Ulasan Pasar Sepekan edisi 30 November 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Dalam sepekan kemarin, indeks BISNIS-27 akhirnya bergerak melemah dipengaruhi faktor profit taking menjelang libur panjang akhir pekan perayaan Idul Adha. Namun, sejak awal November, indeks telah tumbuh positif berturut-turut dalam tiga pekan pertama. Indeks BISNIS-27 ditutup di level 221,55 pada Kamis kemarin atau melemah 3,3% dalam pekan keempat November.
Bila dicermati lebih lanjut, secara teknis harga saham konstituen BISNIS-27 masih tergolong cukup murah atau berada dalam posisi beli, yang dapat dilihat dari posisi indeks RSI (Relative Strenght Index) untuk indeks BISNIS-27 yang stabil di posisi 57 sepanjang pekan kemarin sebelum akhirnya berada di posisi 44 di penutupan Kamis karena koreksi yang cukup signifikan pada hari itu sebesar 2,75%.
Secara fundamental, kinerja konstituen BISNIS-27 hingga September 2009 berhasil membukukan kinerja yang jauh lebih baik daripada setahun sebelumnya dan sekaligus mencerminkan kekuatan masing-masing konstituen BISNIS-27 dalam mengatur strategi bertahan dan tumbuh dalam krisis likuiditas yang dimulai triwulan IV-2008 lalu.
Dari sisi pergerakan rupiah terhadap dolar AS, selama sepekan kemarin pergerakan rupiah cenderung menguat dengan kembali berada di level Rp9.400 per US$ dari posisi pekan sebelumnya yang justru melemah ke level Rp9.500 per US$. Sentimen apresiasi rupiah terhadap dolar AS sudah jelas akan meningkat kinerja emiten di 2009 ini terutama dengan berkurangnya rugi selisih kurs. Meskipun akan memberatkan emiten yang berorientasi ekspor terutama bagi emiten batu bara seperti Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan juga International Nickel Indonesia Tbk (INCO), tetapi saham-saham tersebut mayoritas dibeli bukan untuk jangka pendek melainkan jangka panjang dan tren harga batu bara maupun nikel akan bergerak berbanding lurus dengan pergerakan harga minyak dunia yang saat ini di level US$77 per barel.
Faktor positif yang mendongkrak kinerja indeks dalam tiga pekan pertama November ini, terutama memang berasal dari sentimen pergerakan harga emas dunia yang pada Kamis kemarin mencapai level US$1.190 per ounce. Kenaikan harga emas memang menjadi indikator membaiknya perkonomian global di 2010 dan posisi Amerika Serikat (AS) yang masih dalam tahap konsolidasi sistem likuiditas dengan tetap memilih kebijakan suku bunga rendah, mendorong aliran dolar AS keluar dari negara tersebut. Melemahnya nilai asset dolar AS memicu investor melakukan hedging pada komoditas emas, tetapi menghindari hedging di komoditas minyak karena dikhawatirkan akan memicu inflasi atau menekan daya beli negara emerging market yang saat ini menjadi tumpuan membaiknya ekonomi dunia.
Namun, tren bullish harga emas dan pelemahan dolar AS terhadap rupiah tentu akan memiliki masa konsolidasi dan harus menemukan titik keseimbangan sementara waktu menjelang tutup tahun. Faktor inilah yang menjadi penyebab terkoreksinya saham-saham BISNIS-27 yang dipicu oleh aksi jual investor asing selama sepekan kemarin. Investor asing membukukan penjualan sebesar Rp4,7 triliun selama sepekan terakhir dengan pembelian sebesar Rp4,56 triliun.
Data tersebut juga menunjukkan masih tingginya ekspektasi investor asing terhadap bursa saham Indonesia dan koreksi pekan kemarin dapat dikatakan memang murni karena faktor konsolidasi harga saham BISNIS-27 untuk kembali bergerak bullish menjelang akhir tahun ini. Posisi indeks RSI untuk BISNIS-27 yang tertekan ke level 44 oleh koreksi pada Kamis pekan kemarin, menambah peluang BISNIS-27 untuk bergerak melanjutkan tren bullish.
Senin, November 30, 2009
Kamis, November 26, 2009
Ulasan Pasar edisi 26 November 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Koreksi saham-saham sektor konsumsi menjadi penekan indeks BISNIS-27 pada perdagangan Rabu kemarin. Indeks BISNIS-27 ditutup melemah 0,29% di level 227,82. Namun, secara umum pergerakan indeks masih berada di dalam teritori positif mengingat harga saham dari sektor komoditas dan energi masih cukup murah atau berada dalam posisi beli yang ditopang juga dengan ekspektasi kinerja emiten yang membaik di 2009 ini.
Saham komoditas batu bara seperti Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Tambang Batu bara Bukit Asam Tbk (PTBA) masih membukukan gain pada perdagangan kemarin, begitu juga dengan saham Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan saham infrastruktur seperti Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), Indosat Tbk (ISAT), dan Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) juga masih bergerak positif.
Selain itu, saham perbankan seperti Bank Danamon Tbk (BDMN) dan Bank CIMB-Niaga Tbk (BNGA) juga bergerak positif mengindikasikan optimisme pasar terhadap pertumbuhan kinerja perbankan yang positif di akhir tahun.
Koreksi indeks sejak awal pekan memang mendorong investor untuk sementara waktu menepi dari bursa dan merealisasikan gain atas saham konsumsi dan juga otomotif, Astra Internasional Tbk (ASII). Saham ASII turun 1,35% di level Rp32.900 per saham. Saham ASII, saham Semen Gresik Tbk (SMGR), Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP), dan saham Unilever Tbk (UNVR) terkoreksi untuk melewati masa konsolidasi setelah tren bullish sepekan terakhir.
Harga minyak dunia yang melemah ke level US$75 per barel akan menjadi sentimen positif bagi saham-saham yang sensitif dengan daya beli tersebut, sehingga usai libur panjang Idul Adha di akhir pekan ini akan kembali bergerak naik. Harga minyak dunia yang melemah akan menjaga laju inflasi tetap terjaga di level 3,5% hingga akhir tahun serta ditopang oleh rupiah yang stabil di level Rp9.400 per US$.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Koreksi saham-saham sektor konsumsi menjadi penekan indeks BISNIS-27 pada perdagangan Rabu kemarin. Indeks BISNIS-27 ditutup melemah 0,29% di level 227,82. Namun, secara umum pergerakan indeks masih berada di dalam teritori positif mengingat harga saham dari sektor komoditas dan energi masih cukup murah atau berada dalam posisi beli yang ditopang juga dengan ekspektasi kinerja emiten yang membaik di 2009 ini.
Saham komoditas batu bara seperti Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Tambang Batu bara Bukit Asam Tbk (PTBA) masih membukukan gain pada perdagangan kemarin, begitu juga dengan saham Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan saham infrastruktur seperti Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), Indosat Tbk (ISAT), dan Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) juga masih bergerak positif.
Selain itu, saham perbankan seperti Bank Danamon Tbk (BDMN) dan Bank CIMB-Niaga Tbk (BNGA) juga bergerak positif mengindikasikan optimisme pasar terhadap pertumbuhan kinerja perbankan yang positif di akhir tahun.
Koreksi indeks sejak awal pekan memang mendorong investor untuk sementara waktu menepi dari bursa dan merealisasikan gain atas saham konsumsi dan juga otomotif, Astra Internasional Tbk (ASII). Saham ASII turun 1,35% di level Rp32.900 per saham. Saham ASII, saham Semen Gresik Tbk (SMGR), Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP), dan saham Unilever Tbk (UNVR) terkoreksi untuk melewati masa konsolidasi setelah tren bullish sepekan terakhir.
Harga minyak dunia yang melemah ke level US$75 per barel akan menjadi sentimen positif bagi saham-saham yang sensitif dengan daya beli tersebut, sehingga usai libur panjang Idul Adha di akhir pekan ini akan kembali bergerak naik. Harga minyak dunia yang melemah akan menjaga laju inflasi tetap terjaga di level 3,5% hingga akhir tahun serta ditopang oleh rupiah yang stabil di level Rp9.400 per US$.
Ulasan Pasar edisi 25 November 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Di perdagangan hari kedua pekan ini, indeks kembali bergerak melemah dan kali ini mendapat tekanan hampir dari seluruh sektor. Indeks BISNIS-27 ditutup di level 228,49 atau melemah tipis 0,11% dari posisi penutupan awal pekan.
Faktor penguatan rupiah yang terhenti di level Rp9.500/US$ akibat kasus Bank Century, kisruh KPK dan Polri yang tidak menentu memberikan kekhawatiran terhadap kondisi sosial politik dalam negeri. Investor memilih untuk menarik diri sejenak dan merealisasikan gain dari pertumbuhan tiga pekan terakhir yang ditopang oleh sentimen positif kenaikan harga komoditas terutama emas yang telah melewati level US$1.170 per ounce.
Namun, investor masih melakukan aksi beli selektif terhadap saham-saham komoditas seperti pada Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan kenaikan masing-masing sebesar 2,86% dan 2,03%. Saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 1,26% dan Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) naik 1,29%.
Dalam kondisi sosial politik yang tidak menentu dan rupiah yang mulai menemukan level keseimbangan di posisi Rp9.500/US$, mendorong investor untuk memilih saham yang ditopang oleh belanja pemerintah dan kebutuhan energi dalam negeri. Kebutuhan semen dipastikan akan meningkat seiring kebijakan prioritas pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur dan mengurangi biaya transaksi ekonomi dan investasi. Rencana dan kebutuhan pembangunan pembangkit listrik juga akan meningkatkan kebutuhan batu bara dalam negeri, dan hal tersebut menjadi sentimen positif bagi BUMN batu bara yaitu PTBA.
Sedangkan faktor harga yang masih tergolong murah, menjadi pemicu minat beli investor terhadap saham ITMG. Saham ITMG memiliki nilai PER (Price to Earning Ratio) sebesar 8,94 kali atau terendah di dalam industrinya pada penutupan Senin kemarin.
Indeks juga mendapat tekanan dari koreksi indeks regional seperti Hang Seng, STI Singapura, dan Nikkei-225. Indeks Hang Seng turun 1,53%, indeks STI Singapura turun 0,64%, dan indeks Nikkei-225 turun 1,01%.
Untuk sementara, indeks membutuhkan masa konsolidasi setelah membukukan pertumbuhan sebesar 5,38% hanya dalam waktu tiga pekan terakhir. Indeks tetap berada di dalam tren bullish yang terutama ditopang oleh saham-saham pertambangan dan komoditas pertanian. Saham-saham perbankan akan mengalami sedikit tekanan dari sentimen negatif kasus Bank Century yang mencerminkan buruknya Good Corporate Governance di bank tersebut, dan investor mengkhawatirkan tata kelola industri perbankan secara umum.
Laju inflasi November yang tetap rendah dan laju inflasi hingga akhir tahun yang diperkirakan oleh Bank Indonesia maksimal hanya sebesar 3,5%, belum dapat memberikan sentimen naiknya saham-saham perbankan. Pasar akan lebih mencermati pergerakan harga komoditas dunia terutama emas yang tentunya akan mengimbas positif harga saham Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Namun, tekanan tersebut diperkirakan hanya bertahan hingga akhir pekan ini dan memasuki awal Desember pasar akan mencermati aksi korporasi emiten untuk mendongkrak kinerjanya (window dressing) di akhir tahun.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Di perdagangan hari kedua pekan ini, indeks kembali bergerak melemah dan kali ini mendapat tekanan hampir dari seluruh sektor. Indeks BISNIS-27 ditutup di level 228,49 atau melemah tipis 0,11% dari posisi penutupan awal pekan.
Faktor penguatan rupiah yang terhenti di level Rp9.500/US$ akibat kasus Bank Century, kisruh KPK dan Polri yang tidak menentu memberikan kekhawatiran terhadap kondisi sosial politik dalam negeri. Investor memilih untuk menarik diri sejenak dan merealisasikan gain dari pertumbuhan tiga pekan terakhir yang ditopang oleh sentimen positif kenaikan harga komoditas terutama emas yang telah melewati level US$1.170 per ounce.
Namun, investor masih melakukan aksi beli selektif terhadap saham-saham komoditas seperti pada Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan kenaikan masing-masing sebesar 2,86% dan 2,03%. Saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 1,26% dan Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) naik 1,29%.
Dalam kondisi sosial politik yang tidak menentu dan rupiah yang mulai menemukan level keseimbangan di posisi Rp9.500/US$, mendorong investor untuk memilih saham yang ditopang oleh belanja pemerintah dan kebutuhan energi dalam negeri. Kebutuhan semen dipastikan akan meningkat seiring kebijakan prioritas pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur dan mengurangi biaya transaksi ekonomi dan investasi. Rencana dan kebutuhan pembangunan pembangkit listrik juga akan meningkatkan kebutuhan batu bara dalam negeri, dan hal tersebut menjadi sentimen positif bagi BUMN batu bara yaitu PTBA.
Sedangkan faktor harga yang masih tergolong murah, menjadi pemicu minat beli investor terhadap saham ITMG. Saham ITMG memiliki nilai PER (Price to Earning Ratio) sebesar 8,94 kali atau terendah di dalam industrinya pada penutupan Senin kemarin.
Indeks juga mendapat tekanan dari koreksi indeks regional seperti Hang Seng, STI Singapura, dan Nikkei-225. Indeks Hang Seng turun 1,53%, indeks STI Singapura turun 0,64%, dan indeks Nikkei-225 turun 1,01%.
Untuk sementara, indeks membutuhkan masa konsolidasi setelah membukukan pertumbuhan sebesar 5,38% hanya dalam waktu tiga pekan terakhir. Indeks tetap berada di dalam tren bullish yang terutama ditopang oleh saham-saham pertambangan dan komoditas pertanian. Saham-saham perbankan akan mengalami sedikit tekanan dari sentimen negatif kasus Bank Century yang mencerminkan buruknya Good Corporate Governance di bank tersebut, dan investor mengkhawatirkan tata kelola industri perbankan secara umum.
Laju inflasi November yang tetap rendah dan laju inflasi hingga akhir tahun yang diperkirakan oleh Bank Indonesia maksimal hanya sebesar 3,5%, belum dapat memberikan sentimen naiknya saham-saham perbankan. Pasar akan lebih mencermati pergerakan harga komoditas dunia terutama emas yang tentunya akan mengimbas positif harga saham Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Namun, tekanan tersebut diperkirakan hanya bertahan hingga akhir pekan ini dan memasuki awal Desember pasar akan mencermati aksi korporasi emiten untuk mendongkrak kinerjanya (window dressing) di akhir tahun.
Selasa, November 24, 2009
Ulasan Pasar edisi 24 November 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Koreksi saham-saham perbankan menjadi pemicu turunnya indeks BISNIS-27 pada perdagangan awal pekan ini. Indeks bergerak turun ke level 228,75 melemah tipis sebesar 0,16% dari posisi penutupan akhir pekan kemarin.
Saham-saham perbankan seperti Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bergerak melemah diikuti juga oleh saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). saham TLKM turun tipis 0,56% dan PGAS turun 1,94%. Saham BMRI turun 0,53%, saham BBCA turun 1,06%, dan saham BBRI turun 0,65%.
Melonjaknya harga emas yang menyambung tren bullish dalam tiga pekan terakhir memicu investor untuk memburu saham-saham komoditas dan energi, sebagai pengaruh dari ekspektasi naiknya harga komoditas mengantisipasi sentimen perbaikan ekonomi global. Harga emas dunia kembali mencetak sejarah dan mencapai US$1.165 per ounce.
Sentimen tersebut memicu peralihan dana investor dari saham-saham perbankan ke komoditas. Di sisi lain, rata-rata PER (Price to Earning Ratio) industri saham perbankan memang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri saham komoditas.
Minimnya sentimen positif untuk saham perbankan dan infrastruktur menjadi faktor pemicu koreksi di dua sektor tersebut. Berbeda dengan saham komoditas yang mendapat sentimen positif dari luar negeri, seperti tren bullish harga emas yang berlanjut.
Rencana pembagian dividen interim Adaro Energy Tbk (ADRO) sebesar Rp12 per saham dari laba bersih September 2009, mendorong harga saham ADRO naik sebesar 4,12% sekaligus kenaikan tertinggi konstituen BISNIS-27 di awal pekan ini.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Koreksi saham-saham perbankan menjadi pemicu turunnya indeks BISNIS-27 pada perdagangan awal pekan ini. Indeks bergerak turun ke level 228,75 melemah tipis sebesar 0,16% dari posisi penutupan akhir pekan kemarin.
Saham-saham perbankan seperti Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bergerak melemah diikuti juga oleh saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). saham TLKM turun tipis 0,56% dan PGAS turun 1,94%. Saham BMRI turun 0,53%, saham BBCA turun 1,06%, dan saham BBRI turun 0,65%.
Melonjaknya harga emas yang menyambung tren bullish dalam tiga pekan terakhir memicu investor untuk memburu saham-saham komoditas dan energi, sebagai pengaruh dari ekspektasi naiknya harga komoditas mengantisipasi sentimen perbaikan ekonomi global. Harga emas dunia kembali mencetak sejarah dan mencapai US$1.165 per ounce.
Sentimen tersebut memicu peralihan dana investor dari saham-saham perbankan ke komoditas. Di sisi lain, rata-rata PER (Price to Earning Ratio) industri saham perbankan memang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri saham komoditas.
Minimnya sentimen positif untuk saham perbankan dan infrastruktur menjadi faktor pemicu koreksi di dua sektor tersebut. Berbeda dengan saham komoditas yang mendapat sentimen positif dari luar negeri, seperti tren bullish harga emas yang berlanjut.
Rencana pembagian dividen interim Adaro Energy Tbk (ADRO) sebesar Rp12 per saham dari laba bersih September 2009, mendorong harga saham ADRO naik sebesar 4,12% sekaligus kenaikan tertinggi konstituen BISNIS-27 di awal pekan ini.
Senin, November 23, 2009
Ulasan Pasar Sepekan edisi 23 November 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 berhasil mencatat kinerja yang cukup baik selama pekan kemarin dengan pertumbuhan sepekan yang cukup tinggi sejak 5 Oktober lalu. Indeks tumbuh 2,14% dalam sepekan kemarin dan ditutup di level 229,12 di akhir pekan. Indeks bahkan mencapai level 230,03 atau posisi tertinggi kedua sejak 6 Oktober lalu ketika indeks BISNIS-27 mencapai level 230,63.
Aksi beli selektif investor lokal maupun asing mendominasi saham-saham dari sektor tertentu seperti komoditas pertanian, pertambangan batu bara, infratruktur, semen dan saham-saham konsumsi.
Dari saham pertambangan, faktor penyebab melonjaknya harga saham pertambangan seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM), adalah sebagai respon naiknya harga emas yang mencapai level US$1.146 per ounce. Lonjakan harga emas dunia yang cukup cepat merupakan implikasi dari tingginya minat beli investor global karena faktor melemahnya dolar AS terhadap euro, yen, dan mata uang emerging market. Aksi beli emas IMF oleh India juga memicu pelaku pasar untuk meningkatkan permintaan terhadap emas serta melakukan hedging untuk aset mereka.
Di sisi lain, harga minyak dunia nampaknya telah menemukan harga keseimbangannya hingga akhir tahun ini di level US$80 per barel. Tren kenaikan harga minyak dunia yang berlanjut, dipandang tidak mendukung pemulihan ekonomi global yang ditopang oleh kawasan emerging market Asia dan salah satunya adalah Indonesia.
Di dalam negeri, sentimen kestabilan rupiah terhadap dolar AS yang berada di level Rp9.400-Rp9.500 per US$ dalam dua pekan terakhir mendorong investor lokal maupun asing untuk membeli secara selektif saham-saham konsumsi, perbankan, dan juga otomotif. Kestabilan nilai tukar rupiah seperti saat ini diharapkan dapat mendukung laju inflasi yang rendah hingga akhir tahun dan memicu konsumsi masyarakat.
Sentimen tambahan yang positif bagi indeks juga diperoleh dari kesepakatan 14 bank nasional terutama bank-bank emiten di Bursa Efek Indonesia yang sebagian juga merupakan konstituen BISNIS-27, untuk menurunkan biaya dana pihak ketiga khususnya deposito menjadi 7% per tahun. Hal ini akan mendongkrak net interest margin perbankan dan berpotensi menambah laba bersih 2009.
Pada pekan depan (pekan ini), pergerakan indeks BISNIS-27 akan berpotensi diwarnai koreksi teknikal saham-saham pertambangan karena faktor harga yang sudah memasuki overbought atau jenuh beli, sehingga memerlukan masa konsolidasi jangka pendek untuk kemudian bergerak kembali menguat mengikuti ekspektasi perbaikan ekonomi global. Di sisi lain, investor juga perlu mewaspadai koreksi harga saham yang dipicu profit taking investor asing bila dolar AS bergerak menguat atau berbalik arah dari tren pelemahannya saat ini terhadap rupiah.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 berhasil mencatat kinerja yang cukup baik selama pekan kemarin dengan pertumbuhan sepekan yang cukup tinggi sejak 5 Oktober lalu. Indeks tumbuh 2,14% dalam sepekan kemarin dan ditutup di level 229,12 di akhir pekan. Indeks bahkan mencapai level 230,03 atau posisi tertinggi kedua sejak 6 Oktober lalu ketika indeks BISNIS-27 mencapai level 230,63.
Aksi beli selektif investor lokal maupun asing mendominasi saham-saham dari sektor tertentu seperti komoditas pertanian, pertambangan batu bara, infratruktur, semen dan saham-saham konsumsi.
Dari saham pertambangan, faktor penyebab melonjaknya harga saham pertambangan seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM), adalah sebagai respon naiknya harga emas yang mencapai level US$1.146 per ounce. Lonjakan harga emas dunia yang cukup cepat merupakan implikasi dari tingginya minat beli investor global karena faktor melemahnya dolar AS terhadap euro, yen, dan mata uang emerging market. Aksi beli emas IMF oleh India juga memicu pelaku pasar untuk meningkatkan permintaan terhadap emas serta melakukan hedging untuk aset mereka.
Di sisi lain, harga minyak dunia nampaknya telah menemukan harga keseimbangannya hingga akhir tahun ini di level US$80 per barel. Tren kenaikan harga minyak dunia yang berlanjut, dipandang tidak mendukung pemulihan ekonomi global yang ditopang oleh kawasan emerging market Asia dan salah satunya adalah Indonesia.
Di dalam negeri, sentimen kestabilan rupiah terhadap dolar AS yang berada di level Rp9.400-Rp9.500 per US$ dalam dua pekan terakhir mendorong investor lokal maupun asing untuk membeli secara selektif saham-saham konsumsi, perbankan, dan juga otomotif. Kestabilan nilai tukar rupiah seperti saat ini diharapkan dapat mendukung laju inflasi yang rendah hingga akhir tahun dan memicu konsumsi masyarakat.
Sentimen tambahan yang positif bagi indeks juga diperoleh dari kesepakatan 14 bank nasional terutama bank-bank emiten di Bursa Efek Indonesia yang sebagian juga merupakan konstituen BISNIS-27, untuk menurunkan biaya dana pihak ketiga khususnya deposito menjadi 7% per tahun. Hal ini akan mendongkrak net interest margin perbankan dan berpotensi menambah laba bersih 2009.
Pada pekan depan (pekan ini), pergerakan indeks BISNIS-27 akan berpotensi diwarnai koreksi teknikal saham-saham pertambangan karena faktor harga yang sudah memasuki overbought atau jenuh beli, sehingga memerlukan masa konsolidasi jangka pendek untuk kemudian bergerak kembali menguat mengikuti ekspektasi perbaikan ekonomi global. Di sisi lain, investor juga perlu mewaspadai koreksi harga saham yang dipicu profit taking investor asing bila dolar AS bergerak menguat atau berbalik arah dari tren pelemahannya saat ini terhadap rupiah.
Rabu, November 18, 2009
Ulasan Pasar edisi 18 November 2009
Indeks BISNIS-27 masih melanjutkan penguatannya di hari kedua pekan ini meskipun dengan kenaikan yang lebih rendah daripada kenaikan indeks di awal pekan. Indeks BISNIS-27 menguat 0,32% ditutup di level 229,08. Aksi koreksi mulai membayangi pergerakan indeks setelah rebound empat hari sebelumnya yang menopang indeks sebesar 3,77%.
Saham-saham penopang indeks beberapa hari sebelumnya seperti Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami koreksi oleh aksi profit taking jangka pendek yang sekaligus dipengaruhi faktor harga yang cukup mahal. Namun, beberapa saham masih membukukan gain seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Semen Gresik Tbk (SMGR).
Sentimen positif melonjaknya harga emas untuk hedging karena dolar AS yang melemah terhadap sejumlah mata uang dunia seperti euro, menjaga minat beli investor terhadap saham ANTM.
Setelah mengkoleksi dan merealisasikan gain saham-saham komoditas, investor kembali beralih ke saham-saham infrastruktur yang didukung oleh prioritas APBN 2010 untuk perbaikan infrastruktur dan mengurangi biaya transaksi ekonomi untuk meningkatkan investasi dalam negeri. Saham Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan saham Semen Gresik Tbk (SMGR) bergerak naik masing-masing sebesar 0,67% dan 2,78%. Saham Jasa Marga Tbk (JSMR) menguat 1,63%.
Saham-saham berbasis konsumsi juga mulai bergerak naik oleh sentimen laju inflasi yang rendah hingga akhir tahun ini. Saham Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan saham Unilevel Tbk (UNVR) menguat 0,79% dan 0,47%
Saham-saham penopang indeks beberapa hari sebelumnya seperti Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami koreksi oleh aksi profit taking jangka pendek yang sekaligus dipengaruhi faktor harga yang cukup mahal. Namun, beberapa saham masih membukukan gain seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Semen Gresik Tbk (SMGR).
Sentimen positif melonjaknya harga emas untuk hedging karena dolar AS yang melemah terhadap sejumlah mata uang dunia seperti euro, menjaga minat beli investor terhadap saham ANTM.
Setelah mengkoleksi dan merealisasikan gain saham-saham komoditas, investor kembali beralih ke saham-saham infrastruktur yang didukung oleh prioritas APBN 2010 untuk perbaikan infrastruktur dan mengurangi biaya transaksi ekonomi untuk meningkatkan investasi dalam negeri. Saham Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan saham Semen Gresik Tbk (SMGR) bergerak naik masing-masing sebesar 0,67% dan 2,78%. Saham Jasa Marga Tbk (JSMR) menguat 1,63%.
Saham-saham berbasis konsumsi juga mulai bergerak naik oleh sentimen laju inflasi yang rendah hingga akhir tahun ini. Saham Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan saham Unilevel Tbk (UNVR) menguat 0,79% dan 0,47%
Selasa, November 17, 2009
Ulasan Pasar edisi 17 November 2009
Indeks BISNIS-27 menguat signifikan di awal pekan ini melonjak 1,8% ditutup di level 228,35 atau posisi tertinggi indeks dalam tiga pekan terakhir. Kenaikan indeks yang sebesar 1,8% merupakan kenaikan harian yang tertinggi sejak 7 Oktober lalu atau dalam 29 hari perdagangan terakhir.
Faktor penyebab melonjaknya posisi indeks kemarin dipengaruhi oleh ekspektasi investor terhadap saham-saham pertambangan, sebagai respon naiknya harga emas hingga mencapai level US$1.116 per ounce. Lonjakan harga emas di bursa komoditas London tersebut direspon sebagai tindakan hedging investor global terhadap membaiknya perekonomian dunia di 2010. Seiring dengan asumsi tersebut, harga saham pertambangan menjadi semakin murah dan memicu posisi beli di kalangan investor.
Investor dalam negeri mengakumulasi saham pertambangan yang berbasis hedging seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM), diikuti oleh saham pertambangan batu bara untuk mengantisipasi lonjakan harga batu bara di 2010 yang didorong oleh tren bullish harga minyak dunia yang saat ini stabil di posisi US$78 per barel.
Saham Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menjadi saham yang mencetak gain tertinggi pada perdagangan kemarin di antara konstituen BISNIS-27, yaitu sebesar 6,43%, saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 5,15%, dan saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar 4,4%.
Aksi beli saham komoditas pertambangan yang dipimpin oleh investor asing kemarin sebaiknya diikuti juga dengan meningkatnya kewaspadaan bursa terhadap pembalikan arah indeks yang dipicu oleh pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Depresiasi rupiah akan menjadi faktor koreksi utama indeks dalam beberapa hari mendatang, dan di awal pekan kemarin rupiah ditutup melemah tipis 0,48% ke level Rp9.395/US$.
Faktor penyebab melonjaknya posisi indeks kemarin dipengaruhi oleh ekspektasi investor terhadap saham-saham pertambangan, sebagai respon naiknya harga emas hingga mencapai level US$1.116 per ounce. Lonjakan harga emas di bursa komoditas London tersebut direspon sebagai tindakan hedging investor global terhadap membaiknya perekonomian dunia di 2010. Seiring dengan asumsi tersebut, harga saham pertambangan menjadi semakin murah dan memicu posisi beli di kalangan investor.
Investor dalam negeri mengakumulasi saham pertambangan yang berbasis hedging seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM), diikuti oleh saham pertambangan batu bara untuk mengantisipasi lonjakan harga batu bara di 2010 yang didorong oleh tren bullish harga minyak dunia yang saat ini stabil di posisi US$78 per barel.
Saham Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menjadi saham yang mencetak gain tertinggi pada perdagangan kemarin di antara konstituen BISNIS-27, yaitu sebesar 6,43%, saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 5,15%, dan saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar 4,4%.
Aksi beli saham komoditas pertambangan yang dipimpin oleh investor asing kemarin sebaiknya diikuti juga dengan meningkatnya kewaspadaan bursa terhadap pembalikan arah indeks yang dipicu oleh pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Depresiasi rupiah akan menjadi faktor koreksi utama indeks dalam beberapa hari mendatang, dan di awal pekan kemarin rupiah ditutup melemah tipis 0,48% ke level Rp9.395/US$.
Langganan:
Postingan (Atom)