Ulasan Indeks BISNIS-27 edisi 24 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 kembali bergerak menguat meskipun tipis menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru. Indeks menguat ke level 231,51 naik 0,35% dari posisi penutupan Selasa sebelumnya. Penguatan indeks ditopang oleh sentimen positif pergerakan indeks bursa saham regional seperti Hang Seng, Nikkei-225, dan STI Singapura.
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) bergerak menguat sebesar 0,49% ke level 10.464,93 diikuti oleh indeks Nikkei-225 sebesar 1,91%, indeks Hang Seng naik sebesar 1,12%, dan indeks STI Singapura yang bergerak naik 0,63%.
Penguatan indeks DJIA yang diikuti oleh kenaikan indeks regional mendorong investor untuk mengkoleksi saham-saham BISNIS-27 yang telah mengalami koreksi ke level oversold pada perdagangan awal pekan ini (Senin, 21/12).
Selain itu, ekspektasi kinerja emiten yang positif pada 2009 memicu aksi beli investor yang mengantisipasi kenaikan harga saham usai liburan akhir tahun. Aksi beli selektif terjadi pada saham pertambangan batu bara seperti Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang menguat 1,32%, saham International Nickel Indonesia Tbk (INCO) yang naik sebesar 0,74%, dan saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) yang naik sebesar 0,29%.
Selain itu, saham-saham perbankan bergerak naik oleh ekspektasi naiknya pendapatan bunga perbankan dari penyaluran kredit konsumsi untuk kebutuhan akhir tahun masyarakat. Saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1,68%, saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 1,07%, dan saham Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 1,04%. Saham barang konsumsi seperti Unilever Indonesia Tbk (UNVR) ikut bergerak naik oleh sentimen positif permintaan kebutuhan masyarakat menjelang liburan akhir tahun. saham UNVR naik 1,36%.
Dari luar negeri, harga minyak dunia bergerak melemah tpis 0,03% ke level US$74,38 per barel, dan harga emas dunia bergerak melemah ke level US$1.085,60 per ounce. Pergerakan kedua komoditas utama dunia tersebut yang belum menunjukkan indikasi bullish, mendorong investor untuk sejenak menahan minat beli dan melakukan selective buying pada perdagangan kemarin dengan gain yang relatif kecil.
Kamis, Desember 24, 2009
Ulasan Indeks BISNIS-27 edisi 23 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 bergerak rebound oleh faktor teknis yang sebelumnya sejak awal pekan mengalami koreksi cukup dalam. Investor mengkoleksi saham-saham konstituen BISNIS-27 dengan perspektif investasi jangka panjang.
Indeks ditutup di level 230,71 menguat 1,48% dari posisi penutupan awal pekan. Faktor harga yang telah berada di areal oversold atau sangat murah menjadi pemicu investor untuk melakukan aksi kolektif memborong saham. Di sisi lain, faktor pergerakan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) cukup memberikan sentimen positif dengan kenaikan awal pekan sebesar 0,83% yang diikuti oleh pergerakan indeks bursa saham regional seperti Hang Seng yang naik 0,69%, indeks Nikkei-225 naik 1,91%, dan indeks STI Singapura yang bergerak naik 1,33%.
Pergerakan harga minyak dunia yang bergerak sedikit menguat ke level US$73 per barel dari posisi akhir pekan lalu di level US$71 per barel memicu aksi beli terbatas hingga akhir tahun yang didorong oleh saham komoditas.
Saham Adaro Energy Tbk (ADRO) naik 1,79%, saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 2,44%, dan saham Indika Energy Tbk (INDY ) naik 1,22%.
Selain itu, investor juga melirik saham-saham yang memang berbanding lurus dengan belanja akhir tahun masyarakat menjelang liburan. Seperti saham Astra Internasional Tbk (ASII) yang naik 0,59% dan saham barang konsumsi seperti Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang naik 3,77% dan saham Gudang Garam Tbk (GGRM) yang naik 2,02%.
Saham Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) membukukan gain tertinggi di antara konstituen BISNIS-27 pada perdagangan kemarin yaitu sebesar 6,61%. Ekspektasi kebutuhan semen yang meningkat di tahun 2010 dengan belanja infrastruktur pemerintah yang lebih fokus untuk meningkatkan infrastruktur ekonomi, menjadi penopang minat beli investor untuk saham INTP.
Saham perbankan serentak bergerak positif dengan ekspektasi naiknya permintaan kredit konsumsi masyarakat pada liburan akhir tahun.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 bergerak rebound oleh faktor teknis yang sebelumnya sejak awal pekan mengalami koreksi cukup dalam. Investor mengkoleksi saham-saham konstituen BISNIS-27 dengan perspektif investasi jangka panjang.
Indeks ditutup di level 230,71 menguat 1,48% dari posisi penutupan awal pekan. Faktor harga yang telah berada di areal oversold atau sangat murah menjadi pemicu investor untuk melakukan aksi kolektif memborong saham. Di sisi lain, faktor pergerakan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) cukup memberikan sentimen positif dengan kenaikan awal pekan sebesar 0,83% yang diikuti oleh pergerakan indeks bursa saham regional seperti Hang Seng yang naik 0,69%, indeks Nikkei-225 naik 1,91%, dan indeks STI Singapura yang bergerak naik 1,33%.
Pergerakan harga minyak dunia yang bergerak sedikit menguat ke level US$73 per barel dari posisi akhir pekan lalu di level US$71 per barel memicu aksi beli terbatas hingga akhir tahun yang didorong oleh saham komoditas.
Saham Adaro Energy Tbk (ADRO) naik 1,79%, saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 2,44%, dan saham Indika Energy Tbk (INDY ) naik 1,22%.
Selain itu, investor juga melirik saham-saham yang memang berbanding lurus dengan belanja akhir tahun masyarakat menjelang liburan. Seperti saham Astra Internasional Tbk (ASII) yang naik 0,59% dan saham barang konsumsi seperti Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang naik 3,77% dan saham Gudang Garam Tbk (GGRM) yang naik 2,02%.
Saham Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) membukukan gain tertinggi di antara konstituen BISNIS-27 pada perdagangan kemarin yaitu sebesar 6,61%. Ekspektasi kebutuhan semen yang meningkat di tahun 2010 dengan belanja infrastruktur pemerintah yang lebih fokus untuk meningkatkan infrastruktur ekonomi, menjadi penopang minat beli investor untuk saham INTP.
Saham perbankan serentak bergerak positif dengan ekspektasi naiknya permintaan kredit konsumsi masyarakat pada liburan akhir tahun.
Selasa, Desember 22, 2009
Ulasan Indeks BISNIS-27 edisi 22 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Di awal pekan ini, indeks BISNIS-27 mengalami tekanan cukup hebat seiring dengan kebutuhan likuiditas investor menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru, sekaligus mendapat sentimen negatif dari pergerakan harga minyak dunia dan emas yang belum kunjung memberikan tanda-tanda rebound.
indeks BISNIS-27 ditututp di level 227,34 atau melemah 3,49% dari posisi penutupan akhir pekan kemarin, Kamis (17/12).
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Di awal pekan ini, indeks BISNIS-27 mengalami tekanan cukup hebat seiring dengan kebutuhan likuiditas investor menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru, sekaligus mendapat sentimen negatif dari pergerakan harga minyak dunia dan emas yang belum kunjung memberikan tanda-tanda rebound.
indeks BISNIS-27 ditututp di level 227,34 atau melemah 3,49% dari posisi penutupan akhir pekan kemarin, Kamis (17/12).
Ulasan Indeks BISNIS-27 sepekan edisi 21 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Pergerakan indeks BISNIS-27 selama sepekan kemarin diwarnai oleh aksi koreksi dan lepas saham oleh investor baik lokal maupun asing, untuk memenuhi kebutuhan liburan akhir tahun yang cukup panjang. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia sangat minim sentimen positif, namun sebaliknya cukup banyak sentimen negatif yang menghampiri bursa.
Selama sepekan, indeks BISNIS-27 mencatat kenaikan tipis sebesar 0,26% ditutup di level 235,56 pada Kamis (17/12).
Sentimen negatif berlarutnya kasus Bank Century yang melibatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Ibu Ani) mendapat perhatian cukup besar dari investor. Mereka sangat menaruh harapan yang cukup tinggi kepada Ibu Ani selaku menteri keuangan untuk mengawal perekonomian Indonesia melewati krisis likuiditas global yang dimulai sejak kuartal terakhir 2008.
Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2009 ini menjadi bukti kapabilitas Ibu Ani untuk meningkat kinerja perekonomian yang ditandai dengan laju inflasi dan BI rate yang menurun dan terkendali sejak awal tahun. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga membukukan penguatan yang sangat signifikan sepanjang tahun ini.
Dari luar negeri, harga minyak dunia yang merosot ke bawah level US$70 per barel dan harga emas dunia yang sulit menembus level US$1.200 per ounce dalam dua pekan terakhir dan berpotensi besar untuk tidak mencapai target US$1.500 per ounce, seperti yang banyak diperkirakan sebelumnya oleh para pelaku pasar, mendorong investor untuk merealisasikan portofolio mereka di Bursa Efek Indonesia. Lonjakan indeks BISNIS-27 selama dua bulan terakhir memang berbanding lurus dengan lonjakan harga emas dunia yang terutama ditopang oleh saham-saham pertambangan dan energi.
Sebelumnya, kenaikan harga emas dunia dilihat sebagai tindakan lindung nilai (hedging) investor komoditas emas yang sekaligus untuk mengantisipasi perbaikan dan pertumbuhan ekonomi global 2010. Selain itu, tindakan bank sentral China dan India yang membeli emas dalam jumlah besar, memicu tindakan mengkoleksi kontrak emas di kalangan pelaku pasar bursa komoditas.
Namun, proyeksi The Fed yang akan meninggalkan kebijakan suku bunga rendahnya pada Agustus 2010, dinilai cukup lama dan menyisakan ketidakpastian perbaikan ekonomi AS, sehingga mereka memilih untuk mengamankan likuiditas dan melepas kontrak emas serta portofolio saham di emerging market termasuk Indonesia. Dolar AS menguat terhadap euro dan yen, serta rupiah di dalam negeri ikut tertekan dalan sepekan kemarin.
Kinerja indeks BISNIS-27 akan bergerak rebound di awal 2010 yang ditopang oleh kinerja emiten sepanjang 2009 dan tren investasi jangka panjang di bursa komoditas seperti minyak, batu bara, CPO, dan emas.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Pergerakan indeks BISNIS-27 selama sepekan kemarin diwarnai oleh aksi koreksi dan lepas saham oleh investor baik lokal maupun asing, untuk memenuhi kebutuhan liburan akhir tahun yang cukup panjang. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia sangat minim sentimen positif, namun sebaliknya cukup banyak sentimen negatif yang menghampiri bursa.
Selama sepekan, indeks BISNIS-27 mencatat kenaikan tipis sebesar 0,26% ditutup di level 235,56 pada Kamis (17/12).
Sentimen negatif berlarutnya kasus Bank Century yang melibatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Ibu Ani) mendapat perhatian cukup besar dari investor. Mereka sangat menaruh harapan yang cukup tinggi kepada Ibu Ani selaku menteri keuangan untuk mengawal perekonomian Indonesia melewati krisis likuiditas global yang dimulai sejak kuartal terakhir 2008.
Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2009 ini menjadi bukti kapabilitas Ibu Ani untuk meningkat kinerja perekonomian yang ditandai dengan laju inflasi dan BI rate yang menurun dan terkendali sejak awal tahun. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga membukukan penguatan yang sangat signifikan sepanjang tahun ini.
Dari luar negeri, harga minyak dunia yang merosot ke bawah level US$70 per barel dan harga emas dunia yang sulit menembus level US$1.200 per ounce dalam dua pekan terakhir dan berpotensi besar untuk tidak mencapai target US$1.500 per ounce, seperti yang banyak diperkirakan sebelumnya oleh para pelaku pasar, mendorong investor untuk merealisasikan portofolio mereka di Bursa Efek Indonesia. Lonjakan indeks BISNIS-27 selama dua bulan terakhir memang berbanding lurus dengan lonjakan harga emas dunia yang terutama ditopang oleh saham-saham pertambangan dan energi.
Sebelumnya, kenaikan harga emas dunia dilihat sebagai tindakan lindung nilai (hedging) investor komoditas emas yang sekaligus untuk mengantisipasi perbaikan dan pertumbuhan ekonomi global 2010. Selain itu, tindakan bank sentral China dan India yang membeli emas dalam jumlah besar, memicu tindakan mengkoleksi kontrak emas di kalangan pelaku pasar bursa komoditas.
Namun, proyeksi The Fed yang akan meninggalkan kebijakan suku bunga rendahnya pada Agustus 2010, dinilai cukup lama dan menyisakan ketidakpastian perbaikan ekonomi AS, sehingga mereka memilih untuk mengamankan likuiditas dan melepas kontrak emas serta portofolio saham di emerging market termasuk Indonesia. Dolar AS menguat terhadap euro dan yen, serta rupiah di dalam negeri ikut tertekan dalan sepekan kemarin.
Kinerja indeks BISNIS-27 akan bergerak rebound di awal 2010 yang ditopang oleh kinerja emiten sepanjang 2009 dan tren investasi jangka panjang di bursa komoditas seperti minyak, batu bara, CPO, dan emas.
Ulasan indeks BISNIS-27 edisi 16 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 kembali melemah pada perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (15/12) dipengaruhi oleh aksi jual saham investor asing. Indeks BISNIS-27 melemah tipis 0,39% ke level 233,39.
Perkembangan kasus Bank Century yang melibatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mendapat perhatian yang cukup besar dari pelaku pasar baik lokal maupun asing yang cukup khawatir bila Ibu Ani mengundurkan diri. Kekhawatiran tersebut tidaklah berlebihan mengingat kapabilitas Ibu Ani dalam menghadapi krisis likuiditas 2008 dan berperan cukup besar mengarahkan perekonomian Indonesia untuk dapat bertahan dan terus tumbuh hingga akhir tahun 2009 ini.
Rumor yang menyebutkan Ibu Ani akan mengundurkan diri menambah sentimen negatif di pasar. Selain itu, dari faktor pergerakan harga komoditas seperti emas dan minyak dunia yang masih belum menunjukkan tanda-tanda menguat di akhir tahun ini, memaksa investor untuk merealisasikan gain sekaligus untuk memenuhi kebutuhan liburan akhir tahun.
Saham perbankan menjadi saham penekan utama koreksi indeks pada perdagangan kemarin. Saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 2,56%, saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,14%, dan saham Bank Central Asia (BBCA) turun 1,03%. Ekspketasi inflasi yang menguat pada 2010 seiring membaiknya perekonomian global memberikan sentimen negatif pada saham perbankan karena dipastikan akan diikuti oleh kenaikan BI rate yang saat ini dengan level 6,5% dirasakan pelaku pasar sudah cukup untuk memperbaiki tingkat konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, saham-saham pertambangan bergerak rebound pada perdagangan kemarin setelah mengalami koreksi dalam dua hari terakhir sejak akhir pekan kemarin. Ekspektasi perbaikan ekonomi global pada 2010 yang akan diikuti oleh naiknya harga minyak dan emas dunia, mendorong aksi beli saham-saham pertambangan yang didukung oleh faktor harga yang sudah cukup murah di posisi penutupan Senin sehari sebelumnya.
Saham Bayan Resources Tbk (BYAN) menguat 1,82%, saham Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menguat 1,69%, saham Indika Energy Tbk (INDY) menguat 1,2%, dan saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 0,58%.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 kembali melemah pada perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (15/12) dipengaruhi oleh aksi jual saham investor asing. Indeks BISNIS-27 melemah tipis 0,39% ke level 233,39.
Perkembangan kasus Bank Century yang melibatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mendapat perhatian yang cukup besar dari pelaku pasar baik lokal maupun asing yang cukup khawatir bila Ibu Ani mengundurkan diri. Kekhawatiran tersebut tidaklah berlebihan mengingat kapabilitas Ibu Ani dalam menghadapi krisis likuiditas 2008 dan berperan cukup besar mengarahkan perekonomian Indonesia untuk dapat bertahan dan terus tumbuh hingga akhir tahun 2009 ini.
Rumor yang menyebutkan Ibu Ani akan mengundurkan diri menambah sentimen negatif di pasar. Selain itu, dari faktor pergerakan harga komoditas seperti emas dan minyak dunia yang masih belum menunjukkan tanda-tanda menguat di akhir tahun ini, memaksa investor untuk merealisasikan gain sekaligus untuk memenuhi kebutuhan liburan akhir tahun.
Saham perbankan menjadi saham penekan utama koreksi indeks pada perdagangan kemarin. Saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 2,56%, saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,14%, dan saham Bank Central Asia (BBCA) turun 1,03%. Ekspketasi inflasi yang menguat pada 2010 seiring membaiknya perekonomian global memberikan sentimen negatif pada saham perbankan karena dipastikan akan diikuti oleh kenaikan BI rate yang saat ini dengan level 6,5% dirasakan pelaku pasar sudah cukup untuk memperbaiki tingkat konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, saham-saham pertambangan bergerak rebound pada perdagangan kemarin setelah mengalami koreksi dalam dua hari terakhir sejak akhir pekan kemarin. Ekspektasi perbaikan ekonomi global pada 2010 yang akan diikuti oleh naiknya harga minyak dan emas dunia, mendorong aksi beli saham-saham pertambangan yang didukung oleh faktor harga yang sudah cukup murah di posisi penutupan Senin sehari sebelumnya.
Saham Bayan Resources Tbk (BYAN) menguat 1,82%, saham Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menguat 1,69%, saham Indika Energy Tbk (INDY) menguat 1,2%, dan saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 0,58%.
Ulasan indeks BISNIS-27 edisi 15 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 bergerak melemah di awal pekan ini tertekan oleh koreksi harga minyak dunia dan nilai rupiah yang melemah terhadap dolar AS. Indeks ditutup di level 234,31 melemah tipis 0,27%. Namun, faktor koreksi teknis mendominasi tekanan pada indeks BISNIS-27 yang dipicu oleh turunnya harga saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 3,06%.
Pelemahan ini disebabkan oleh koreksi saham-saham pertambangan terutama yang berkorelasi positif dengan pergerakan harga minyak, yaitu saham-saham emiten batu bara. Selain itu, harga emas yang melemah ke level US$1.123 per ounce pada perdagangan kemarin mendorong investor merealisasikan gain atas saham-saham pertambangan. Posisi harga emas yang stabil di bawah US$1.200 per ounce sejak sepekan kemarin mengindikasikan level keseimbangan baru harga emas hingga akhir tahun.
Di sisi lain, harga minyak dunia merosot ke level di bawah US$70 per barel, tepatnya US$69,55 per barel memberikan sinyal konsolidasi harga saham-saham yang berbanding lurus dengan pergerakan harga minyak dunia. Saham batubara Adaro Energy Tbk (ADRO) dan Bayan Resources Tbk (BYAN) bergerak melemah masing-masing 0,57% dan 0,9%.
Faktor overbought saham TLKM yang telah rally sejak awal Desember atau 14 hari terakhir sebesar 12% hingga menyentuh level tertingginya tahun ini yaitu Rp9.800 pada Jumat akhir pekan kemarin (11/12), mendorong investor untuk merealisasikan gain atas saham TLKM. Faktor melemahnya saham-saham pertambangan dan rupiah yang tidak kunjung menembus level resistance Rp9.400 per US$, menjadi faktor pemicu koreksi TLKM.
Harga minyak dunia yang melemah, sebaliknya menjadi penopang saham-saham yang berkorelasi dengan daya beli. Saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 0,52% dan saham Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 1,82%.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Indeks BISNIS-27 bergerak melemah di awal pekan ini tertekan oleh koreksi harga minyak dunia dan nilai rupiah yang melemah terhadap dolar AS. Indeks ditutup di level 234,31 melemah tipis 0,27%. Namun, faktor koreksi teknis mendominasi tekanan pada indeks BISNIS-27 yang dipicu oleh turunnya harga saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 3,06%.
Pelemahan ini disebabkan oleh koreksi saham-saham pertambangan terutama yang berkorelasi positif dengan pergerakan harga minyak, yaitu saham-saham emiten batu bara. Selain itu, harga emas yang melemah ke level US$1.123 per ounce pada perdagangan kemarin mendorong investor merealisasikan gain atas saham-saham pertambangan. Posisi harga emas yang stabil di bawah US$1.200 per ounce sejak sepekan kemarin mengindikasikan level keseimbangan baru harga emas hingga akhir tahun.
Di sisi lain, harga minyak dunia merosot ke level di bawah US$70 per barel, tepatnya US$69,55 per barel memberikan sinyal konsolidasi harga saham-saham yang berbanding lurus dengan pergerakan harga minyak dunia. Saham batubara Adaro Energy Tbk (ADRO) dan Bayan Resources Tbk (BYAN) bergerak melemah masing-masing 0,57% dan 0,9%.
Faktor overbought saham TLKM yang telah rally sejak awal Desember atau 14 hari terakhir sebesar 12% hingga menyentuh level tertingginya tahun ini yaitu Rp9.800 pada Jumat akhir pekan kemarin (11/12), mendorong investor untuk merealisasikan gain atas saham TLKM. Faktor melemahnya saham-saham pertambangan dan rupiah yang tidak kunjung menembus level resistance Rp9.400 per US$, menjadi faktor pemicu koreksi TLKM.
Harga minyak dunia yang melemah, sebaliknya menjadi penopang saham-saham yang berkorelasi dengan daya beli. Saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 0,52% dan saham Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 1,82%.
Senin, Desember 14, 2009
Ulasan indeks BISNIS-27 Sepekan edisi 14 Desember 2009
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Selama sepekan kemarin, indeks BISNIS-27 menguat tipis 0,13% oleh tekanan koreksi yang dimulai sejak awal pekan hingga Rabu. Indeks BISNIS-27 pada Jumat kemarin ditutup di level 234,95.
Sentimen negatif aksi Antikorupsi pada 9 Desember, membuat investor cenderung mengamankan likuiditas mereka dengan melakukan profit taking di bursa saham. Dari luar negeri, koreksi harga emas sebesar 5% dalam tiga hari sejak awal pekan dan minyak dunia sebesar 6,4% memicu sentimen negatif saham-saham pertambangan dan energi di antara konstituen BISNIS-27.
Aksi ambil untung di Bursa Efek Indonesia dan bursa komoditas terutama emas dan minyak dipengaruhi oleh pesimisme pelaku pasar terhadap perbaikan ekonomi AS. Sebelumnya, Ben Bernanke sebagai Gubernur The Federal Reserve AS menyatakan bahwa kenaikan suku bunga The Fed paling cepat pada Agustus 2010. Hal ini mengindikasikan pemulihan daya beli yang diimbangi dengan kenaikan laju inflasi baru akan terjadi pada Agustus 2010.
Di sisi lain, rally harga emas dalam sebulan terakhir justru dipengaruhi oleh ekspektasi pemulihan ekonomi AS pada triwulan I/2010, yang sekaligus menyebabkan dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang seperti euro dan yen. Pelemahan dolar AS kemudian dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk mengakumulasi kontrak emas dan minyak dunia dengan motif lindung nilai (hedging).
Namun, pergerakan indeks BISNIS-27 kembali menguat di akhir pekan dengan kenaikan cukup signifikan yaitu 1,55% yang ditopang oleh positifnya indeks bursa saham regional Asia Pasifik seperti Nikkei-225, Hang Seng dan STI Singapura. Penguatan tersebut dipengaruhi kembali melemahnya nilai mata uang yen Jepang terhadap dolar AS dan penurunan nilai ekspor China yang jauh lebih kecil pada November yaitu hanya sebesar 1,2% dibandingkan Oktober yang sebesar 13,8%.
Penurunan nilai ekspor China yang jauh lebih kecil tersebut memberikan indikasi adanya pemulihan daya beli global. Sedangkan, kurs yen Jepang yang melemah terhadap dolar AS memberikan sentimen positif bagi perusahaan-perusahaan eksportir Jepang, kurs yen bergerak ke level 88,80 per US$ dari level 88,26 per US$.
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Selama sepekan kemarin, indeks BISNIS-27 menguat tipis 0,13% oleh tekanan koreksi yang dimulai sejak awal pekan hingga Rabu. Indeks BISNIS-27 pada Jumat kemarin ditutup di level 234,95.
Sentimen negatif aksi Antikorupsi pada 9 Desember, membuat investor cenderung mengamankan likuiditas mereka dengan melakukan profit taking di bursa saham. Dari luar negeri, koreksi harga emas sebesar 5% dalam tiga hari sejak awal pekan dan minyak dunia sebesar 6,4% memicu sentimen negatif saham-saham pertambangan dan energi di antara konstituen BISNIS-27.
Aksi ambil untung di Bursa Efek Indonesia dan bursa komoditas terutama emas dan minyak dipengaruhi oleh pesimisme pelaku pasar terhadap perbaikan ekonomi AS. Sebelumnya, Ben Bernanke sebagai Gubernur The Federal Reserve AS menyatakan bahwa kenaikan suku bunga The Fed paling cepat pada Agustus 2010. Hal ini mengindikasikan pemulihan daya beli yang diimbangi dengan kenaikan laju inflasi baru akan terjadi pada Agustus 2010.
Di sisi lain, rally harga emas dalam sebulan terakhir justru dipengaruhi oleh ekspektasi pemulihan ekonomi AS pada triwulan I/2010, yang sekaligus menyebabkan dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang seperti euro dan yen. Pelemahan dolar AS kemudian dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk mengakumulasi kontrak emas dan minyak dunia dengan motif lindung nilai (hedging).
Namun, pergerakan indeks BISNIS-27 kembali menguat di akhir pekan dengan kenaikan cukup signifikan yaitu 1,55% yang ditopang oleh positifnya indeks bursa saham regional Asia Pasifik seperti Nikkei-225, Hang Seng dan STI Singapura. Penguatan tersebut dipengaruhi kembali melemahnya nilai mata uang yen Jepang terhadap dolar AS dan penurunan nilai ekspor China yang jauh lebih kecil pada November yaitu hanya sebesar 1,2% dibandingkan Oktober yang sebesar 13,8%.
Penurunan nilai ekspor China yang jauh lebih kecil tersebut memberikan indikasi adanya pemulihan daya beli global. Sedangkan, kurs yen Jepang yang melemah terhadap dolar AS memberikan sentimen positif bagi perusahaan-perusahaan eksportir Jepang, kurs yen bergerak ke level 88,80 per US$ dari level 88,26 per US$.
Langganan:
Postingan (Atom)