akhir pekan kemarin. Saham ITMG turun 5,16% dalam sepekan ditutup pada posisi Rp29.400.
Saham emiten kelapa sawit (CPO) bergerak turun dipengaruhi terkoreksinya harga CPO di bursa Malaysia sebesar 5,4% dalam sepekan dari level 3,587 Ringgit ke 3,392 Ringgit akhir pekan kemarin. Saham Astra Agro Lestari turun 21,4% dalam sepekan ditutup di level Rp21.300 pada akhir pekan kemarin dan saham London Sumatera turun 18% ditutup di level Rp7.300.
Di sisi lain, harga saham perbankan dan otomotif mencetak gain di akhir pekan. Saham Bank BCA naik 0,94%, saham Bank Mandiri naik 1,89%, saham Bank Danamon naik 4,76%, dan Bank BRI naik 6,54%. Harga minyak yang melemah diharapkan akan meningkatkan daya beli masyarakat dan juga meningkatkan penyaluran kredit perbankan terutama untuk sektor konsumsi. Kenaikan harga saham Bank Danamon dipengaruhi oleh kinerja Bank tersebut selama semester I/2008 yang mencatat kenaikan laba bersih sebesar 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya ke posisi Rp1,16 triliun dari posisi Rp1,02 triliun. Posisi Loan to Deposit Ratio/LDR naik ke level 91,7% dibandingkan dengan semester I/2007 yang sebesar 75,52%. Meningkatnya kinerja Bank Danamon tersebut terjadi di tengah daya beli masyarakat yang melemah oleh kenaikan harga BBM dalam semester I tahun ini. Pelaku bursa mengharapkan emiten bank lainnya juga akan mencatat kinerja yang sama dengan Bank Danamon untuk semester I/2008 ini. Oleh karena itu, pergerakan bursa selama sepekan ke depan akan dipengaruhi oleh laporan keuangan semester I emiten perbankan
Saham Astra Internasional (ASII) bergerak naik 5% di akhir pekan kemarin dan ditutup pada posisi Rp20.900. Penjualan PT Astra Honda Motor selama semester I/2008 tercatat naik 52,2% dan penjualan PT Toyota Astra Motor juga tercatat naik 42%.
Bursa selama sepekan ditutup melemah tajam 135,09 poin (5,9%) ke level 2.141,14 dari posisi 2.276,23 pada 11 Juli. Koreksi terbesar terjadi pada penutupan bursa hari kamis sebesar 50,41 poin (2,3%) dan akhir pekan kemarin sebesar 26,58 poin (1,2%).
Melemahnya IHSG selama sepekan dipicu oleh koreksi harga minyak dunia yang turun ke level $129 per barel atau 10,8% dalam sepekan karena masyarakat dunia terutama di AS mulai melakukan penghematan penggunaan minyak seiring harga yang terlampau mahal sebelumnya yaitu di atas level $140 per barel. Konsumsi minyak AS dua pekan lalu turun sebesar 5,2%.
Bagi pelaku bursa di Indonesia, koreksi harga minyak tersebut memberikan ekspektasi negatif bagi emiten produsen batu bara dan kelapa sawit. Harga minyak yang bergerak turun akan menekan permintaan terhadap batu bara dan juga CPO sebagai bahan bakar alternatif. Ekspektasi tersebut dikuatkan oleh terkoreksinya harga batu bara di Newcastle Port pada 11 Juli yang turun 3,6% ke posisi $187,7 per ton dari posisi $194,79 sepekan sebelumnya. Selama empat pekan berturut-turut sejak awal Juni, harga batu bara telah bergerak bullish dengan kenaikan mencapai 22,9%.
Saham-saham emiten batu bara segera tertekan oleh aksi jual pelaku pasar, saham Bumi Resources (BUMI) jatuh ke level terendahnya sejak 15 April 2008 yaitu Rp5.900 dan dalam sepekan saham BUMI terkoreksi sebesar 11,3%. Saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) ikut terkoreksi sebesar 15,6% dalam sepekan dan ditutup di level Rp12.300 di akhir pekan kemarin. Saham ITMG turun 5,16% dalam sepekan ditutup pada posisi Rp29.400.
Saham emiten kelapa sawit (CPO) bergerak turun dipengaruhi terkoreksinya harga CPO di bursa Malaysia sebesar 5,4% dalam sepekan dari level 3,587 Ringgit ke 3,392 Ringgit akhir pekan kemarin. Saham Astra Agro Lestari turun 21,4% dalam sepekan ditutup di level Rp21.300 pada akhir pekan kemarin dan saham London Sumatera turun 18% ditutup di level Rp7.300.
Di sisi lain, harga saham perbankan dan otomotif mencetak gain di akhir pekan. Saham Bank BCA naik 0,94%, saham Bank Mandiri naik 1,89%, saham Bank Danamon naik 4,76%, dan Bank BRI naik 6,54%. Harga minyak yang melemah diharapkan akan meningkatkan daya beli masyarakat dan juga meningkatkan penyaluran kredit perbankan terutama untuk sektor konsumsi. Kenaikan harga saham Bank Danamon dipengaruhi oleh kinerja Bank tersebut selama semester I/2008 yang mencatat kenaikan laba bersih sebesar 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya ke posisi Rp1,16 triliun dari posisi Rp1,02 triliun. Posisi Loan to Deposit Ratio/LDR naik ke level 91,7% dibandingkan dengan semester I/2007 yang sebesar 75,52%. Meningkatnya kinerja Bank Danamon tersebut terjadi di tengah daya beli masyarakat yang melemah oleh kenaikan harga BBM dalam semester I tahun ini. Pelaku bursa mengharapkan emiten bank lainnya juga akan mencatat kinerja yang sama dengan Bank Danamon untuk semester I/2008 ini. Oleh karena itu, pergerakan bursa selama sepekan ke depan akan dipengaruhi oleh laporan keuangan semester I emiten perbankan
Saham Astra Internasional (ASII) bergerak naik 5% di akhir pekan kemarin dan ditutup pada posisi Rp20.900. Penjualan PT Astra Honda Motor selama semester I/2008 tercatat naik 52,2% dan penjualan PT Toyota Astra Motor juga tercatat naik 42%.
Langganan:
Postingan (Atom)