Senin, Desember 15, 2008

Apresiasi rupiah angkat indeks saham

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia bergerak fluktuatif sepanjang pekan lalu yang ditutup menguat 60,63 poin (5,04%) ke level 1.262,97. IHSG menguat mulai Selasa pekan lalu hingga Kamis sebesar 114,35 poin ke level 1.316,69, kemudian melemah pada penutupan Jumat ke posisi 1.262,97.

Level 1.316,69 sekaligus merupakan level tertinggi dalam satu bulan terakhir dan menjadi pemicu aksi ambil untung pelaku pasar. Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi saat ini, pelaku pasar cenderung berorientasi jangka pendek dalam bertransaksi.

Dari internal bursa, penguatan IHSG dipengaruhi oleh apresiasi kurs rupiah terhadap dolar AS yang bergerak menguat ke level Rp10.900/dolar AS pada perdagangan Selasa dan Rabu, atau menguat 7,2% dari akhir pekan sebelumnya.

Selain itu, faktor teknikal seperti pada saham PT Astra Internasional Tbk (ASII) turut menopang indeks pada perdagangan awal pekan kemarin. Saham ASII memberikan signal bullish dengan membentuk bottom triangle pada Selasa yang membuka peluang ASII ke level Rp15.000. Tren koreksi saham ASII selama November kemarin membuka peluang untuk rebound ke level tersebut dengan membentuk pola bottom triangle.

Bursa juga ditopang oleh aksi korporasi emiten. Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang menjajaki pinjaman bedenominasi rupiah 40% dari total capital expenditure 2009 yang sebesar US$2,5miliar.

Pelaku pasar menyambut baik rencana tersebut karena akan mengurangi risiko kerugian kurs dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Saham TLKM naik 15% sejak Jumat (5 Desember) hingga Rabu pekan lalu ke level Rp6.900.

Dari eksternal bursa, harga minyak yang menguat 17,6% ke US$47,98 per barel pada Kamis dibandingkan dengan penutupan akhir pekan sebelumnya, memberikan sentimen positif bagi sektor pertambangan dalam negeri khususnya emiten batu bara.

Rabu, Desember 10, 2008

Ulasan Pasar 9 Desember 2008

Bursa saham bergerak naik tajam sebanyak 63,77 poin (5,3%) ke level 1.266,12. Sebagai salah satu emerging market yang sangat fluktuatif, Bursa Efek Indonesia bergerak menguat menjelang akhir tahun ini oleh ekspektasi window dressing yang akan mendongkrak harga saham di akhir tahun.

Aksi beli juga ditopang oleh sentimen positif penguatan rupiah terhadap dolar AS ke level Rp10.900/US$ atau menguat 8,4% dari posisi akhir pekan kemarin. Saham Bumi Resources (BUMI) naik Rp70 (9,2%) ke posisi Rp 830, Telkom (TLKM) naik Rp 600 (10%) ke posisi Rp 6.600, Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 200 (10,8%) ke posisi Rp 2.050, Astra Internasional (ASII) naik Rp 550 (6%) ke posisi Rp 9.700 dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 300 (8,8%) ke posisi Rp 3.700.

Secara teknis, saham ASII bergerak naik memberikan signal bullish dengan posisi harga selama 29 hari terakhr membentuk bottom triangle yang akan mendorong ASII ke level Rp15.000. Tren koreksi saham ASII selama November kemarin membuka peluang untuk rebound
ke level tersebut dan pada penutupan kemarin berhasil dikonfirmasi dengan kenaikan Rp550 atau 6%.

Telekomunikasi Indonesia menjajaki pinjaman berdenominasi rupiah 40% dari total capital expenditure 2009 yang sebesar US$2,5miliar. Pelaku pasar menyambut baik rencana tersebut karena akan mengurangi risiko kerugian kurs dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Dari sisi eksternal, penguatan bursa juga didorong oleh sentimen positif indeks bursa regional seperti indeks STI Singapura menguat 5,38%, indeks Taiex Taiwan menguat 1,23%, dan indeks Nikkei-225 yang menguat 0,8%.

Harga minyak dunia bergerak naik 7,1% ke level US$43,71 per barel oleh optimisme pelaku pasar dengan palet stimulus yang banyak dikeluarkan negara-negara maju. Harga minyak yang naik dalam sehari kemarin menjadi katalis positif harga saham-saham energi. Saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp200 (11%) ke level Rp2.050.

Selasa, Desember 09, 2008

BI Rate bantu penguatan bursa

Bursa saham bergerak melemah sepanjang pekan kemarin dengan koreksi IHSG sebesar 3,2%. Nilai ini terkoreksi 39,2 poin ditutup ke level 1.202,34 pada Jumat pekan lalu. Nilai transaksi harian rata-rata Rp1 triliun dan pelaku pasar cenderung menarik diri dari bursa serta wait and see terhadap perkembangan kondisi ekonomi global. Posisi ini membuat perdagangan lebih bersifat jangka pendek dan fluktuatif.

Aksi profit taking dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS mewarnai tekanan pada indeks awal pekan. Laju inflasi bulan November yang melambat sebesar 11,68% (y-o-y) dibandingkan Oktober yang sebesar 11,77% (y-o-y) tidak berhasil memberikan sentimen positif bagi indeks oleh karena rupiah masih bergerak melemah 3,1% ke level Rp12.480/US$ pada awal pekan.

Laba bersih Bumi Resources yang menyusut pada triwulan-III 2008 sebesar 39% menjadi $490,147 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu memicu koreksi saham BUMI dan mempengaruhi pergerakan indeks.

Dari eksternal bursa, meningkatnya jumlah pengangguran di AS dan harga minyak yang semakin melemah ke level US$43 per barel merefleksikan resesi global yang juga telah membayangi perekonomian Indonesia.

Ekspor non migas ke AS turun sebesar 33% dan ke China sebesar 37% pada bulan Oktober 2008. Bank Sentral Australia memangkas suku bunganya sebesar 100 bps menjadi 4,25%, yang merupakan nilai terendah dalam 6 tahun terakhir mengkonfirmasi pelambatan ekonomi di negara tersebut

Di tengah tekanan pada bursa, IHSG berhasil ditutup menguat pada penutupan perdagangan Kamis pekan lalu ditopang oleh keputusan Bank Indonesia yang memangkas BI rate sebesar 25 bps ke level 9,25%, yang merupakan pemangkasan pertama sejak Desember 2007. IHSG ditutup menguat 12,80 poin (1,07%) ke level 1.205,32.

Sektor perbankan mencatat penguatan signifikan 3,54% pada Kamis didorong oleh ekspektasi meningkatnya permintaan kredit perbankan dan daya beli masyarakat karena likuiditas yang lebih longgar.

Selasa, Desember 02, 2008

Saham Bumi dan Indosat topang indeks

Bursa saham sepanjang pekan terakhir November 2008, bergerak menguat dengan kenaikan IHSG sebesar 95,27 poin (8,3%) dan ditutup ke level 1.241,54. Faktor penggerak bursa terutama berasal dari aksi korporasi beberapa emiten besar seperti Bumi Resources, Indosat, dan Indofood.

Harga saham Bumi ditutup menguat 9,78% ke level Rp1.010 pada Jumat pekan lalu, menjelang penutupan transaksi penjualan ke Northstar Pacific Partners Ltd yang diakhiri dengan kesepakatan membentuk perusahaan yang dibentuk dengan tujuan khusus (special purpose vehicle/SPV) antara Bakrie & Brothers dan Northstar untuk menempatkan 19,27% saham BUMI yang diambil alih oleh Northstar dari Odickson Finance SA.

Nilai transaksi saham BUMI di bursa mencapai Rp684,7 miliar pada perdagangan Jumat dan selama sepekan terakhir, saham BUMI menguat 42,3% dari posisi awal pekan Rp710.Sementara itu, Qatar Telecom akan melaksanakan penawaran tender untuk saham Indosat di level Rp7.388 per saham. Saham ISAT pada akhir pekan lalu ditutup ke posisi Rp5.100, atau menguat 18,6% dalam sepekan.Indofood berencana menggunakan US$74 juta atau Rp900 miliar untuk melakukan buyback 10% saham yang akan dimulai awal pekan ini. Harga saham perusahaan mi instan itu pada akhir pekan kemarin menguat 4,3% ditutup ke level Rp970 atau menguat 5,4% dalam sepekan.

Penguatan rupiah

Selain aksi korporasi, faktor penguat indeks juga berasal dari penguatan terbatas kurs rupiah terhadap dolar AS sepanjang pekan kemarin 2,3% ke posisi Rp12.360 per dolar AS dari posisi awal pekan Rp12.650/US$.
Dari eksternal bursa, pemangkasan suku bunga bank sentral China sebesar 108 poin ke level 5,58% dan tren bullish pergerakan harga minyak dunia ikut memengaruhi penguatan indeks selama sepekan.

Harga minyak di bursa New York berhasil menguat 10,2% pada Rabu (26/11) ke level US$54,44 per barel dari posisi Kamis pekan sebelumnya (20/11) di level US$49,42 per barel. Pemangkasan suku bunga bank sentral China dan tren bullish harga minyak tersebut memberikan sentimen penguatan pada bursa regional yang ikut berdampak pada penguatan IHSG.Sepanjang pekan lalu, indeks saham Hang Seng naik 11,5%, Nikkei-225 naik 7,6%, dan STI naik 6,9%.

Rabu, Oktober 15, 2008

Ulasan Pasar 14 Oktober 2008

Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Bursa saham kembali melanjutkan rebound di hari perdagangan kedua pekan ini. IHSG ditutup naik 94,04 poin (6,44%) ke level 1.555,97. Kenaikan IHSG masih dipengaruhi oleh faktor teknis dan rencana buyback saham-saham BUMN serta harga komoditas CPO dan minyak dunia. Pergerakan positif indeks regional ikut menopang aksi beli investor kemarin. Indeks Hangseng naik 3,19%, indeks STI Singapura naik 3,65%, indeks KOSPI naik 6,1%, dan indeks Nikkei225 naik 14,15%.

Selain tertopang rencana buyback, saham PTBA dan PGAS mendapat sentimen positif dari pergerakan harga minyak dunia yang mencatat kenaikan 4,5% kemarin ke level $81 per barel. Saham MEDC ikut mencatat kenaikan sebesar Rp250 (9,5%) ke level Rp2.875, Medco Energi Internasional menganggarkan dana sebesar US$100juta untuk buyback saham sebanyak maksimal 10% saham di bursa. Saham PTBA naik Rp550 (9,57%) ke level Rp6.300 dan saham PGAS naik Rp170 (9,77%) ke level Rp1.910.

Harga komoditas CPO yang sempat anjlok ke level terendahnya dalam dua tahun terakhir ke level $449 per ton di akhir pekan lalu akibat koreksi harga minyak dunia yang menyentuh level $77 per barel, kemarin bergerak naik ke level $529 per ton memberikan sentimen positif bagi saham Astra Agro Lestari (AALI) dan London Sumatera (LSIP). Saham AALI naik Rp850 (9,8%) ke level Rp9.550 dan saham LSIP naik Rp225 (9,7%) ke level Rp2.550.

Saham ANTM naik Rp110 (9,57%) ke level Rp1.260, selain oleh rencana buyback, pergerakan harga saham ANTM dipengaruhi oleh penandatanganan tiga kontrak karya tambang batu bara oleh pemerintah, yang salah satunya dimiliki oleh konsorsium Aneka Tambang dengan BHP Biliton di kepulauan Halmahera.

Saham Bank Mandiri bergerak naik sebesar Rp175 (8,05%) ke level Rp2.350 setlah muncul informasi, Bank Mandiri mendapatkan pinjaman sebesar US$1 miliar dari sejumlah bank asing untuk mendukung ekspansi kredit perseroan dalam denominasi dolar AS.

Dari sektor telekomunikasi, saham TLKM naik Rp650 (9,85%) ke level Rp7.250, dan saham ISAT naik Rp425 (9,82%) ke level Rp4.750. Nilai rupiah yang cenderung menguat terhadap dolar AS dalam dua hari terakhir ke level Rp9.700 mengurangi kekhawatiran meningkatnya biaya hutang Telekomunikasi Indonesia yang berdenominasi dolar AS. Kepastian izin Qatar Telecom untuk menggelar tender offer hingga kepemilikan saham ISAT menjadi 65% masih menjadi penopang rebound saham ISAT pada perdagangan kemarin.

Selasa, Oktober 14, 2008

Ulasan Pasar 13 Oktober 2008

Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Indeks harga saham gabungan pada awal pekan ini berhasil ditutup menguat tipis sebesar 10,20 poin (0,7%) ke level 1.461,9 meskipun pada sesi I perdagangan sempat anjlok 49,77 poin (-3,43%) ke level 1.401,9 oleh aksi jual investor yang tertahan pada sesi I rabu pekan lalu.

Faktor sentimen ke bursa menjadi topangan pelaku pasar dalam mendongkrak IHSG di sesi II perdagangan kemarin. Pelaku pasar mulai percaya diri untuk melakukan pembelian meskipun dengan kondisi selective buying terhadap saham-saham blue chips terutama saham-saham BUMN. Selain disebabkan faktor teknis harga yang telah oversold, rencana buyback saham-saham BUMN dengan penyediaan dana total dari emiten-emiten BUMN sebesar Rp6 triliun berhasil mendongkrak harga saham Aneka Tambang (ANTM) sebesar Rp100 menjadi Rp1.150, saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) sebesar Rp150 menjadi Rp1.740, saham PT Tambang batu bara bukit asam (PTBA) sebesar Rp500 menjadi Rp5.750 dan saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) sebesar Rp150 menjadi Rp6.600, dan saham Semen Gresik (SMGR) sebesar Rp180 menjadi Rp2.030.

Kepercayaan pelaku pasar bertambah setelah muncul kepastian Qatar Telecom untuk menggelar tender offer saham Indosat (ISAT) untuk menaikkan kepemilikannya terhadap perusahaan telekomunikasi tersebut menjadi 65%. Saham ISAT kemarin ditutup menguat Rp375 menjadi Rp4.325.

Aturan baru bursa efek Indonesia mengenai auto rejection terhadap fluktuasi harga saham dari 30% menjadi 10% membuat investor merasa lebih aman dalam bertransaksi di bursa. Selain itu, kondisi nyaman investor ditambah dengan keputusan pemerintah yang menaikkan jaminan dana bank hingga Rp2 miliar dari semula Rp100 juta yang akan mengurangi aksi spekulasi di bursa saham.

Pelaku pasar juga mengikuti pergerakan rebound indeks saham regional Asia pasifik seperti Hang Seng yang naik 10,24%, KOSPI naik 3,62%, STI Singapura naik 7,18%, dan Shanghai naik 3,65%.

Namun, IHSG juga mendapat tekanan dari saham-saham perbankan seperti saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang turun Rp50 menjadi Rp4.225 dan saham Bank Mandiri (BMRI) yang turun Rp125 menjadi Rp2.175. Kenaikan BI rate menjadi 9,5% pekan lalu dan nilai rupiah yang masih melemah di Rp9.800/US$ atau di atas level aman Bank Indonesia Rp9.500/US$ berpotensi masih menguatkan laju inflasi karena naiknya biaya impor (imported inflation) dan menyulitkan perbankan untuk meningkatkan pendapatan bunga bersih dari penyaluran kredit, di samping harus menghadapi risiko naiknya NPL. Permintaan kredit konsumsi masyarakat diprediksi akan menurun seiring biaya kredit yang meningkat.

Senin, Oktober 13, 2008

Mau kemana ekonomi kita?


Kasus bangkrutnya Lehman Brothers, salah satu institusi keuangan terbesar AS, menjadi pemicu melemahnya bursa regional Asia Pasifik termasuk bursa saham Indonesia yang dikategorikan sebagai salah satu emerging market. Ketika muncul berita Lehman Brothers mengalami bangkrut dan mengajukan kepailitan, terjadi semacam shock condition pada investor asing maupun investor lokal di bursa efek Indonesia.


Investor asing melakukan aksi jual saham di bursa kita untuk menutup kerugian mereka dari merosotnya imbal hasil di bursa New York dan juga bursa negara maju lainnya seperti bursa Tokyo. Hasilnya, selama sepekan terakhir awal Oktober ini, bursa efek Indonesia ditutup terkoreksi tajam sebesar 10,03% atau 183,76 poin dari penutupan sepekan sebelumnya (29/9) ke level 1.648,74. Investor asing mencatat penjualan bersih sebesar Rp117 miliar sebagai kompensasi menutup kerugian mereka di bursa global selama sepekan terakhir akibat sentimen negatif krisis keuangan AS. Dampak dari aksi jual investor asing tersebut, nilai rupiah terhadap dolar AS terus melemah ke level Rp9.599/US$ pada awal Oktober lalu, posisi terendah sejak Agustus 2007.


Sejak awal September 2008 hingga awal Oktober 2008, IHSG telah terkoreksi sebanyak 515,88 poin (-23,83%) dari level 2.164,62 ke level 1.648,74 dan nilai rupiah terhadap dolar AS ikut melemah sebesar 4,78% dari posisi Rp9.161,00/US$. Aksi investor asing melepas portofolionya ikut melemahkan rupiah terhadap dolar AS. Nilai rupiah terhadap dolar AS yang melemah sangat tidak menguntungkan bagi kegiatan impor kita karena akan membuat harga barang impor menjadi lebih mahal dan akan membuat daya beli masyarakat dalam negeri ikut melemah.


Dampak dari lemahnya likuiditas pada sektor keuangan AS sudah pasti akan dirasakan oleh kegiatan ekspor Indonesia ke AS dalam jangka panjang. Melemahnya likuiditas di sektor keuangan akan membuat masyarakat AS kesulitan mendapatkan kredit konsumsi selain menghadapi pengurangan gaji atau bahkan pemutusan hubungan kerja akibat melambatnya kegiatan ekonomi yang pada akhirnya menjadikan mereka kehilangan daya beli. Berdasarkan proyeksi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, krisis finansial AS berpotensi menekan ekspor Indonesia ke negara tersebut hingga 20% pada triwulan IV-2008.


Dalam jangka pendek, ekspor Indonesia ke AS memang tidak secara langsung terasa dampaknya akibat krisis keuangan di negara adidaya tersebut. Namun, untuk jangka panjang hingga tahun 2009 akan mulai terasa dampaknya karena akan diikuti oleh melemahnya nilai ekspor ke negara lainnya seperti China, India, dan Jepang seiring pelemahan nilai ekspor mereka ke AS. Akumulasi pelemahan ekspor dalam jangka panjang inilah yang mesti diwaspadai oleh Indonesia.


Bila kita mendasarkan data pada Departemen Perdagangan, tujuan pasar ekspor Indonesia saat ini memang semakin terdiversifikasi, peran AS dan Eropa semakin menurun sehingga dampak langsung dari krisis finansial di Amerika Serikat tersebut belum akan dirasakan hingga akhir 2008. Pangsa ekspor ke Eropa cenderung menurun dari 17,1% pada 2003 menjadi 13,9% pada pertengahan 2008 dan ke AS dari 14,7% menjadi 11,6%.


Kondisi yang perlu diwaspadai adalah jika krisis ini berkelanjutan maka ekspor Indonesia akan terpengaruh, maka dari itu diversifikasi pasar yang telah berlangsung mesti terus digalakkan guna mengantisipasi resesi di AS dan Eropa serta kemungkinan terjadinya penurunan pertumbuhan negara-negara Asia karena resesi di negara-negara maju.
Produk ekspor utama Indonesia ke Amerika Serikat seperti produk tekstil, karet, udang, kopi, kakao dan sepatu diperkirakan masih dapat tumbuh walaupun ada beberapa produk yang mengalami penurunan seperti halnya produk kayu olahan dan furnitur. Hal ini berkaitan dengan menurunnya pembangunan perumahan di AS.


Dengan kecenderungan melemahnya harga komoditi utama ekspor Indonesia di pasar internasional seperti saat ini dan melemahnya permintaan dunia, dalam semester kedua tahun 2008 ekspor Indonesia akan menghadapi tantangan yang cukup berat yang pada dasarnya sudah diperhitungkan sejak awal tahun sehingga target ekspor nonmigas tahun 2008 sebesar 12,5 persen yang sesuai dengan proyeksi pertumbuhan pemerintah sebesar 6,3%, masih akan tercapai.


Sebelum guncangan krisis keuangan AS kali ini, perlambatan pertumbuhan ekonomi AS karena kisruh di sektor properti tahun 2007 akibat krisis subprime mortgage atau gagal bayar kredit perumahan yang bernilai rendah, juga telah menekan ekspor Indonesia ke AS. Pada tahun 2007, ekspor Indonesia ke AS hanya tumbuh 5%, jauh lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan ekspor sepanjang 2002 hingga 2006 yang mencapai 12% per tahun.


Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia tidak bisa terus-menerus tergantung oleh perekonomian AS dan perlu meningkatkan diversifikasi pasar ekspor bagi produk Indonesia. Bila dipertahankan, maka yang terjadi adalah pembeli di AS pasti akan meminta negosiasi harga. Ketergantungan Indonesia terhadap perekonomian negara maju seperti AS yang menganut sistem pasar bebas justru membuat Indonesia sulit untuk membangun secara mandiri.


Aksi jual saham besar-besaran yang memperlemah nilai rupiah terhadap dolar AS serta potensi melemahnya nilai ekspor mestinya dapat diantisipasi bila produsen kita tidak tergantung oleh pasar AS dan kita dapat mengandalkan pasar lain sebagai tujuan ekspor.


Dampak dari pelemahan nilai ekspor tentunya akan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia seperti berkurangnya kegiatan produksi dalam negeri yang berujung pada pemutusan hubungan kerja dan permasalahan sosial serta terhambatnya pertumbuhan ekonomi akibat turunnya pendapatan masyarakat. Bila kondisi tersebut terjadi, akan semakin sulit bagi Indonesia untuk meningkatkan statusnya dari saat ini sebagai negara berkembang. Seperti yang dijelaskan oleh Dos Santos dalam teori Struktur Ketergantungan yang menyebutkan kegiatan perdagangan negara berkembang yang terpusat pada negara maju akan membuat suatu hubungan yang tidak sederajat. Hal ini disebabkan karena negara maju sebagai pembeli tunggal akan berupaya mengatur harga yang akan merugikan negara berkembang.


Selain itu, banyaknya kegiatan ekspor negara berkembang yang berbentuk komoditas primer, seperti tekstil, memaksa Indonesia untuk fokus pada komoditas tersebut karena jaringan pemasaran yang telah terbentuk sebelumnya, sudah dikuasai oleh negara maju dalam hal ini AS. Indonesia bahkan akan semakin tidak mempunyai pilihan lain dalam orientasi produk ekspornya selain komoditas primer karena hanya di bidang itulah ekspor Indonesia mempunyai porsi yang besar untuk meningkatkan devisa dalam negeri yang akan digunakan untuk kepentingan pembangunan ekonomi dalam negeri. Berdasarkan data Kadin, pasar AS merupakan tujuan ekspor terbesar bagi produk tekstil Indonesia karena sebesar 43% dari total ekspor tekstil diserap pasar AS pada tahun 2007.


Akibat dari hubungan yang tidak sederajat dalam hal pengaturan harga dan juga penguasaan jaringan pemasaran produk primer ini, Indonesia juga akan selalu mengalami defisit dalam neraca pembayarannya karena di sisi lain, AS yang menguasai harga produk industri akan meningkatkan harga jual produknya melalui pengenaan biaya royalti untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat dari Indonesia. Posisi tersebut pada akhirnya akan membuat Indonesia semakin tergantung pada AS atau negara maju lainnya dalam hal pembiayaan defisit APBN.


Meskipun bila kita merunut pendapat Rostow dalam teori tahapan pertumbuhannya, bahwa bantuan pembiayaan defisit APBN adalah sebagai langkah yang diperlukan untuk mempercepat pencapaian negara berkembang menuju ke tahapan tinggal landas dan untuk proses percepatan itu diperlukan kerjasama dengan negara maju dalam bentuk penyediaan dana dengan pembangunan prasarana dan infrastruktur menjadi perhatian utama bantuan tersebut di dalam neraca APBN. Namun di sisi lain, negara maju seperti AS akan menuntut lebih banyak dalam hal lalu lintas masuk produk-produknya ke Indonesia untuk kepentingan pasar mereka. Hal inilah yang menjadi permasalahan negara berkembang seperti Indonesia yang terlalu berorientasi ekspor kepada negara maju dengan produk utama adalah komoditas primer, tetapi membutuhkan produk industri yang berharga jauh lebih tinggi dari nilai ekspor produk primer yang berujung pada defisit APBN dan makin besarnya bantuan dana dari negara maju yang meminta kelonggaran bagi produk-produk industrinya untuk masuk secara bebas mencari pasar dalam negeri serta menekan industri produk nasional.


Menghadapi krisis keuangan di AS, pertumbuhan industri dalam negeri dipastikan akan makin melemah karena ditambah beban beralihnya produk-produk negara lain seperti China dan India yang mencari pasar selain AS. Produk-produk tersebut tentu mencari pasar yang mudah dimasuki dan Indonesia merupakan salah satu pasar tersebut. Kondisi ini tentu akan semakin memberatkan persaingan dan pertumbuhan industri produk dalam negeri yang berpotensi akan melemahkan sektor riil dan kegiatan ekonomi yang berpusat pada rakyat. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi Indonesia untuk meninjau kembali sistem ekonominya yang cenderung berorientasi pada pasar bebas dan mengabaikan potensi pasar dalam negeri dan kemampuan ekonomi kerakyatan. Kebijakan perdagangan yang lebih liberal telah membuat produk dalam negeri terpuruk karena membanjirnya produk impor, sehingga perlu keberpihakan pemerintah untuk kepentingan nasional dalam perdagangan bebas.


Negara-negara maju menempatkan nasionalisme di atas kepentingan perdagangan bebas. Indonesia juga harus mampu meletakkan nasionalisme pada era sekarang dengan memberikan kemudahan, insentif, dan subsidi bagi perkembangan dan perlindungan produk nasional. Negara maju memiliki strategi untuk melindungi produk, misalnya dengan memberikan subsidi, hambatan tarif dan trik perlindungan atas nama hak asasi manusia, sedangkan Indonesia justru terlalu bebas yang berujung barang-barang dari luar masuk dengan leluasa. Contoh terbaru adalah produk batik dan tekstil asal China yang membanjiri pasar Indonesia dengan harga lebih murah dan pemerintah terkesan membiarkannya dengan alasan perdagangan bebas. Pemerintah baru sebatas memberikan program-program di atas kertas, misalnya "Cintai Produk Dalam Negeri" yang dicetuskan pada 2006, tetapi sampai saat ini slogan itu belum berjalan.


Pembangunan yang berorientasi kerakyatan dan kebijaksanaan pemerintah yang berpijak pada kepentingan rakyat tidak berarti akan menghambat upaya mempertahankan atau bahkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan yang berasal dari produktivitas rakyat dan dana yang dihimpun dari tabungan rakyat akan membuat rakyat menjadi lebih mandiri dan akan lebih kuat rasa nasionalismenya termasuk dalam penggunaan produk-produk industri dalam negeri, sehingga akan memperkokoh posisi Indonesia dalam era perdagangan bebas seperti sekarang ini.

Daya tahan dan daya saing nasional mutlak diperlukan untuk memperkuat perekonomian nasional dalam menghadapi ancaman dan krisis dari luar negeri seperti krisis keuangan di AS saat ini. Daya saing juga diperlukan dalam menghadapi gempuran produk luar negeri yang difasilitasi dengan pengurangan bea masuk.
Pembenahan dan penekanan biaya infrastruktur, biaya energi listrik, sistem logistik kepelabuhan dan kepabeanan termasuk penurunan biaya THC (Terminal Handling Cost) sangat diperlukan untuk memperlancar lalu lintas barang. Selain itu, debirokratisasi, penajaman insentif fiskal dan non fiskal kepada industri berorientasi ekspor serta diversifikasi pasar ekspor mutlak dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan daya saing ekspor dan pangsa pasar agar tidak terlalu tergantung kepada AS atau negara maju lainnya seperti China, India dan juga Jepang. Pengamanan pasar domestik melalui tindakan antisipasi Bea dan Cukai terhadap pengalihan barang-barang impor dari negara-negara lain perlu segera diterapkan agar industri dalam negeri terlindungi dan mampu meningkatkan pangsa pasarnya di dalam negeri.


Indonesia juga mengharapkan peran serta masyarakat untuk menopang kekuatan diri dengan meningkatkan kontribusi di sektor riil. Untuk itu, perbankan syariah yang memang berdiri untuk mengembangkan sektor riil diharapkan untuk semakin mempermudah akses masyarakat yang membutuhkan modal bagi pengembangan usahanya. Selain modal usaha, inovasi produk, dan strategi promosi juga ikut mempunyai andil dalam bersaing dengan produk luar negeri yang beralih masuk ke Indonesia. Kenapa saya mengatakan bank syariah? seperti yang anda lihat semua, di tengah krisis semacam ini Bank Indonesia justru kembali menaikkan suku bunga BI rate menjadi 9,5% atau naik 25bps yang diprediksi akan dapat meredam gejolak kenaikan harga (imported infaltion) dengan meningkatkan aliran dana masuk ke Indonesia dan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun, kondisi yang terjadi justru sebaliknya, kenaikan BI rate menambah kepanikan pelaku pasar karena berpotensi memperberat dunia usaha dalam mendapatkan kredit perbankan dan menurunkan daya saing industri akibat naiknya biaya dana. Selain itu, kenaikan BI rate pasti akan diikuti oleh kenaikan suku bunga kredit yang memperberat biaya kredit konsumsi masyarakat dan berujung melemahnya penjualan di beberapa sektor, seperti konsumsi, industri dasar, dan aneka industri terutama otomotif dan ancaman kredit macet yang membayangi sektor perbankan, sehingga mendorong investor melepaskan asetnya di bursa. Selama sepekan kemarin, sektor konsumsi terkoreksi 10,85% ke level 339,97, industri dasar terkoreksi 21,67% ke level 127,63, aneka industri terkoreksi 20,8% ke level 258,29, dan sektor keuangan perbankan terkoreksi 12,66% ke level 177,62. bagaimana dengan rupiah? terus melemah ke level Rp9.800, bahkan sempat menyentuh Rp10.800 di pasar spot Hongkong pada jumat (10/10), karena investor asing makin tidak percaya dengan kondisi sektor riil dalam negeri, naiknya ancaman daya beli yang makin melemah yang berujung pada naiknya permintaan dolar AS agar nilai aset mereka tidak semakin tergerus. Investor lokal pun tidak kalah panik, mereka berusaha menutup kerugian akibat koreksi di bursa saham dengan membeli dolar AS, dan juga untuk mengamankan ketersediaan dolar AS untuk kepentingan impor.


Kita semua tentu diharapkan untuk selalu optimis, bahwa di setiap kejadian pasti akan membawa hikmah. Pengumpulan harta yang berlebihan dan tidak terkendali oleh institusi keuangan AS justru membawa dampak negatif tidak saja untuk negera tersebut, namun juga untuk negara-negara lainnya di dunia yang merupakan pasar bagi produk AS selama ini. Prinsip transaksi perdagangan yang berkeadilan harus lebih disadari dan diterapkan oleh pelaku pasar dan meninggalkan pola zero submit yang selama ini mewarnai perdagangan terutama di sektor pasar modal yang berujung terkurasnya dana investor lokal ke pelaku pasar luar negeri. Sungguh, kejadian ini sangat di luar dugaan kita semua. Pola ekonomi pasar yang tercipta dan digadaikan oleh AS selama ini ke negara-negara berkembang justru menghantam ekonomi negara adidaya tersebut, tanpa ampun. Kesombongan pelaku pasar untuk mengharamkan adanya campur tangan pemerintah pada akhirnya mesti runtuh oleh kerakusannya sendiri. Bagaimanapun juga, pada akhirnya pemerintahlah yang menangung segala hutang-hutang tersebut yang dibebankan dari pajak rakyat AS sendiri. Suatu harga yang mesti dibayar mahal oleh publik AS. Dan untuk Indonesia, mau kemana ekonomi kita selanjutnya?

Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit