Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Di hari pertama perdagangan setelah libur panjang, bursa saham kembali terpukul dengan berlanjutnya koreksi harga minyak di bursa New York yang menyentuh level $112 per barel sehingga tidak ada ruang bagi saham komoditas khususnya batu bara untuk bergerak naik atau memberikan signal naik. IHSG ditutup pada level 2.042,50 turun 42,65 poin (-2,05%) dari penutupan akhir pekan sebelumnya.
Saham Bumi Resources kembali ditutup turun Rp100 (-1,98%), PTBA turun Rp350 (-2,75%), dan ITMG turun Rp700 (-3,04%). Transaksi pelaku pasar didominasi oleh panic selling untuk mengurangi margin call, sehingga mendorong mereka untuk melepas saham-saham unggulan di sektor lainnya seperti perbankan dan semen untuk menutupi loss di sektor komoditas. Harga minyak dunia yang melemah sebenarnya akan memberikan sentimen positif kepada saham perbankan dan juga saham emiten semen, seiring laju inflasi yang melambat dan meningkatnya daya beli masyarakat.
Harga saham Bank Mandiri (BMRI) turun Rp100 (-3,45%) ke posisi Rp2.800, Bank BRI (BBRI) turun Rp250 (-4,10%) ke posisi Rp5.850, dan Bank BCA turun Rp100 (-3,25%) ke posisi Rp2.975. Dari emiten semen, saham Semen Gresik turun Rp125 (-3,33%) ke level Rp3.625 dan saham Indocement Tunggal Perkasa turun Rp150 (-2,40%) ke level Rp6.100.
Harga batu bara di Newscastle Port Australia sejak awal Agustus terkoreksi 18,54% melemah ke level $156,16 per ton (8/8) meski di akhir pekan kemarin kembali naik 5% ke $163,90. Harga CPO di bursa Malaysia turun 11,3% ke $715 per ton selama sepekan terakhir. Harga saham Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp650 (-3,92%) ke posisi Rp15.950 dan saham London Sumatera (LSIP) turun Rp500 (-8,47%) ke posisi Rp5.400.
Sentimen negatif bursa regional ikut menekan IHSG pada perdagangan kemarin. Indeks Nikkei-225 turun –2,28%, , indeks Hangseng turun –2,13%, dan indeks STI turun –1,75%.
Rabu, Agustus 20, 2008
Selasa, Agustus 19, 2008
Ulasan Pasar 11-15 Agustus 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Selama sepekan kemarin, bursa saham mengalami koreksi sebesar 110,78 (-5,04%) ditutup pada level 2.085,15 tertekan oleh koreksi harga saham batu bara dan perkebunan akibat koreksi harga minyak dunia. Harga minyak dunia di bursa New York turun 5% ke level $113 per barel, harga CPO turun 11,3% ke $715 per ton, harga batu bara di Newscastle Port Australia sejak awal Agustus terkoreksi 18,54% melemah ke level $156,16 per ton (8/8) meski di akhir pekan kemarin kembali naik 5% ke $163,90.
Di awal pekan, IHSG ditutup melemah 62,01 poin (-2,8%) ke level 2.133,92. Harga saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp500 (-8,85%) ke posisi Rp5.150, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp550 (-4,15%) ke posisi Rp12.700, dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 (-2,21%) ke posisi Rp26.600. Saham Indofood Sukses Makmur (INDF) ikut menyumbang pelemahan IHSG dengan koreksi Rp75 (-3,61%) ke posisi Rp2.000 setelah Indofood memperkirakan penurunan produksi sebesar 10% tahun ini akibat melemahnya permintaan. Bursa juga kembali terkoreksi di penutupan selasa sebesar 76,34 poin (-3,6%) ke level 2.057,58 karena panic selling pelaku pasar yang melepas saham-saham komoditas (cutloss).
Di perdagangan rabu IHSG mulai naik ditutup di level 2.063,52 atau naik sebesar 5,94 poin (0,29%) oleh faktor selective buying pelaku bursa terhadap saham perbankan, meskipun di sisi lain mereka masih menghindari saham batu bara dan CPO karena belum ada signal naik dari harga minyak. Saham Bank BCA naik Rp200 (7,14%), saham Bank Mandiri naik Rp125 (4,55%), dan saham Bank BRI naik Rp250 (4,31%). Gubernur Bank Indonesia Boediono mengatakan inflasi di pertengahan tahun depan akan melambat ke level 6,5%. Saham International Nickel (INCO) ikut mendongkrak IHSG dengan rencana korporasi yang akan membangun pabrik pengolah nikel senilai US$1,2 miliar di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Saham INCO naik Rp50 (1,4%) ke level Rp3.625.
Saham Medco Internasional bergerak naik 2,4% ke level Rp4.275, setelah sehari sebelumnya terkoreksi 13,02% ke level Rp4.175. Medco Energi Internasional menjajaki opsi dividen khusus senilai US$50 juta atau setara dengan Rp140 per saham, menyusul divestasi tujuh anak perusahaannya hingga akhir tahun ini.
Bursa kembali rebound pada perdagangan kamis oleh naiknya saham-saham komoditas yang telah oversold. IHSG ditutup naik 43,12 poin (2,09%) ke level 2.106,64. Saham PTBA naik Rp1.500 (12,35%), BUMI naik Rp400 (8%), dan ITMG naik Rp1.300 (5,71%). Selain oleh faktor oversold, saham batu bara naik oleh sentimen positif harga kontrak minyak untuk bulan September di bursa New York yang naik 2,7% ke $116 per barel. Harga kontrak CPO di bursa Malaysia untuk pengiriman Oktober juga naik sebesar 3,3% ke posisi $790 per ton. Saham AALI naik Rp1.700 (10,62%) dan LSIP naik Rp350 (5,74%).
Secara teknis, saham LSIP bergerak rebound setelah koreksi 24,05% sejak awal Agustus akibat koreksi harga CPO di bursa Malaysia yang membawa LSIP menyentuh posisi oversold indikator RSI di level 21 saat harga di Rp6.000 (12/8). Kinerja semester I/2008 LSIP yang mencatat kenaikan laba bersih lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp525 miliar ikut mendongkrak LSIP. Technical rebound juga dialami AALI yang sejak awal Agustus terkoreksi sebesar 24,7% dan membawa ke posisi oversold dengan indikator RSI menyentuh level terendah yaitu 20.
Akuisisi PT Tambang Batu Bara Bukit Asam atas 51% saham Internasional Prima Coal di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki cadangan batu bara sebanyak 45 juta ton, ikut menopang naiknya PTBA sebesar 12,35% ke level Rp13.650 pada perdagangan kamis.
Di akhir pekan, IHSG kembali terkoreksi karena harga minyak kembali turun ke $113 per barel dan juga oleh kebijakan pemerintah yang akan menerapkan aturan jaminan pasokan batu bara dalam negeri dengan harga jual dalam negeri lebih rendah dari harga ekspor. Harga saham PTBA turun 6,59% ke level Rp12.750, BUMI turun 6,48% ke level Rp5.050, dan ITMG turun 4,37% ke level Rp23.000. Di sisi lain, kembali terkoreksinya harga minyak dunia ke level $113 per barel memperkuat ekspektasi akan melambatnya inflasi dan naiknya pertumbuhan kredit perbankan menjelang akhir tahun karena adanya peningkatan daya beli masyarakat. Saham BBCA naik 4,24% ke Rp3.075, saham BNGA naik 2,15% ke Rp950, saham BDMN naik 1,89% ke Rp5.400, saham BBRI naik 1,67% ke Rp6.100, dan saham BMRI naik 0,87% ke Rp2.900
Selama sepekan kemarin, bursa saham mengalami koreksi sebesar 110,78 (-5,04%) ditutup pada level 2.085,15 tertekan oleh koreksi harga saham batu bara dan perkebunan akibat koreksi harga minyak dunia. Harga minyak dunia di bursa New York turun 5% ke level $113 per barel, harga CPO turun 11,3% ke $715 per ton, harga batu bara di Newscastle Port Australia sejak awal Agustus terkoreksi 18,54% melemah ke level $156,16 per ton (8/8) meski di akhir pekan kemarin kembali naik 5% ke $163,90.
Di awal pekan, IHSG ditutup melemah 62,01 poin (-2,8%) ke level 2.133,92. Harga saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp500 (-8,85%) ke posisi Rp5.150, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp550 (-4,15%) ke posisi Rp12.700, dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 (-2,21%) ke posisi Rp26.600. Saham Indofood Sukses Makmur (INDF) ikut menyumbang pelemahan IHSG dengan koreksi Rp75 (-3,61%) ke posisi Rp2.000 setelah Indofood memperkirakan penurunan produksi sebesar 10% tahun ini akibat melemahnya permintaan. Bursa juga kembali terkoreksi di penutupan selasa sebesar 76,34 poin (-3,6%) ke level 2.057,58 karena panic selling pelaku pasar yang melepas saham-saham komoditas (cutloss).
Di perdagangan rabu IHSG mulai naik ditutup di level 2.063,52 atau naik sebesar 5,94 poin (0,29%) oleh faktor selective buying pelaku bursa terhadap saham perbankan, meskipun di sisi lain mereka masih menghindari saham batu bara dan CPO karena belum ada signal naik dari harga minyak. Saham Bank BCA naik Rp200 (7,14%), saham Bank Mandiri naik Rp125 (4,55%), dan saham Bank BRI naik Rp250 (4,31%). Gubernur Bank Indonesia Boediono mengatakan inflasi di pertengahan tahun depan akan melambat ke level 6,5%. Saham International Nickel (INCO) ikut mendongkrak IHSG dengan rencana korporasi yang akan membangun pabrik pengolah nikel senilai US$1,2 miliar di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Saham INCO naik Rp50 (1,4%) ke level Rp3.625.
Saham Medco Internasional bergerak naik 2,4% ke level Rp4.275, setelah sehari sebelumnya terkoreksi 13,02% ke level Rp4.175. Medco Energi Internasional menjajaki opsi dividen khusus senilai US$50 juta atau setara dengan Rp140 per saham, menyusul divestasi tujuh anak perusahaannya hingga akhir tahun ini.
Bursa kembali rebound pada perdagangan kamis oleh naiknya saham-saham komoditas yang telah oversold. IHSG ditutup naik 43,12 poin (2,09%) ke level 2.106,64. Saham PTBA naik Rp1.500 (12,35%), BUMI naik Rp400 (8%), dan ITMG naik Rp1.300 (5,71%). Selain oleh faktor oversold, saham batu bara naik oleh sentimen positif harga kontrak minyak untuk bulan September di bursa New York yang naik 2,7% ke $116 per barel. Harga kontrak CPO di bursa Malaysia untuk pengiriman Oktober juga naik sebesar 3,3% ke posisi $790 per ton. Saham AALI naik Rp1.700 (10,62%) dan LSIP naik Rp350 (5,74%).
Secara teknis, saham LSIP bergerak rebound setelah koreksi 24,05% sejak awal Agustus akibat koreksi harga CPO di bursa Malaysia yang membawa LSIP menyentuh posisi oversold indikator RSI di level 21 saat harga di Rp6.000 (12/8). Kinerja semester I/2008 LSIP yang mencatat kenaikan laba bersih lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp525 miliar ikut mendongkrak LSIP. Technical rebound juga dialami AALI yang sejak awal Agustus terkoreksi sebesar 24,7% dan membawa ke posisi oversold dengan indikator RSI menyentuh level terendah yaitu 20.
Akuisisi PT Tambang Batu Bara Bukit Asam atas 51% saham Internasional Prima Coal di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki cadangan batu bara sebanyak 45 juta ton, ikut menopang naiknya PTBA sebesar 12,35% ke level Rp13.650 pada perdagangan kamis.
Di akhir pekan, IHSG kembali terkoreksi karena harga minyak kembali turun ke $113 per barel dan juga oleh kebijakan pemerintah yang akan menerapkan aturan jaminan pasokan batu bara dalam negeri dengan harga jual dalam negeri lebih rendah dari harga ekspor. Harga saham PTBA turun 6,59% ke level Rp12.750, BUMI turun 6,48% ke level Rp5.050, dan ITMG turun 4,37% ke level Rp23.000. Di sisi lain, kembali terkoreksinya harga minyak dunia ke level $113 per barel memperkuat ekspektasi akan melambatnya inflasi dan naiknya pertumbuhan kredit perbankan menjelang akhir tahun karena adanya peningkatan daya beli masyarakat. Saham BBCA naik 4,24% ke Rp3.075, saham BNGA naik 2,15% ke Rp950, saham BDMN naik 1,89% ke Rp5.400, saham BBRI naik 1,67% ke Rp6.100, dan saham BMRI naik 0,87% ke Rp2.900
Ulasan Pasar 11-15 Agustus 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Selama sepekan kemarin, bursa saham mengalami koreksi sebesar 110,78 (-5,04%) ditutup pada level 2.085,15 tertekan oleh koreksi harga saham batu bara dan perkebunan akibat koreksi harga minyak dunia. Harga minyak dunia di bursa New York turun 5% ke level $113 per barel, harga CPO turun 11,3% ke $715 per ton, harga batu bara di Newscastle Port Australia sejak awal Agustus terkoreksi 18,54% melemah ke level $156,16 per ton (8/8) meski di akhir pekan kemarin kembali naik 5% ke $163,90.
Di awal pekan, IHSG ditutup melemah 62,01 poin (-2,8%) ke level 2.133,92. Harga saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp500 (-8,85%) ke posisi Rp5.150, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp550 (-4,15%) ke posisi Rp12.700, dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 (-2,21%) ke posisi Rp26.600. Saham Indofood Sukses Makmur (INDF) ikut menyumbang pelemahan IHSG dengan koreksi Rp75 (-3,61%) ke posisi Rp2.000 setelah Indofood memperkirakan penurunan produksi sebesar 10% tahun ini akibat melemahnya permintaan. Bursa juga kembali terkoreksi di penutupan selasa sebesar 76,34 poin (-3,6%) ke level 2.057,58 karena panic selling pelaku pasar yang melepas saham-saham komoditas (cutloss).
Di perdagangan rabu IHSG mulai naik ditutup di level 2.063,52 atau naik sebesar 5,94 poin (0,29%) oleh faktor selective buying pelaku bursa terhadap saham perbankan, meskipun di sisi lain mereka masih menghindari saham batu bara dan CPO karena belum ada signal naik dari harga minyak. Saham Bank BCA naik Rp200 (7,14%), saham Bank Mandiri naik Rp125 (4,55%), dan saham Bank BRI naik Rp250 (4,31%). Gubernur Bank Indonesia Boediono mengatakan inflasi di pertengahan tahun depan akan melambat ke level 6,5%. Saham International Nickel (INCO) ikut mendongkrak IHSG dengan rencana korporasi yang akan membangun pabrik pengolah nikel senilai US$1,2 miliar di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Saham INCO naik Rp50 (1,4%) ke level Rp3.625.
Saham Medco Internasional bergerak naik 2,4% ke level Rp4.275, setelah sehari sebelumnya terkoreksi 13,02% ke level Rp4.175. Medco Energi Internasional menjajaki opsi dividen khusus senilai US$50 juta atau setara dengan Rp140 per saham, menyusul divestasi tujuh anak perusahaannya hingga akhir tahun ini.
Bursa kembali rebound pada perdagangan kamis oleh naiknya saham-saham komoditas yang telah oversold. IHSG ditutup naik 43,12 poin (2,09%) ke level 2.106,64. Saham PTBA naik Rp1.500 (12,35%), BUMI naik Rp400 (8%), dan ITMG naik Rp1.300 (5,71%). Selain oleh faktor oversold, saham batu bara naik oleh sentimen positif harga kontrak minyak untuk bulan September di bursa New York yang naik 2,7% ke $116 per barel. Harga kontrak CPO di bursa Malaysia untuk pengiriman Oktober juga naik sebesar 3,3% ke posisi $790 per ton. Saham AALI naik Rp1.700 (10,62%) dan LSIP naik Rp350 (5,74%).
Secara teknis, saham LSIP bergerak rebound setelah koreksi 24,05% sejak awal Agustus akibat koreksi harga CPO di bursa Malaysia yang membawa LSIP menyentuh posisi oversold indikator RSI di level 21 saat harga di Rp6.000 (12/8). Kinerja semester I/2008 LSIP yang mencatat kenaikan laba bersih lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp525 miliar ikut mendongkrak LSIP. Technical rebound juga dialami AALI yang sejak awal Agustus terkoreksi sebesar 24,7% dan membawa ke posisi oversold dengan indikator RSI menyentuh level terendah yaitu 20.
Akuisisi PT Tambang Batu Bara Bukit Asam atas 51% saham Internasional Prima Coal di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki cadangan batu bara sebanyak 45 juta ton, ikut menopang naiknya PTBA sebesar 12,35% ke level Rp13.650 pada perdagangan kamis.
Di akhir pekan, IHSG kembali terkoreksi karena harga minyak kembali turun ke $113 per barel dan juga oleh kebijakan pemerintah yang akan menerapkan aturan jaminan pasokan batu bara dalam negeri dengan harga jual dalam negeri lebih rendah dari harga ekspor. Harga saham PTBA turun 6,59% ke level Rp12.750, BUMI turun 6,48% ke level Rp5.050, dan ITMG turun 4,37% ke level Rp23.000. Di sisi lain, kembali terkoreksinya harga minyak dunia ke level $113 per barel memperkuat ekspektasi akan melambatnya inflasi dan naiknya pertumbuhan kredit perbankan menjelang akhir tahun karena adanya peningkatan daya beli masyarakat. Saham BBCA naik 4,24% ke Rp3.075, saham BNGA naik 2,15% ke Rp950, saham BDMN naik 1,89% ke Rp5.400, saham BBRI naik 1,67% ke Rp6.100, dan saham BMRI naik 0,87% ke Rp2.900
Selama sepekan kemarin, bursa saham mengalami koreksi sebesar 110,78 (-5,04%) ditutup pada level 2.085,15 tertekan oleh koreksi harga saham batu bara dan perkebunan akibat koreksi harga minyak dunia. Harga minyak dunia di bursa New York turun 5% ke level $113 per barel, harga CPO turun 11,3% ke $715 per ton, harga batu bara di Newscastle Port Australia sejak awal Agustus terkoreksi 18,54% melemah ke level $156,16 per ton (8/8) meski di akhir pekan kemarin kembali naik 5% ke $163,90.
Di awal pekan, IHSG ditutup melemah 62,01 poin (-2,8%) ke level 2.133,92. Harga saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp500 (-8,85%) ke posisi Rp5.150, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp550 (-4,15%) ke posisi Rp12.700, dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 (-2,21%) ke posisi Rp26.600. Saham Indofood Sukses Makmur (INDF) ikut menyumbang pelemahan IHSG dengan koreksi Rp75 (-3,61%) ke posisi Rp2.000 setelah Indofood memperkirakan penurunan produksi sebesar 10% tahun ini akibat melemahnya permintaan. Bursa juga kembali terkoreksi di penutupan selasa sebesar 76,34 poin (-3,6%) ke level 2.057,58 karena panic selling pelaku pasar yang melepas saham-saham komoditas (cutloss).
Di perdagangan rabu IHSG mulai naik ditutup di level 2.063,52 atau naik sebesar 5,94 poin (0,29%) oleh faktor selective buying pelaku bursa terhadap saham perbankan, meskipun di sisi lain mereka masih menghindari saham batu bara dan CPO karena belum ada signal naik dari harga minyak. Saham Bank BCA naik Rp200 (7,14%), saham Bank Mandiri naik Rp125 (4,55%), dan saham Bank BRI naik Rp250 (4,31%). Gubernur Bank Indonesia Boediono mengatakan inflasi di pertengahan tahun depan akan melambat ke level 6,5%. Saham International Nickel (INCO) ikut mendongkrak IHSG dengan rencana korporasi yang akan membangun pabrik pengolah nikel senilai US$1,2 miliar di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Saham INCO naik Rp50 (1,4%) ke level Rp3.625.
Saham Medco Internasional bergerak naik 2,4% ke level Rp4.275, setelah sehari sebelumnya terkoreksi 13,02% ke level Rp4.175. Medco Energi Internasional menjajaki opsi dividen khusus senilai US$50 juta atau setara dengan Rp140 per saham, menyusul divestasi tujuh anak perusahaannya hingga akhir tahun ini.
Bursa kembali rebound pada perdagangan kamis oleh naiknya saham-saham komoditas yang telah oversold. IHSG ditutup naik 43,12 poin (2,09%) ke level 2.106,64. Saham PTBA naik Rp1.500 (12,35%), BUMI naik Rp400 (8%), dan ITMG naik Rp1.300 (5,71%). Selain oleh faktor oversold, saham batu bara naik oleh sentimen positif harga kontrak minyak untuk bulan September di bursa New York yang naik 2,7% ke $116 per barel. Harga kontrak CPO di bursa Malaysia untuk pengiriman Oktober juga naik sebesar 3,3% ke posisi $790 per ton. Saham AALI naik Rp1.700 (10,62%) dan LSIP naik Rp350 (5,74%).
Secara teknis, saham LSIP bergerak rebound setelah koreksi 24,05% sejak awal Agustus akibat koreksi harga CPO di bursa Malaysia yang membawa LSIP menyentuh posisi oversold indikator RSI di level 21 saat harga di Rp6.000 (12/8). Kinerja semester I/2008 LSIP yang mencatat kenaikan laba bersih lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp525 miliar ikut mendongkrak LSIP. Technical rebound juga dialami AALI yang sejak awal Agustus terkoreksi sebesar 24,7% dan membawa ke posisi oversold dengan indikator RSI menyentuh level terendah yaitu 20.
Akuisisi PT Tambang Batu Bara Bukit Asam atas 51% saham Internasional Prima Coal di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki cadangan batu bara sebanyak 45 juta ton, ikut menopang naiknya PTBA sebesar 12,35% ke level Rp13.650 pada perdagangan kamis.
Di akhir pekan, IHSG kembali terkoreksi karena harga minyak kembali turun ke $113 per barel dan juga oleh kebijakan pemerintah yang akan menerapkan aturan jaminan pasokan batu bara dalam negeri dengan harga jual dalam negeri lebih rendah dari harga ekspor. Harga saham PTBA turun 6,59% ke level Rp12.750, BUMI turun 6,48% ke level Rp5.050, dan ITMG turun 4,37% ke level Rp23.000. Di sisi lain, kembali terkoreksinya harga minyak dunia ke level $113 per barel memperkuat ekspektasi akan melambatnya inflasi dan naiknya pertumbuhan kredit perbankan menjelang akhir tahun karena adanya peningkatan daya beli masyarakat. Saham BBCA naik 4,24% ke Rp3.075, saham BNGA naik 2,15% ke Rp950, saham BDMN naik 1,89% ke Rp5.400, saham BBRI naik 1,67% ke Rp6.100, dan saham BMRI naik 0,87% ke Rp2.900
Jumat, Agustus 15, 2008
Ulasan Pasar 14 Agustus 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham mengalami technical rebound oleh naiknya harga-harga saham unggulan terutama sektor komoditas pertambangan dan perkebunan yang telah oversold sejak awal pekan. IHSG ditutup naik 43,12 poin (2,09%) ke level 2.106,64. Di sisi lain, pelaku pasar melepas saham-saham perbankan dan mengalihkan dana ke saham komoditas.
Aksi jual terhadap saham perbankan dipengaruhi oleh ekspektasi Bank Indonesia terhadap level BI rate yang masih akan bergerak naik ke level 9,5% dan nilai rupiah terhadap dolar AS yang bergerak melemah 0,2% ke level Rp9.205/US$ dari level Rp9.180/US$ kemarin. Saham Bank BCA melemah 1,67%, saham Bank Danamon melemah 0,93%, dan saham Bank BRI melemah 0,83%
Saham Bumi Resources (BUMI) bergerak naik Rp400 (8%), PT Tambang batu bara bukit asam (PTBA) naik Rp1.500 (12,35%) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp1.300 (5,71%). Selain oleh faktor oversold, saham-saham batu bara bergerak naik oleh sentimen positif pergerakan harga kontrak minyak untuk bulan September di bursa New York yang bergerak naik ke level $116 per barel atau naik 2,7%. Naiknya harga minyak tersebut juga diikuti oleh naiknya harga kontrak nikel untuk pengiriman tiga bulan mendatang sebesar 7,7% ke level $19.500 per ton. Harga saham International Nickel (INCO) bergerak naik Rp400 (11%) dan saham Aneka Tambang (ANTM) naik Rp60 (3,2%).
Rencana akuisisi PT Tambang batu bara bukit asam sebesar 51% saham atas sebuah perusahaan pertambangan di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki cadangan batu bara sebanyak 45 juta ton, ikut menopang kenaikan harga PTBA sebesar 12,35% ke level Rp13.650.
Dari sektor perkebunan kelapa sawit, saham Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp1.700 (10,62%), London Sumatera (LSIP) naik Rp350 (5,74%), dan Bakrie Sumatera (UNSP) naik Rp90 (8,57%). Harga minyak dunia yang mencatat rebound sebesar 2,7% tersebut ikut mendongkrak harga kontrak CPO di bursa Malaysia untuk pengiriman Oktober sebesar 3,3% ke posisi $790 per ton. Secara teknis, sejak awal Agustus hingga perdagangan rabu kemarin saham AALI telah mengalami koreksi sebesar 24,7% dan indeks RSI saham AALI pada perdagangan rabu menyentuh level terendah yaitu 20 mengindikasikan harga akan kembali bergerak naik.
Saham London Sumatera naik ke level Rp6.450, selain oleh kenaikan harga kontrak CPO, kinerja semester I/2008 PT Perusahaan Perkebunan London Sumatera mencatat kenaikan laba bersih lebih dari tiga kali lipat menjadi sebesar Rp525 miliar.
Kenaikan laba bersih sebesar tiga kali lipat di semester I/2008 juga dicatat oleh emiten perusahaan perkapalan Berlian Laju Tanker (BLTA) yang mencatat laba bersih sebesar Rp1,02 triliun. Saham BLTA ditutup naik Rp40 (2,3%) ke level Rp1.790.
Bursa saham mengalami technical rebound oleh naiknya harga-harga saham unggulan terutama sektor komoditas pertambangan dan perkebunan yang telah oversold sejak awal pekan. IHSG ditutup naik 43,12 poin (2,09%) ke level 2.106,64. Di sisi lain, pelaku pasar melepas saham-saham perbankan dan mengalihkan dana ke saham komoditas.
Aksi jual terhadap saham perbankan dipengaruhi oleh ekspektasi Bank Indonesia terhadap level BI rate yang masih akan bergerak naik ke level 9,5% dan nilai rupiah terhadap dolar AS yang bergerak melemah 0,2% ke level Rp9.205/US$ dari level Rp9.180/US$ kemarin. Saham Bank BCA melemah 1,67%, saham Bank Danamon melemah 0,93%, dan saham Bank BRI melemah 0,83%
Saham Bumi Resources (BUMI) bergerak naik Rp400 (8%), PT Tambang batu bara bukit asam (PTBA) naik Rp1.500 (12,35%) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp1.300 (5,71%). Selain oleh faktor oversold, saham-saham batu bara bergerak naik oleh sentimen positif pergerakan harga kontrak minyak untuk bulan September di bursa New York yang bergerak naik ke level $116 per barel atau naik 2,7%. Naiknya harga minyak tersebut juga diikuti oleh naiknya harga kontrak nikel untuk pengiriman tiga bulan mendatang sebesar 7,7% ke level $19.500 per ton. Harga saham International Nickel (INCO) bergerak naik Rp400 (11%) dan saham Aneka Tambang (ANTM) naik Rp60 (3,2%).
Rencana akuisisi PT Tambang batu bara bukit asam sebesar 51% saham atas sebuah perusahaan pertambangan di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki cadangan batu bara sebanyak 45 juta ton, ikut menopang kenaikan harga PTBA sebesar 12,35% ke level Rp13.650.
Dari sektor perkebunan kelapa sawit, saham Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp1.700 (10,62%), London Sumatera (LSIP) naik Rp350 (5,74%), dan Bakrie Sumatera (UNSP) naik Rp90 (8,57%). Harga minyak dunia yang mencatat rebound sebesar 2,7% tersebut ikut mendongkrak harga kontrak CPO di bursa Malaysia untuk pengiriman Oktober sebesar 3,3% ke posisi $790 per ton. Secara teknis, sejak awal Agustus hingga perdagangan rabu kemarin saham AALI telah mengalami koreksi sebesar 24,7% dan indeks RSI saham AALI pada perdagangan rabu menyentuh level terendah yaitu 20 mengindikasikan harga akan kembali bergerak naik.
Saham London Sumatera naik ke level Rp6.450, selain oleh kenaikan harga kontrak CPO, kinerja semester I/2008 PT Perusahaan Perkebunan London Sumatera mencatat kenaikan laba bersih lebih dari tiga kali lipat menjadi sebesar Rp525 miliar.
Kenaikan laba bersih sebesar tiga kali lipat di semester I/2008 juga dicatat oleh emiten perusahaan perkapalan Berlian Laju Tanker (BLTA) yang mencatat laba bersih sebesar Rp1,02 triliun. Saham BLTA ditutup naik Rp40 (2,3%) ke level Rp1.790.
Kamis, Agustus 14, 2008
Ulasan Pasar 13 Agustus 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
IHSG kemarin ditutup rebound tipis sebesar 5,94 poin (0,29%) ke level 2.063,52.ditopang oleh selective buying pelaku bursa terhadap saham-saham perbankan, meskipun di sisi lain pelaku bursa masih menghindari koleksi saham-saham pertambangan batu bara seiring harga minyak yang masih stabil di level US$113 per barel dan belum menampakkan signal naik.
Harga saham perbankan seperti saham Bank Mandiri naik Rp125 (4,55%), Bank BRI naik Rp250 (4,31%), dan saham Bank BCA naik Rp200 (7,14%). Gubernur Bank Indonesia Boediono kemarin mengatakan inflasi di pertengahan tahun depan akan melambat ke level 6,5%. Level BI rate diprediksi akan berada di bawah level saat ini 9%.
Saham International Nickel (INCO) ikut mendongkrak IHSG dengan sentimen rencana aksi korporasi yang akan membangun pabrik nikel senilai US$1,2 miliar di Sulawesi. Saham INCO naik Rp50 (1,4%) ke level Rp3.625.
Saham Medco Internasional bergerak rebound 2,4% ke level Rp4.275, setelah sehari sebelumnya terkoreksi sebesar 13,02% ke level Rp4.175. Di tengah koreksi harga minyak dunia, Medco Energi Internasional menjajaki opsi dividen khusus senilai US$50 juta atau setara dengan Rp140 per saham, menyusul divestasi tujuh anak perusahaannya hingga akhir tahun ini.
Saham London Sumatera (LSIP) bergerak rebound Rp100 (1,67%) ke level Rp6.100 setelah sejak awal bulan ini terkoreksi 24,05% akibat koreksi harga minyak dunia dan harga CPO di bursa Malaysia. Koreksi tersebut membawa LSIP menyentuh posisi oversold dengan indikator RSI di level 21 ketika harga ditutup pada posisi Rp6.000 (12/8).
Saham Truba Alam Manunggal (TRUB) terkoreksi Rp150 (-22%) ke level Rp530 setelah perusahaan berencana untuk melepas saham baru senilai Rp3,78 triliun untuk membeli perusahaan telekomunikasi. Pelaku pasar merespon negatif rencana tersebut karena berpotensi mengurangi porsi pemegang saham lama (dilusi).
Dari emiten batu bara, harga saham Bumi Resources (BUMI) ditutup tidak berubah dari level penutupan sehari sebelumnya yaitu Rp5.000. Sedangkan saham PT Tambang batu bara bukit asam (PTBA) masih melanjutkan koreksi sebesar Rp150 (-1,22%) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) ditutup turun Rp2.250 (-9%).
IHSG kemarin ditutup rebound tipis sebesar 5,94 poin (0,29%) ke level 2.063,52.ditopang oleh selective buying pelaku bursa terhadap saham-saham perbankan, meskipun di sisi lain pelaku bursa masih menghindari koleksi saham-saham pertambangan batu bara seiring harga minyak yang masih stabil di level US$113 per barel dan belum menampakkan signal naik.
Harga saham perbankan seperti saham Bank Mandiri naik Rp125 (4,55%), Bank BRI naik Rp250 (4,31%), dan saham Bank BCA naik Rp200 (7,14%). Gubernur Bank Indonesia Boediono kemarin mengatakan inflasi di pertengahan tahun depan akan melambat ke level 6,5%. Level BI rate diprediksi akan berada di bawah level saat ini 9%.
Saham International Nickel (INCO) ikut mendongkrak IHSG dengan sentimen rencana aksi korporasi yang akan membangun pabrik nikel senilai US$1,2 miliar di Sulawesi. Saham INCO naik Rp50 (1,4%) ke level Rp3.625.
Saham Medco Internasional bergerak rebound 2,4% ke level Rp4.275, setelah sehari sebelumnya terkoreksi sebesar 13,02% ke level Rp4.175. Di tengah koreksi harga minyak dunia, Medco Energi Internasional menjajaki opsi dividen khusus senilai US$50 juta atau setara dengan Rp140 per saham, menyusul divestasi tujuh anak perusahaannya hingga akhir tahun ini.
Saham London Sumatera (LSIP) bergerak rebound Rp100 (1,67%) ke level Rp6.100 setelah sejak awal bulan ini terkoreksi 24,05% akibat koreksi harga minyak dunia dan harga CPO di bursa Malaysia. Koreksi tersebut membawa LSIP menyentuh posisi oversold dengan indikator RSI di level 21 ketika harga ditutup pada posisi Rp6.000 (12/8).
Saham Truba Alam Manunggal (TRUB) terkoreksi Rp150 (-22%) ke level Rp530 setelah perusahaan berencana untuk melepas saham baru senilai Rp3,78 triliun untuk membeli perusahaan telekomunikasi. Pelaku pasar merespon negatif rencana tersebut karena berpotensi mengurangi porsi pemegang saham lama (dilusi).
Dari emiten batu bara, harga saham Bumi Resources (BUMI) ditutup tidak berubah dari level penutupan sehari sebelumnya yaitu Rp5.000. Sedangkan saham PT Tambang batu bara bukit asam (PTBA) masih melanjutkan koreksi sebesar Rp150 (-1,22%) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) ditutup turun Rp2.250 (-9%).
Rabu, Agustus 13, 2008
Panic Selling tekan indeks saham
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham masih melanjutkan koreksi dengan lebih tajam di penutupan kemarin sebesar 76,34 poin (-3,6%) ke level 2.057,58 dipengaruhi panic selling pelaku pasar (cutloss) yang melepas saham-saham pertambangan khususnya batu bara dan juga saham otomotif Astra Internasional untuk mengurangi margin call sejak awal pekan ini. Saham Telekomunikasi Indonesia juga tidak luput dari aksi jual pelaku pasar merespon kondisi bursa yang tidak menentu, meskipun minyak dunia bergerak melemah ke level $113 per barel dan berpotensi memperlambat laju inflasi dan meningkatkan daya beli masyarakat hingga akhir tahun. Saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) terkoreksi 3,2% ke level Rp7.500 dan saham Astra Internasional (ASII) turun 6,5% ke level Rp20.300 per lembar saham.
Saham Bumi Resources (BUMI) secara teknis telah berada dalam posisi bearish sejak akhir pekan kemarin, berdasarkan indikator Bollinger, semakin tertekan oleh harga minyak dunia yang melanjutkan koreksinya dan berpotensi menekan permintaan dunia untuk komoditas bahan bakar pengganti minyak seperti batu bara. Harga batu bara di Newscastle Port Australia bergerak melemah ke level $156,16 per ton pekan kemarin dan sejak awal Agustus telah terkoreksi 18,54% Harga saham BUMI kemarin melemah Rp150 (-2,91%) ke level Rp5.000, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp400 (-3,15%) ke level Rp12.300, dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp1.600 (-6,02%) ke level Rp25.000.
Koreksi teknis juga terjadi pada emiten kelapa sawit yaitu Astra Agro Lestari (AALI) yang berada di posisi bearish sejak awal bulan ini. Koreksi harga minyak berpotensi menurunkan permintaan CPO untuk pembuatan biofuel. Harga komoditas kelapa sawit di bursa Malaysia turun sebesar 4,1% ke level $770 per ton dari posisi $806 per ton sehari sebelumnya Harga CPO di bursa Malaysia telah melemah sebesar 4% dalam sepekan terakhir sebelum menyentuh level $806 per ton. Harga saham AALI turun Rp1.500 (-8,52%) ke level Rp16.100 dan saham London Sumatera (LSIP) turun Rp250 (-4,00%) ke level Rp6.000.
Harga nikel di bursa London yang terkoreksi 1,1% ke level $17.800 memberikan sentimen negatif bagi saham International Nickel (INCO) yang turun sebesar 7,7% ke level Rp3.575. saham Bayan Resources (BYAN) yang mengawali perdagangannya di bursa selasa kemarin, ditutup terkoreksi 6% ke posisi Rp5.450
Bursa saham masih melanjutkan koreksi dengan lebih tajam di penutupan kemarin sebesar 76,34 poin (-3,6%) ke level 2.057,58 dipengaruhi panic selling pelaku pasar (cutloss) yang melepas saham-saham pertambangan khususnya batu bara dan juga saham otomotif Astra Internasional untuk mengurangi margin call sejak awal pekan ini. Saham Telekomunikasi Indonesia juga tidak luput dari aksi jual pelaku pasar merespon kondisi bursa yang tidak menentu, meskipun minyak dunia bergerak melemah ke level $113 per barel dan berpotensi memperlambat laju inflasi dan meningkatkan daya beli masyarakat hingga akhir tahun. Saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) terkoreksi 3,2% ke level Rp7.500 dan saham Astra Internasional (ASII) turun 6,5% ke level Rp20.300 per lembar saham.
Saham Bumi Resources (BUMI) secara teknis telah berada dalam posisi bearish sejak akhir pekan kemarin, berdasarkan indikator Bollinger, semakin tertekan oleh harga minyak dunia yang melanjutkan koreksinya dan berpotensi menekan permintaan dunia untuk komoditas bahan bakar pengganti minyak seperti batu bara. Harga batu bara di Newscastle Port Australia bergerak melemah ke level $156,16 per ton pekan kemarin dan sejak awal Agustus telah terkoreksi 18,54% Harga saham BUMI kemarin melemah Rp150 (-2,91%) ke level Rp5.000, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp400 (-3,15%) ke level Rp12.300, dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp1.600 (-6,02%) ke level Rp25.000.
Koreksi teknis juga terjadi pada emiten kelapa sawit yaitu Astra Agro Lestari (AALI) yang berada di posisi bearish sejak awal bulan ini. Koreksi harga minyak berpotensi menurunkan permintaan CPO untuk pembuatan biofuel. Harga komoditas kelapa sawit di bursa Malaysia turun sebesar 4,1% ke level $770 per ton dari posisi $806 per ton sehari sebelumnya Harga CPO di bursa Malaysia telah melemah sebesar 4% dalam sepekan terakhir sebelum menyentuh level $806 per ton. Harga saham AALI turun Rp1.500 (-8,52%) ke level Rp16.100 dan saham London Sumatera (LSIP) turun Rp250 (-4,00%) ke level Rp6.000.
Harga nikel di bursa London yang terkoreksi 1,1% ke level $17.800 memberikan sentimen negatif bagi saham International Nickel (INCO) yang turun sebesar 7,7% ke level Rp3.575. saham Bayan Resources (BYAN) yang mengawali perdagangannya di bursa selasa kemarin, ditutup terkoreksi 6% ke posisi Rp5.450
Selasa, Agustus 12, 2008
Ulasan Pasar 11 Agustus 2008
Oleh Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit
Bursa saham melanjutkan bearish hingga penutupan perdagangan di awal pekan ini sebesar 62,01 poin (-2,8%) ke level 2.133,92 tertekan oleh panic selling pelaku bursa merespon harga minyak yang semakin terkoreksi menuju ke level $116 per barel atau melemah $3 per barel dari akhir pekan kemarin.
Faktor lain adalah nilai rupiah yang melemah terhadap dolar AS sebesar Rp100 dalam tiga hari terakhir ke level Rp9.175/US$ mendorong investor asing untuk melepas aset yang berdenominasi rupiah. Di penutupan kemarin, investor asing mencatat netsell sebesar Rp148 miliar. Sektor pertambangan memberikan porsi terbesar dalam pelemahan IHSG kemarin yaitu sebesar 43,25% diikuti oleh sektor keuangan dan perbankan sebesar 11,29%.
Saham Bumi Resources (BUMI) yang secara teknis telah berada dalam posisi bearish dalam tiga hari terakhir, berdasarkan indikator Bollinger, semakin tertekan oleh harga minyak dunia yang melanjutkan koreksinya yang memperbesar peluang turunnya permintaan dunia untuk komoditas bahan bakar pengganti minyak seperti batu bara. Harga batu bara di Newscastle Port Australia bergerak melemah ke level $156,16 per ton pekan kemarin dan sejak awal Agustus telah terkoreksi 18,54% Harga saham BUMI kemarin melemah Rp500 (-8,85%) ke level Rp5.150, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp550 (-4,15%) ke level Rp12.700, dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 (-2,21%) ke level Rp26.600.
Koreksi teknis juga terjadi pada emiten kelapa sawit yaitu Astra Agro Lestari (AALI) yang berada di posisi bearish sejak awal bulan ini. Koreksi harga minyak berpotensi menurunkan permintaan CPO untuk pembuatan biofuel. Harga CPO di bursa Malaysia telah melemah sebesar 4% dalam sepekan terakhir ke level $806 per ton. Harga saham AALI turun Rp900 (-4,86%) ke level Rp17.600 dan saham London Sumatera (LSIP) turun Rp400 (-6,02%) ke level Rp6.250.
Saham Indofood Sukses Makmur (INDF) tertekan Rp75 (-3,61%) ke level Rp2.000 setelah di akhir pekan kemarin, Indofood Sukses Makmur memperkirakan penurunan produksi sebesar 10% tahun ini akibat melemahnya permintaan.
Dari sektor perbankan, saham Bank BRI turun Rp200 (-3,31%) ke level Rp5.850 dan saham Bank Mandiri (BMRI) turun Rp100 (-3,42%) ke level Rp2.825. Nilai rupiah yang melemah terhadap dolar AS akan memperbesar biaya dana pihak ketiga dalam valuta asing khususnya dolar AS.
Bursa saham melanjutkan bearish hingga penutupan perdagangan di awal pekan ini sebesar 62,01 poin (-2,8%) ke level 2.133,92 tertekan oleh panic selling pelaku bursa merespon harga minyak yang semakin terkoreksi menuju ke level $116 per barel atau melemah $3 per barel dari akhir pekan kemarin.
Faktor lain adalah nilai rupiah yang melemah terhadap dolar AS sebesar Rp100 dalam tiga hari terakhir ke level Rp9.175/US$ mendorong investor asing untuk melepas aset yang berdenominasi rupiah. Di penutupan kemarin, investor asing mencatat netsell sebesar Rp148 miliar. Sektor pertambangan memberikan porsi terbesar dalam pelemahan IHSG kemarin yaitu sebesar 43,25% diikuti oleh sektor keuangan dan perbankan sebesar 11,29%.
Saham Bumi Resources (BUMI) yang secara teknis telah berada dalam posisi bearish dalam tiga hari terakhir, berdasarkan indikator Bollinger, semakin tertekan oleh harga minyak dunia yang melanjutkan koreksinya yang memperbesar peluang turunnya permintaan dunia untuk komoditas bahan bakar pengganti minyak seperti batu bara. Harga batu bara di Newscastle Port Australia bergerak melemah ke level $156,16 per ton pekan kemarin dan sejak awal Agustus telah terkoreksi 18,54% Harga saham BUMI kemarin melemah Rp500 (-8,85%) ke level Rp5.150, saham PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) turun Rp550 (-4,15%) ke level Rp12.700, dan saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 (-2,21%) ke level Rp26.600.
Koreksi teknis juga terjadi pada emiten kelapa sawit yaitu Astra Agro Lestari (AALI) yang berada di posisi bearish sejak awal bulan ini. Koreksi harga minyak berpotensi menurunkan permintaan CPO untuk pembuatan biofuel. Harga CPO di bursa Malaysia telah melemah sebesar 4% dalam sepekan terakhir ke level $806 per ton. Harga saham AALI turun Rp900 (-4,86%) ke level Rp17.600 dan saham London Sumatera (LSIP) turun Rp400 (-6,02%) ke level Rp6.250.
Saham Indofood Sukses Makmur (INDF) tertekan Rp75 (-3,61%) ke level Rp2.000 setelah di akhir pekan kemarin, Indofood Sukses Makmur memperkirakan penurunan produksi sebesar 10% tahun ini akibat melemahnya permintaan.
Dari sektor perbankan, saham Bank BRI turun Rp200 (-3,31%) ke level Rp5.850 dan saham Bank Mandiri (BMRI) turun Rp100 (-3,42%) ke level Rp2.825. Nilai rupiah yang melemah terhadap dolar AS akan memperbesar biaya dana pihak ketiga dalam valuta asing khususnya dolar AS.
Langganan:
Postingan (Atom)